A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | R | S | T | U | V | W | Y | Z

Jim Supangkat




Nama :
Jim Abiyasa Supangkat Silaen

Lahir :
Makassar, Sulawesi Selatan, 2 Mei 1948

Agama :
Protestan

Pendidikan :
Seni Rupa Institut Senirupa Bandung

Keluarga :
Ayah : Supangkat Danusaputro Ibu : Paula Purwa Sudarma Istri : Altje Ully Suminar Hasudungan boru Panjaitan Anak : 1. Ardea Rhem Sikhar 2. Avanti Anggia Sarmaria

Alamat Rumah :
Jalan Kampung Melayu Kecil III No. 17, Jakarta Selatan

 

Jim Supangkat


Nama populernya cuma dua kata dan mudah diingat: Jim Supangkat. Tapi nama lengkapnya cukup panjang, Jim Abiyasa Supangkat Silaen. Supangkat adalah nama bapaknya, sementara Silaen adalah nama adat Batak. Nama yang disebut terakhir, disandang oleh Jim, setelah ia menikahi Altje Ully Suminar Hasudungan pada 1980. €œSulit sekali mendapat nama itu. Saya harus mengikuti upacara adat pembatakan,€ ujar pelukis dan mantan wartawan yang belakangan lebih dikenal sebagai kurator seni rupa itu mengenang pemberian marga Silaen pada dirinya.

Di luar nama bataknya, nama Jim memang sebuah merek tersendiri bagi dunia seni rupa. Lulusan seni rupa ITB inilah yang bisa dikatakan sebagai orang pertama yang mengusung Gerakan Senirupa Baru pada 1970-an, yang merupakan pemberontakan terhadap karya seni rupa saat itu yang kebanyakan dinilainya amatiran. €œKita bosan dengan pernyataan bahwa seni rupa harus mencerminkan kepribadian bangsa,€ kata Jim. Idenya, tentu saja, ditentang banyak perupa kala itu, bahkan berbuntut konflik.

Waktu itu, menurut Jim, inti Gerakan Seni Rupa Baru mengeritik tidak jalannya proses pemaknaan dalam seni rupa Indonesia. Ini karena para seniman lukis lebih banyak bersandar pada apa yang disebut sebagai aura seni tanpa mau tahu pentingnya proses pemaknaannya. €œSampai pada tahun berikutnya saya yang membuktikan proses pemaknaan itu,€ aku Jim. Ide Jim itu, yang bertahun-tahun dicacimaki, belakangan dianggap sebagai hal yang wajar. €œHal yang paling berkesan adalah ketika pikiran saya setelah sekian tahun dipahami orang,€ kata Jim.

Bercita-bercita menjadi pelukis sejak kecil, Jim bisa dikatakan kenyang mengenyam kehidupan kesenirupaan. Ia seperti dilahirkan hanya untuk dunia seni rupa. Ayahnya yang dokter adalah kolektor lukisan, sedang Jim sendiri telah mulai melukis sejak kecil. Mengambil studi seni rupa di ITB, ia lantas bergaul dengan pelukis-pelukis kesohor di Bandung dan Yogyakarta. Sebagai perupa, Jim bisa disebut nyaris komplet. Ken Dedes, karya terakhirnya, dibeli Singapura Art Museum. Lukisan ini sebenarnya ia hasilkan pada tahun 1975. Tapi ketika dibeli pada 1990, ia melakukan restorasi. €œAda perasaan exciting sekali ketika saya mengerjakan karya itu,€ kenang Jim yang mengaku mewarisi darah seni dari paman dan kakeknya.

Jika kemudian dia lebih memilih hidup sebagai kritikus dan kurator, itu juga lebih banyak didorong oleh kecintaannya pada dunia seni rupa. Begitu cintanya, sampai ia pun rela melepas jabatan Redaktur Pelaksana di TEMPO. Padahal, selangkah lagi, jabatan itu bisa mengantarnya menduduki posisi puncak di majalah berita mingguan tersebut. Ketika itu, banyak koleganya menganggap keputusan yang diambilnya sebagai langkah gila. €œSaya meninggalkan kapal besar untuk suatu pekerjaan yang dianggap orang tidak berguna. Tapi apa pun, saya merasa harus kembali ke seni rupa,€ ujarnya.

Kurator, menurut Jim, adalah orang yang bertugas memaknai. Mereka inilah yang membaca dan melengkapi dengan teori supaya bisa memverbalkan nilai-nilai kesenian. Intinya, jika seniman berkarya, kurator yang menggali nilainya. Memang, bisa saja seniman memaknai, tapi Jim menilai, itu hanya menjadi unsur keyakinan si seniman itu sendiri. Maka supaya bisa diterima sebagai nilai oleh orang lain, maka harus ada pembacaan dari luar dan itulah tugas kurator €œSaya kira secara umum, teoritikus seni rupa, sejarawan seni rupa, kritikus, kurator, berada pada proses pemaknaan. Sebab, lukisan itu secara benda hanya cat dan kanvas saja,€ jelasnya.

Jim sadar, dari pekerjaan selaku kurator, apalagi yang independen, tak banyak penghasilan yang bisa diharapkan. €œSering juga saya tidak mengerti kenapa sampai sekarang tetap bisa hidup meskipun tidak ada institusi yang menaungi saya. Pokoknya ada saja uang,€ aku Jim. Ia pun tak punya kantor, kecuali rumahnya di Kampung Melayu yang ditempatinya sejak 1983. Rumah inilah yang menjadi markasnya menerima banyak tamu, termasuk pertemuan para kurator dari manca negara. €œPernah ketika pertemuan kurator Asia Pasifik, kondisi sedang hujan dan rumah bocor, sehingga para kurator harus kerja bakti dahulu sebelum rapat,€ kata Jim.

Tapi dari rumah bocor itu pula nama Jim makin dikenal. Sebuah yayasan di Amerika Serikat bahkan mempercayainya mengelola Art Space di Washington DC, sejak 2001. Komplek seni rupa yang terletak tiga blok di samping Gedung Putih itu direncanakan menjadi tempat promosi perupa Indonesia. Kegiatannya pun makin bertambah.

Selain sibuk menyiapkan kurasi pameran untuk Art Space, lelaki yang mengikuti naluri rasa sayang dalam mendidik anak-anaknya ini sekarang bolak-balik Jakarta-Bandung. Di Kota Kembang, perupa brengosan ini tengah sibuk mengkader kurator-kurator muda. €Saya optimistis dengan generasi baru ini. Mereka telah mendalami teori sejak bangku kuliah,€ ujarnya ketika mengomentari mulai munculnya beberapa kurator muda.

Obsesinya hanya satu: menjadikan kesenian, khususnya seni rupa, penyambung tradisi intelekual dan penyebar wacana. Menurutnya, hanya senimanlah yang masih punya tradisi intelekual dan wacana, apalagi di tengah masyarakat yang sakit seperti sekarang. €œSaat ini saya melihat masyarakat kehilangan tradisi intelektualnya, tidak punya tradisi berpikir dan berwacana,€ kata ayah dua anak ini.


Copyright PDAT 2004

comments powered by Disqus

 


JUWONO SUDARSONO | J. SADIMAN | JACKSON ARIEF | JAILANI Naro | JAKOB OETAMA | JAKOB SUMARDJO | JAMES DANANDJAJA | JAMES T. RIADY | JAMIEN A. TAHIR | JANTO WONOSANTOSO | JAYA SUPRANA | JENNY MERCELINA LALOAN (LA ROSE) | JENNY ROSYENI RACHMAN | J.H. HUTASOIT | JIM ABIYASA SUPANGKAT SILAEN | JITZACH ALEXANDER SEREH | JOHANA SUNARTI NASUTION | JOHANNA MASDANI | JOHANNES Adriaan Arnoldus Rumeser | JOHANNES Baptista Sumarlin | JOHANNES Chrisos Tomus Simorangkir | JOHNNY WIDJAJA | JONI P. SOEBANDONO | JOSEPHUS ADISUBRATA | JUDHI KRISTIANTHO SUNARJO | JULIUS TAHIJA | JUSUF PANGLAYKIM (J.E. PANGESTU) | J. Kristiadi | J.B. Kristiadi | Jacob Nuwa Wea | Ja'far Umar Thalib | Jajang C. Noer | JAYA SUPRANA | Jim Supangkat | Joe Kamdani | Johnson Panjaitan | Joko Pinurbo | Jos Luhukay | Juan Felix Tampubolon | Jujur Prananto | Jusuf Kalla | Juwono Sudarsono


Arsip Apa dan Siapa Tempo ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq