
Nama : JOHNNY WIDJAJA
Lahir : Jakarta, 30 Maret 1934
Agama : Katolik
Pendidikan : - SD Katolik, Jakarta (1947)
- SLP Kanisius, Jakarta (1950)
- SLA Kanisius, Jakarta (1953)
- Economics-Gemeente Universiteit, Amsterdam (1958)
- The Advanced Management Program Harvard Business School, Boston, AS (1974)
Karir : - Komisaris Utama PT Tigaraksa (1965 -- sekarang)
- Komisaris Utama PT Sari Husada di Yogya (1983 -- sekarang)
- Direktur PT Johnson & Johnson Indonesia (1973 -- sekarang)
- Dirut PT Sugizindo (1982 -- sekarang)
- Dirut PT Menara Duta (1982 -- sekarang)
- Dirut PT Hiu Permai (1981 -- sekarang)
- Dirut PT Lumba-Lumba Permai (1984 -- sekarang)
- Direktur PT Raptim (1976 -- sekarang)
Kegiatan Lain : - Aktif di Ekonid (Perkumpulan Ekonomi Indonesia-Jerman), Rotary Club Menteng dan INA (Indonesisch Nederlandse Associatie)
Alamat Rumah : Jalan Raya Ragunan, Jakarta Selatan Telp: 782696
Alamat Kantor : PT Tigaraksa Jalan H.R. Rasuna Said, Kapling Bw3, Jakarta Selatan Gedung Tira Lantai VI Telp: 515563
|
|
JOHNNY WIDJAJA
Alkisah, tersebutlah seorang Cina keturunan Fukien, Oey Tai Po yang pada awal abad ke-19, tiba di Pulau Jawa. Berkeliling mengedarkan minyak tanah, hidupnya susah, sampai saat ia "menemukan" sepeti uang.
Ceritanya -- seperti dituturkan Johnny Widjaja, generasi kelimanya -- Tai Po sedang berkeliling di sebuah desa di Jawa Tengah, ketika ia melihat seorang anak gembala bermain-main dengan uang kertas baru. Itulah uang kertas pertama VOC di Hindia Belanda, yang dikirim dulu ke mana-mana sebelum diedarkan. Seorang pengedar, serdadu Kompeni, yang membawa sepeti besar uang, dibunuh penduduk. Karena mereka tidak menemukan emas yang dicari, "kertas" yang nilainya belum mereka ketahui itu ikut dikuburkan. Itulah yang kemudian ditemukan oleh si anak gembala.
Oey Tai Po langsung membeli semua uang kertas itu dengan uang logam yang sudah dikenal penduduk. Tentu dengan harga sangat murah. Pergi ke Betawi, Jakarta sekarang, ia membeli tiga toko sederetan. "Namanya Toko Tiga, terletak di Pintu Kecil," tutur Johnny.
Karier Johnny Widjaja sendiri tidak kalah menariknya. Lahir di Jakarta, anak keenam dari tujuh bersaudara ini sudah "berdagang" pada usia 8 -- menjual layang-layang kepada sesama teman. Pada usia 15, ia menolak uang saku dari ayahnya, karena memiliki penghasilan sendiri dari catut-mencatut. Namun, sekolahnya tidak telantar. Johnny lulusan Economics-Gemeente Universiteit, Amsterdam, dan mendalami manajemen di Harvard, AS.Masih kuliah, Johnny sudah mendirikan NV Incoga di Amsterdam. Usaha ini seret di tengah suasana sengketa IndonesiawBelanda tentang masalah Irian Barat. Johnny lalu beralih ke Jerman Barat, berdagang kacang dan menyuplai restoran Cina. Tetapi, hanya usaha terakhir itu yang sukses. Pulang ke Indonesia pada 1964, ia mengambil alih pengelolaan Tiga Raksa, perusahaan milik ayahnya.
Berkantor di Gedung Tira yang berlantai enam, di Jalan Rasuna Said, Jakarta, Johnny Widjaja kini sedikitnya membawahkan selusin perusahaan. Pada 1982 saja, aset grup perusahaannya tercatat Rp 63,714 milyar, dengan omset Rp 91,473 milyar. PT Tiga Raksa sendiri, di samping sebagai holding company, juga memiliki operasi dagang sendiri. Yang lainnya, PMA ataupun PMDN, bergerak di bidang farmasi, perlengkapan bayi, pakaian jadi, pemasaran alat teknik, agen tunggal radio-tv, sampai ke bahan pewarna dan wewangian. Grup ini menampung 2.350 karyawan.
Johnny menganggap Pajak Pertambahan Nilai (PPN) diperlukan untuk perbaikan ekonomi Indonesia. Sayang, katanya, peraturan itu tidak diberlakukan sejak 1980. "Sekarang, pasaran lesu, daya beli tidak ada, ditambah PPN lagi. Sedangkan kenaikan harga barang tidak seimbang dengan kenaikan gaji," ia menambahkan.
Johnny menyenangi golf, ski air, dan tenis. Seminggu sekali ia menyelam di Pulau Seribu, Teluk Jakarta. Istrinya, Martina, memiliki bisnis sendiri. Ibu dua anak perempuan itu Direktur PT Cipta Mustika.
|