
Nama : Jacob Nuwa Wea
Lahir : Flores, Nusa Tenggara Timur, 14 April 1944
Agama : Katolik
Pendidikan : - Sekolah Rakyat (SR) di Flores
- SMP di Ende
- Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) di Mataram
- Sarjana Muda Akademi Perburuhan, Jakarta
Karir : - Ketua Cabang Kesatuan Buruh Marhaenis (1967-1973)
- Ketua Basis Serikat Buruh Makanan dan Minuman Federasi Buruh Seluruh Indonesia (FBSI), (1973-1976)
- Ketua Departemen Kependudukan dan Keluarga Berencana DPP FBSI,
(1980-1985)
- Direktur PT Primacon Jaya Dinamika (1980-1985)
- Ketua DPC PDI Jakarta Timur (1981-1988)
- Anggota MPR RI Fraksi PDI (1987-1989)
- Anggota Departemen Buruh, Tani, dan Nelayan DPP PDI (1993-1998)
- Wakil Bendahara DPP Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI),
(1990-1995)
- Anggota Panitia Penyelesaian Perselisihan Perburuhan Pusat/P4P (1990-2000)
- Asisten Direktur PT Lor Intoserve (1992-1994)
- Manajer Umum dan Personalia PT Cipta Panel Utama (1995-1997)
- Wakil Ketua DPD PDI DKI Jakarta (1996-2000)
- Anggota DPR/MPR RI Fraksi PDIP (1999-2004)
- Ketua Umum DPP FSPSI (2000€“sekarang)
- Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (2001€“sekarang)
Keluarga : Istri : Angelina Julia Ani Amiasih
Anak : Enam orang (tiga laki-laki dan tiga perempuan)
|
|
Jacob Nuwa Wea
Penunjukan Jacob Nuwa Wea sebagai Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi oleh Presiden Megawati dinilai cukup pas. Sejak masih remaja, Jacob memang telah menerjuni organisasi perburuhan. Pada 1967, misalnya, ia tercatat sebagai Ketua Cabang Kesatuan Buruh Marhaenis. Dan sejak itu pula ia menggeluti dunia perburuhan, hingga akhirnya berhasil menjadi Ketua Umum DPP FSPSI pada 2000.
Ketertarikan Jacob pada masalah perburuhan memang bukan tanpa alasan. Katanya, ia sangat prihatin melihat ketidakadilan yang menimpa kaum proletar -- masyarakat yang lemah secara sosial-ekonomi. €œSewaktu kecil, saya makan nasi dengan lauk daging. Sementara orang lain, untuk mendapati nasi saja sangat susah,€ kenang sarjana ekonomi Akademi Perburuhan (Jakarta) ini.
Memang, sebagai anak kepala desa yang cukup berada, Jacob dapat menikmati masa kecil yang berbahagia. Selama rentang usia Jacob dari balita hingga remaja dihabiskan di Flores. Kala itu, ayahnya menginginkan Jacob menjadi insinyur pertanian. Karena itu, selepas sekolah menengah pertanian, Jacob diminta untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi pertanian.
Namun, harapan sang ayah rupaya tinggalah harapan. Merantau ke Surabaya, di Kota Buaya itu Jacob mencoba hidup mandiri. €œWaktu di Surabaya, untuk makan saja, saya harus jual baju,€ katanya. Bosan di Surabaya, Jacob lalu hijrah ke Jakarta pada 1965. Di sini ia banyak terlibat dalam organisasi perburuhan.
Selain itu, ia juga menjadi anggota fanatik Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Pengagum Bung Karno inilah yang ikut andil mengajak Megawati ikut bergabung dengan PDI (kini: PDI Perjuangan). Ia sangat ingin salah seorang putra atau putri Proklamator RI menjadi presiden -- meneruskan jejak sang ayah, Soekarno. Ternyata, cita-citanya itu kini terwujud.
Ya, jabatan Menteri Transmigrasi, yang kini diraih Jacob, boleh jadi cukup hebat. Apalagi, pendidikan formal yang sempat dienyamnya tak terlalu tinggi. Ia cuma menggondol sarjana muda dari Akademi Perburuhan (1978). Setamat kuliah, Jacob sempat pula mengajar di almamaternya €“ yang kini sudah bubar -- untuk mata kuliah sistem pengupahan.
Dengan posisinya sekarang, Jacob menyimpan banyak obsesi. Salah satunya, ia berencana memperbaiki pengelolaan dana Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) yang dinilainya masih belum baik. Harapannya, dengan pengelolaan dana yang baik, ia dapat membangun perumahan bagi buruh. Plus rumah sakit yang bertarif murah. Pokoknya, kata ayah tiga anak laki-laki dan tiga anak perempuan ini, €œJangan ada lagi buruh yang tidur di kolong jembatan dan emper-emper toko.€
|