A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | R | S | T | U | V | W | Y | Z

Jajang C. Noer




Nama :
Lidia Djunita Pamontjak

Lahir :
Paris, Prancis, 28 Juni 1952

Agama :
Islam

Pendidikan :
- SD Assumtion Convent, Manila, Filipina (1965)
- SMP Santa Theresia Jakarta (1967)
- SMA Santa Theresia Jakarta (1971)
- FISIP UI Jakarta (tidak selesai)


Karir :
- Anggota Teater Ketjil
- Bermain dalam film Bibir Mer (1992); Nama Saya Selasih (1994); Eliana, Eliana (2002)
- Menyutradarai sinetron Bukan Perempuan Biasa (10 episode 1997); Ibu (12 episode, 2001); film televisi Tidak Semua Laki-Laki (2002); film televisi Temani Aku, Cinta (2002)
- Menyutradarai Vagina Monolog (2002)


Penghargaan :
- Piala Citra sebagai Pemeran Pembantu Wanita Terbaik FFI 1992 dalam Bibir Mer arahan Arifin C. Noer - Aktris Terbaik pada Festival Sinema Asia 2002 di India, atas perannya dalam film Eliana, Eliana

Keluarga :
Ayah : Nazir Dt. Pamontjak (alm). Ibu : Nini Karim (alm.) Suami : Arifin C. Noer (alm.) Anak : 1. Nitta Nasyra C. Noer 2. Marah Laut C. Noer

Alamat Rumah :
Jalan H. Saidi Guru No. 1-B, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan Telepon (021) 72798506, 7200326

 

Jajang C. Noer


€œOrangtua saya memanggil saya €œsayang€, akhirnya saya menyebut diri saya sendiri Yayang (ditulis Jajang),€ tutur sutradara dan pemain film bernama asli Lidia Djunita Pamontjak ini. Di sekolah pun, baik sewaktu di Filipina maupun di Jakarta, teman dan guru-gurunya memanggilnya Yayang. Tapi, di rapor, paspor, SIM, rekening bank, yang diterakan nama asli. Setelah menikah dengan sutradara kondang Arifin C. Noer, pada 1978, nama yang tertulis di KTP: Jajang C. Noer. Huruf €œC€ singkatan dari Chairin.

Bermacam-macam nama itu pernah bikin bingung pegawai bank. Suatu ketika, Jajang mencairkan cek yang tertulis nama Jajang C. Noer, sementara di KTP tertulis Lidia C. Noer. Pegawai bank sampai bingung, dan hampir menolak. €œTerpaksa gua sombong. Gua bilang, 'Anda tahu kan siapa saya?' 'Ya tahu,' kata petugas bank,€ cerita Jajang. Akhirnya cek itu cair juga.

Sejak berusia lima tahun, putri tunggal Nazir Dt. Pamontjak€”duta besar Indonesia untuk Prancis yang pertama (kini sudah almarhum)€”ini sudah berkenalan dengan kesenian. Di Manila, sewaktu ayahnya jadi dubes untuk Filipina, Jajang kecil suka menari tari payung, tari piring, dan sesekali tampil mewakili Indonesia. Waktu SMA, ia suka menonton teater dan belajar gamelan (walau tidak lama), serta ikut drum band dan turut menyambut kedatangan Paus Paulus Yohanes VI di Senayan, Jakarta.

Lulus SMA, Jajang sempat kuliah di Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial UI€”dan pernah pula jadi demonstran Malari 1974. Mulai memasuki teater pada 1972, ia menjadi anggota Teater Ketjil pimpinan Arifin C. Noer. Meski dapat peran kecil-kecilan, pada usia 20 tahun ia sudah tampil di panggung. Ketika Arifin membuat film Suci Sang Primadona, 1977, ia kebagian sebagai pencatat skrip. Setelah diikutkan main di sejumlah film, ia dapat peran berarti di film Bibir Mer, yang mengantarkannya meraih Piala Citra sebagai Pemeran Pembantu Terbaik pada Festival Film Indonesia 1992.

Menjadi sutradara, sebelumnya, tak pernah terpikirkan. €œBoro-boro punya cita-cita jadi sutradara, mikirin aja enggak,€ kata kelahiran Paris, Prancis, itu. Bahkan belajar penyutradaran secara informal saja, tidak. €œKalau Mas Arifin sedang memberi masukan kepada banyak orang, gua enggak pernah dengerin dan enggak tertarik sama sekali,€ ujarnya lagi.

Tetapi, setelah suaminya meninggal, ia dengan terpaksa menjadi sutradara. Arifin C. Noer berpulang meninggalkan warisan berupa naskah sinetron Bukan Perempuan Biasa yang baru diproduksi tujuh episode. Setelah mendapat rekomendasi dari penulis naskah Ahmad Yusuf, Jajang melanjutkan proyek tersebut. Pada FSI 1997, sinetron yang dibintangi Christine Hakim itu meraih Piala Vidia sebagai drama seri terbaik. Sejak itu ia kerap dapat order menyutradarai sinetron dan film televisi (FTV). Terakhir ia menyutradarai pementasan lakon Vagina Monolog di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada 8 Maret lalu.

€œJujur pada diri sendiri.€ Itu prinsip hidupnya, juga dalam menjalani karir Jajang. €œPercaya pada diri sendiri, apa pun risikonya, kesulitannya, dan konsekuensinya,€ ia menambahkan.

Jajang hobi membaca. €œItu yang membuat saya cerah,€ katanya. Untuk memanjakan hobi tersebut, selain penguasaan bahasa Belanda dan Inggris, Jajang menjadi anggota perpustakaan British Council. Dan, di rumahnya yang juga merangkap sanggar seluas 400 meter persegi ia punya perpustakaan pribadi. Di sanggar itu pula, ia ingin membuat kolam renang. Kalau ada waktu luang, Jajang memilih tidur daripada ke mana-mana, karena kalau sedang kerja ia sering €œlupa€ tidur.

Jajang kini tidak merokok lagi, setelah sekian lama, sejak SMP, tubuhnya digerogoti nikotin sampai batuk berat. Pun wanita dengan hiasan tato di beberapa bagian tubuhnya ini tidak lagi minum minuman keras.

Dalam mendidik anak-anaknya, ibu dua anak yang sampai saat ini masih menjanda itu berusaha menanamkan persamaan derajat antara laki-laki dan perempuan. €œNamun, saya mengajarkan sikap hormat kepada yang lebih tua,€ kata Jajang.

Copyright PDAT 2004

comments powered by Disqus

 


JUWONO SUDARSONO | J. SADIMAN | JACKSON ARIEF | JAILANI Naro | JAKOB OETAMA | JAKOB SUMARDJO | JAMES DANANDJAJA | JAMES T. RIADY | JAMIEN A. TAHIR | JANTO WONOSANTOSO | JAYA SUPRANA | JENNY MERCELINA LALOAN (LA ROSE) | JENNY ROSYENI RACHMAN | J.H. HUTASOIT | JIM ABIYASA SUPANGKAT SILAEN | JITZACH ALEXANDER SEREH | JOHANA SUNARTI NASUTION | JOHANNA MASDANI | JOHANNES Adriaan Arnoldus Rumeser | JOHANNES Baptista Sumarlin | JOHANNES Chrisos Tomus Simorangkir | JOHNNY WIDJAJA | JONI P. SOEBANDONO | JOSEPHUS ADISUBRATA | JUDHI KRISTIANTHO SUNARJO | JULIUS TAHIJA | JUSUF PANGLAYKIM (J.E. PANGESTU) | J. Kristiadi | J.B. Kristiadi | Jacob Nuwa Wea | Ja'far Umar Thalib | Jajang C. Noer | JAYA SUPRANA | Jim Supangkat | Joe Kamdani | Johnson Panjaitan | Joko Pinurbo | Jos Luhukay | Juan Felix Tampubolon | Jujur Prananto | Jusuf Kalla | Juwono Sudarsono


Arsip Apa dan Siapa Tempo ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq