
Nama : Joko Pinurbo
Lahir : Sukabumi, 11 Mei 1962
Agama : Katolik
Pendidikan : - SD di Pelabuhan Ratu, Jawa Barat
- SMP di Yogyakarta
- SMA Seminari Mertoyudan, Magelang
- IKIP Sanata Dharma, Yogyakarta, 1987
Karir : - Penyair, telah menerbitkan antologi puisi: Di Bawah Kibaran Sarung, Trilogi Celana I, II, III
- Dosen di IKIP Sanata Dharma, Yogyakarta, 1987-1992
- Editor Bank Naskah Gramedia, 1992 - sekarang
Kegiatan Lain : - Volunter di Jurnal Puisi, buletin pendidikan Kuwera, dan buletin seni Halte
- Pengelola Komunitas Senthong Seni Bangun Jiwo, Yogyakarta
- Pegiat Laboratorium Dinamika Edukasi Dasar
Penghargaan : - Pemenang (Juara III) Penghargaan Buku Puisi Terbaik 1998-2000 Dewan Kesenian Jakarta 2001 untuk buku puisi Di Bawah Kibaran Sarung
- SIH Award (Anugerah Jeihan) 2001 untuk trilogi puisi Celana I, II, III sebagai sebagai Jurnal Puisi Terbaik
- Penghargaan Sastra Lontar 2001 untuk buku puisi Celana (penerbit Indonesia Tera)
Alamat Rumah : Jalan Lokananta No. 40, Patangpuluhan, Yogyakarta
Telepon (0274) 378011
|
|
Joko Pinurbo
€œSaya memerlukan kesendirian,€ kata penyair Joko Pinurbo. Kesendirian itu dibutuhkan untuk mengolah ide, yang datangnya sewaktu-waktu, menjadi bait-bait puisi. Di tahun 2001 lalu, puisi yang meluncur dari tangan Jokpin -- panggilan akrab Joko Pinurbo -- telah melambungkan namanya. Itu karena, pada tahun itu, ia menerima tiga penghargaan untuk buku puisi Di Bawah Kibaran Sarung dan trilogi puisi Celana.
Entah karena kesendirian itu atau oleh sebab lain, Jokpin menjadi peka terhadap hal-hal kecil, seperti celana, kamar mandi, atau bagian tubuh manusia, yang dijadikan tema puisinya di tahun-tahun terakhir ini. Semua diungkapkan dengan bahasa sederhana tapi tetap kaya imajinasi. Pada puisi-puisi yang terhimpun dalam antologi Celana I, yang ditulis pada 1996, €œSaya telah menemukan gaya dalam menulis puisi,€ katanya. Dengan penemuan itu ia makin bersemangat untuk terus berkarya.
Sulung dari lima bersaudara ini berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya guru sekolah dasar dan ibunya ibu rumah tangga biasa. Sosok pemalu dan pendiam ini suka menulis sejak sekolah dasar di kota kelahirannya, Sukabumi. Karena orangtuanya tak punya cukup uang untuk membelikan kertas, Joko menulis di awang-awang dengan jarinya.
Lulus SMP Joko melanjutkan ke SMA Mertoyudan, Magelang, dan di sana ia leluasa menyalurkan hobinya membaca, karena perpustakaan sekolah memiliki koleksi yang lengkap. Tergelitik oleh buku-buku yang dibacanya, Joko keranjingan menulis di majalah dinding sekolahnya.
Berkat beasiswa dari berbagai pihak, lulus SMA ia melanjutkan ke IKIP Sanata Dharma (sekarang Universitas Sanata Dharma), Yogyakarta, lulus 1987. Sempat mengajar beberapa tahun di almamaternya sebelum pindah bekerja sebagai editor di bank naskah kelompok Gramedia sampai sekarang.
Joko Pinurbo juga dikenal sebagai seniman yang aktif dalam berbagai diskusi dan pembacaan puisi di berbagai tempat ataupun forum. Misalnya festival puisi internasional
Winternachten Overzee 2001 di Teater Utan Kayu, Jakarta. Pada Januari 2002, ia mengikuti perhelatan sastra di Belanda dan Jerman, antara lain dalam festival Sastra Winternachten di Den Haag. Bersama teman-temannya di Yogya, Joko menggerakkan Komunitas Senthong Seni Bangun Jiwo, yang kegiatannya antara lain menggelar festival selawat, wayang kampung, ketoprak, dan dongeng anak-anak.
Menikah dengan Nuraeni -- teman kuliahnya, yang kini guru SMP -- pada 1989, Joko kemudian menjadi ayah dua anak. €œSaya selalu memberi kesempatan pada anak untuk mengembangkan keinginannya,€ ujarnya. Tapi, ia tidak menginginkan anak-anaknya jadi pengarang.
|