
Nama : Ja'far Umar Thalib
Lahir : Malang, Jawa Timur, 29 Desember 1961
Agama : Islam
Pendidikan : - SD Erlangga Malang (1974)
- SMP di Malang
- Pendidikan Guru Agama (1981)
- Fakultas Tarbiyah, Universitas Muhammadiyah Malang (tidak tamat)
- Pesantren Persis, Bangil (1983)
- Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Arab (tidak tamat)
- Maududi Institute, Lahore, Pakistan (tidak tamat)
Karir : - Ketua DPP Pelajar Al-Irsyad (1985-1986)
- Pemimpin Pesantren Al-Irsyad Salatiga (1989-1991)
- Pendiri dan Pemimpin Pesantren Ihya'us Sunnah (1993€“sekarang)
- Ketua DPP Forum Komunikasi Ahlus Sunnah wal Jama'ah (2000€“sekarang)
Keluarga : Ayah : Umar Thalib
Ibu : Badriyah Saleh
Istri: 1. Ummu Abdillah
2. Ummu Miqdad
3. Ummu Ashim
4. Atikah
Anak : 1. Amir Thalib
2. Amu Thalib
3. Muhammad Thalib
4. Miqdad Thalib
5. Abdillah Thalib
6. Qonisa Thalib
7. Shuaila Thalib
8. Sunayah Thalib
9. A'la Thalib
Alamat Rumah : Jalan Kaliurang Km 15,5, Pondok Pesantren Ihya'us Sunnah, Desa Degolan, Pos Pakem, Tromol Pos 08 Pkm, Pakem, Sleman, Yogyakarta 55582
Telepon (0274) 895790
Website : www.laskarjihad.or.id
|
|
Ja'far Umar Thalib
PADA bulan Maret 2002, media Amerika The New York Times menyebut Ja'far Umar Thalib sebagai €œUsamah bin Ladin€-nya Indonesia. Kepada majalah TEMPO, ia mengaku terhina dengan tuduhan yang €œkurang ajar€ itu. Katanya, €Saya mengenal betul Usamah. Latar belakang ilmu agamanya nol dan jalan berpikirnya ekstrem€ Kami berpegang pada sunah, sedangkan dia bid'ah. Kami berusaha mempelajari dan memahami ajaran-ajaran Rasulullah, sedang Usamah berusaha memolitisasi ajaran-ajaran itu.€
Panglima Perang Laskar Jihad, yang dikenal sebagai tokoh Islam garis keras, ini memang mengaku antikebijakan politik Amerika €“ tapi tidak antiorang Amerika. Ia juga gemar minum Coca Cola dan makan ayam goreng McDonald's. Ja'far bahkan menyangkal gerakannya ingin mendirikan negara Islam.
Lelaki berkumis dan berjanggut lebat ini banyak menimba pengalaman di Timur Tengah. Ia sempat kuliah di Maududi Institute, Lahore, Pakistan, walau cuma setahun. Lalu ia turut bertempur di pihak gerilyawan Afganistan melawan Uni Soviet, 1987-1989. Pulang ke Tanah Air, Ja'far memimpin Pesantren Al-Irsyad Salatiga. Cuma betah setahun, lalu Ja'far terbang lagi ke Timur Tengah untuk berguru kepada sejumlah ulama salaf, antara lain Syekh Muqbil bin Hadi Al-Wad'i di Dammas, Yaman Utara.
Sepulang dari Timur Tengah, 1993, Ja'far mendirikan Pesantren Ihya'us Sunnah di Yogyakarta. Kegiatannya kala itu memimpin pengajian di pesantrennya, memberikan ceramah dan kajian kitab para ulama salaf di berbagai kota. €œKondisi sosiallah yang mendorong saya memimpin Laskar Jihad Ahlus Sunnah wal Jama'ah,€ tutur Ja'far mengenai aktivitasnya yang terakhir.
Konflik antaragama di Maluku, yang nyaris tidak kunjung selesai, mendorong Ja'far dan murid-muridnya berangkat ke Ambon. Pada 6 April 2000 di Senayan, Jakarta, ia mendeklarasikan Laskar Jihad Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Di Maluku, selain ikut bertempur, laskar sipil ini juga berdakwah dan membuka pos-pos kesehatan.
Lantaran aktivitas di Maluku itu, Ja'far ditangkap polisi di Surabaya dan dibawa ke Mabes Polri, Mei 2001. Ia disangka membangkitkan rasa permusuhan terhadap suatu agama, dan bertanggungjawab atas pelaksanaan hukum rajam terhadap salah satu anggotanya yang berzina. Kasus penangkapan tersebut berbuntut panjang: ribuan pendukungnya berdemo dan melakukan apel akbar. Majelis hakim pada sidang praperadilan di PN Jakarta Selatan membebaskan Ja'far dari hukuman, karena penangkapan atas dirinya dinilai tidak sah.
Bungsu dari delapan bersaudara ini menghabiskan masa kecil di Malang, Jawa Timur. Ayahnya, Umar Thalib, kiai keturunan Yaman-Madura yang aktif di Pesantren Al-Irsyad, Malang, Jawa Timur. Ayahnya menginginkan Ja'far jadi pemimpin agama. Berusaha mendidiknya secara militer, sang ayah tidak segan-segan menghukumnya dengan berat jika Ja'far berbuat salah. Ketahuan membaca majalah yang kebetulan bergambar wanita€”walau memakai jilbab€” ayahnya marah besar. Akibatnya Ja'far dihukum cambuk rotan sampai babak-belur. Ia juga pernah menyaksikan kakak perempuannya hampir digunduli kepalanya gara-gara menerima surat dari seorang lelaki. €œPadahal, Kakak tidak mengenal pria tersebut,€ kenang Ja'far.
Ja'far suatu kali mengeroyok seorang preman bersama teman-temannya. Polisi lalu melaporkan perbuatan mereka ke orangtua masing-masing. Akibatnya, Ja'far dihukum cambuk dengan rotan sampai babak-belur. €œKami melakukannya karena solidaritas kepada teman yang orangtuanya diperas preman,€ papar Ja'far tentang ulah masa remajanya.
Toh Ja'far tetap mengagumi ayahnya. Mengingat saudara Ja'far banyak, ditambah lagi tujuh saudara angkat, ayahnya tidak mampu memberikan makan dengan cukup. Karena itu, setelah mereka selesai makan, ayahnya menyuruh anak-anaknya minum minimal satu gelas, supaya tidak minta tambah nasi. €œHal itulah yang membuat kami kagum pada ayah, sebegitu kasihnya kepada kami,€ kenang Ja'far.
Sikap kritis pada diri Ja'far telah tumbuh sedari dini. €œSejak kecil ayah mengajarkan saya bertanya dan mendebat segala sesuatu. Bahkan ayah memberi permen bila saya berani bertanya dan mendebat,€ ujar Ja'far. Ia juga sangat kukuh mempertahankan pendirian. Saat jadi ketua organisasi siswa intrasekolah di sekolah pendidikan guru agama, ia menekan kepala sekolah agar para siswi diwajibkan memakai jilbab. Protes dengan mogok belajar itu membuahkan hasil: usulnya disetujui.
Studinya sering putus lantaran perbedaan pendapat dengan dosennya. Ketika kuliah di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Arab (LIPIA), ia bertengkar dengan salah satu dosen yang dikritiknya habis-habisan. Ja'far lalu memilih keluar. Oleh Direktur LIPIA, ia disekolahkan ke Maududi Institute, Lahore, Pakistan. Karena ribut dengan salah seorang dosennya yang ditantang berdebat soal hadist, serta mengkritik Khomeini, ia diusir dari Maududi Institute.
Hobinya membaca dan mengoleksi buku tafsir, hadist, tauhid. Ada beberapa tokoh yang menjadi panutannya. Pertama-tama, Nabi Muhammad SAW, kemudian para khulafaurraasidin (khalifah), dan para Sahabat seperti Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qoyyim Al-Jauziah. €œMereka tampil sebagai figur yang lengkap. Sebagai individu, mereka mementingkan kepentingan rakyatnya. Sebagai kepala keluarga, mereka sangat melindungi kepentingan anak-anak dan keluarga. Sebagai guru, mereka sangat mementingkan kader-kadernya,€ kata Ja'far.
|