A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | R | S | T | U | V | W | Y | Z

Jujur Prananto




Nama :
Jujur Prananto

Lahir :
Salatiga, Jawa Tengah, 30 Juni 1960

Agama :
Islam

Pendidikan :
- SD
- SMP
- SMA di Yogyakarta
- Jurusan Sinematografi Institut Kesenian Jakarta (1984)


Karir :
- Magang di Art Departement Gramedia Film untuk film Badai Pasti Berlalu (1984)
- Magang asisten pencatat skrip untuk film Opera Jakarta arahan Sutradara Sjumandjaja (1985)
- Asisten sutradara untuk film Tjoet Nya' Dhien (1992)
- Menulis sejumlah cerpen; Menulis skenario Rini Tomboy, Kupu-Kupu Kertas , Kado Istimewa, Buku Catatan, Petualangan Sherina, Ada Apa dengan Cinta


Penghargaan :
- Piala Vidia pada Festival Sinetron Indonesia (FSI) 1994 sebagai penulis teleplay terbaik untuk sinetron Parmin - Piala Vidia pada FSI 1998 sebagai penulis cerita serial terbaik untuk sinetron Kupu-Kupu Kertas

Keluarga :
Ayah : Soewandi Ibu : Boedyarti (almarhum) Istri : Sri Wulan Anak : Faiz Awanda

Alamat Rumah :
Jalan Dato Tonggara 30, RT10/RW10, Kramatjati, Jakarta Timur

 

Jujur Prananto


Secara fisik, Jujur Prananto tidak menonjol: berkulit putih, bertubuh pendek. Tapi karya-karyanya berupa cerpen dan skenario film/sinetron cukup menonjol. Cerpennya Kado Istimewa dimuat dalam antologi Cerita Pendek Pilihan Kompas 1991, yang kemudian diadaptasi jadi skenario sinetron. Karyanya yang lain, berjudul Parmin, meraih Piala Vidia untuk bidang teleplay di Festival Sinetron Indonesia 1994. Film Petualangan Sherina dan yang terbaru, Ada Apa dengan Cinta, skenarionya ditulis oleh Jujur.

Skenarionya, Rini Tomboy, diangkat ke layar lebar dengan dibintangi Cornelia Agatha, Adjie Massaid, dan Nunu Datau. Di Festival Film Indonesia 1992, film ini mendapatkan lima nominasi Piala Citra, di antaranya untuk Jujur sebagai nominee Penulis Skenario Terbaik.

Bungsu dari tiga bersaudara ini anak seorang guru SMA di Yogyakarta. Sejak kecil, terutama setelah ibunya meninggal, ia terbiasa mandiri. €œKehidupan kami dulu sangat primitif. Di samping tinggalnya di daerah pinggiran, di rumah tidak ada penerangan listrik. Ini karena Bapak tidak mau pasang listrik,€ tutur Jujur sejujurnya.

Karena kebersahajaan hidup keluarganya, Jujur tumbuh menjadi anak yang minder dan kuper (kurang bergaul), dan itu berlangsung sampai SMA. Untuk mengatasi masalah itu, ia aktif mengelola majalah dinding. Lulus SMA, Jujur masuk Jurusan Sinematografi Institut Kesenian Jakarta, karena ia menyukai hal yang berhubungan dengan seni. Kebetulan, seorang pamannya tinggal di Jakarta, sehingga ia bisa menumpang tinggal di rumah sang paman.

Ia mengaku kelulusannya dari IKJ terlambat, karena kesulitan biaya saat membuat tugas akhir. €œAkhirnya, saya minta bantuan teman. Saya minta dibelikan film 16 mm, dan ada yang bersedia membantu sebagai pemerannya,€ paparnya.

Meskipun ia dibesarkan dalam keluarga guru, Jujur tak pernah berkeinginan menjadi guru atau dosen. Cita-citanya, waktu sekolah dasar, ingin jadi penyanyi €“ yang tak kesampaian. Sebaliknya, ia sukses menjadi cerpenis dan penulis skenario. Kehidupan masa kecilnya kerap mengilhaminya menulis cerpen. Cerpen Parmin, misalnya.

€œYakin dengan kemampuan sendiri,€ itulah moto hidup Jujur. €œKalau saya besar karena orang lain, maka apabila orang tersebut tenggelam, saya pun akan ikut tenggelam,€ ujar penulis yang menyukai gaya cerita yang tidak meledak-ledak ini. Senang pada karya Putu Wijaya dan Arswendo Atmowiloto, sampai-sampai ia pernah meniru habis gaya mereka. Namun, lambat laun ia bisa menemukan gaya sendiri.

Jujur sempat memberi kiatnya menyusun skenario. €œMenulis skenario itu tidak bisa hanya mengandalkan keterampilan membuat dialog, karena hasilnya akan membosankan. Menulis skenario harus membayangkan filmnya akan seperti apa, kemudian baru bisa menggambarkannya.€

Dalam menulis, ia kadang-kadang membutuhkan suasana yang lucu. Penulis skenario Anakku Terlahir Kembali dan Shangrila itu mengaku lebih suka pada kontrak per produksi daripada sistem kejar tayang. Dengan sistem per produkti itulah ia dikontrak Miles Production untuk pembuatan skenario Petualangan Sherina dan Ada Apa dengan Cinta.

Kini hanya sebagai freelancer, Jujur tidak punya pekerjaan tetap dan tidak berkantor. Rutinitas kesehariannya adalah mengantarkan istrinya ke kantor dan anaknya sekolah, setelah itu baru menulis.

Copyright PDAT 2004

comments powered by Disqus

 


JUWONO SUDARSONO | J. SADIMAN | JACKSON ARIEF | JAILANI Naro | JAKOB OETAMA | JAKOB SUMARDJO | JAMES DANANDJAJA | JAMES T. RIADY | JAMIEN A. TAHIR | JANTO WONOSANTOSO | JAYA SUPRANA | JENNY MERCELINA LALOAN (LA ROSE) | JENNY ROSYENI RACHMAN | J.H. HUTASOIT | JIM ABIYASA SUPANGKAT SILAEN | JITZACH ALEXANDER SEREH | JOHANA SUNARTI NASUTION | JOHANNA MASDANI | JOHANNES Adriaan Arnoldus Rumeser | JOHANNES Baptista Sumarlin | JOHANNES Chrisos Tomus Simorangkir | JOHNNY WIDJAJA | JONI P. SOEBANDONO | JOSEPHUS ADISUBRATA | JUDHI KRISTIANTHO SUNARJO | JULIUS TAHIJA | JUSUF PANGLAYKIM (J.E. PANGESTU) | J. Kristiadi | J.B. Kristiadi | Jacob Nuwa Wea | Ja'far Umar Thalib | Jajang C. Noer | JAYA SUPRANA | Jim Supangkat | Joe Kamdani | Johnson Panjaitan | Joko Pinurbo | Jos Luhukay | Juan Felix Tampubolon | Jujur Prananto | Jusuf Kalla | Juwono Sudarsono


Arsip Apa dan Siapa Tempo ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq