A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | R | S | T | U | V | W | Y | Z

Juan Felix Tampubolon




Nama :
Juan Felix Tampubolon

Lahir :
Bangka, Bangka-Belitung, 26 April 1956

Agama :
Katolik

Pendidikan :
Fakultas Hukum Universitas Jayabaya, Jakarta

Karir :
Pengacara

Keluarga :
Istri : Iis Felix Tampubolon Anak : 1. Bara Juang Perdamaian Tampubolon 2. Maruli Ario Tampubolon.

Alamat Kantor :
Jalan Tulodong Atas, Jakarta Selatan

 

Juan Felix Tampubolon


Juan Felix Tampubolon sontak menjadi selibriti. Banyak perempuan terpesona oleh ketampanan, kepintaran dan kesantunannya ketika jadi pembela Keluarga Cendana. Dan ia cukup berhasil menghentikan proses pengadilan Soeharto €“ yang diduga melakukan korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan di masa Orde Baru. Lalu selaku anggota tim pembela Tommy Soeharto, ia juga sukses membuat kliennya ini hanya dihukum 15 tahun penjara -- yang oleh Majelis Hakim dianggap terbukti merencanakan pembunuhan Hakim Agung M. Syafiuddin Kartasasmita dan pengusaan senjata api secara tidak sah. Padahal, menjadi pengacara bukan cita-cita masa remaja Juan. Ia berkinginan menjadi pastor, karena pengaruh lingkungan keluarga dan terkesan oleh kehidupan gereja. €œBertahun-tahun saya menggebu-gebu ingin sekali jadi pastor,€ tutur pria Juan. Ia bahkan saat remaja pernah menjadi pembantu pastor di gereja.

Namun gara-gara orangtuanya mengalami perkara perdata pada 1970-an, Juan Felix masuk Fakultas Hukum Universitas Jayabaya, Jakarta. Saat itu, orangtuanya merasa dirugikan oleh pihak ketiga. Ini membuatnya tertarik pada hukum dan turut membantu menyelesaikan perkara tersebut. €œJadi, betul-betul saya pindah jurusan, ambil hukum karena faktor itu,€ katanya.

Selama kuliah, ia sengaja melepaskan diri dari tanggung jawab orangtuanya. Juan pun bekerja di sebuah perusahaan asing agar dapat membayar uang kuliah dan membiayai hidupnya. Karena konsentrasinya terbagi antara sekolah dan kerja, kuliahnya di Jayabaya sampai mulur delapan tahun. Soalnya, ia juga mendapat tugas belajar dari perusahaannya, selain magang di sebuah firma hukum. Nah, waktu bekerja di perusahaan asing itulah, ia membantu menangani kasus pemutusan hubungan kerja yang menimpa sekitar 60 karyawan. €œSaya tangani kasus itu sampai selesai,€ ujarnya. Ini pengalaman yang mengesankan baginya.

Juan Felix pernah bergabung dengan Kantor Advokat Maruli Simorangkir dan Haryono Tjitrosubono. Ketika Bambang Trihatmodjo menghadapi masalah hukum, ia sering dimintai bantuannya. Juga menjadi konsultan hukum masalah PT Rejosari Bumi milik kakaknya, Sigit Harjoyudanto. Setelah Soeharto turun dari jabatannya, ia sudah menjadi konsultan pribadinya menyangkut masalah-masalah hukum secara umum. Namanya pun melambung kala menjadi koordinator penasihat hukum mantan orang nomor satu Indonesia ini. €œSaya bangga menjadi penasihat hukum beliau, karena saya bisa menjadi bagian dari sejarah,€ ujarnya. Ini juga pengalaman yang paling mengesankan bagi lelaki keturunan Batak yang lahir di Bangka itu.

Sebagai pengacara, Juan tak luput dari ancaman teror. Saat menangani kasus korban penggusuran tanah dan bangunan di Cengkareng atau di Tanjungpriok, ia pernah terancam todongan senjata. Bahkan tembakan senjata api pernah diledakkan di dekat telinganya, untuk menakut-nakutinya. Apalagi saat membela kasus mantan Presiden Soeharto, dari ancaman lewat telepon, pencegatan di jalan, penggedoran mobilnya, sampai beberapa kali rumahnya disatroni orang-orang tak dikenal.

Menghadapi ancaman itu, penyandang Dan IV Taekwondo dan Dan II Karate ini tak mau melayani. Tetapi ia selalu berusaha menghindar, mengingat kaitannya dengan kasus yang sedang ia tangani, katanya. Bahkan, anak-anaknya sering diejek, karena ayahnya penjadi penasihat hukum Soeharto. €œSaya kasih pengertian bahwa pekerjaan yang saya lakukan ini profesional,€ ujar Juan. €œKalau secara hukum kita disumpah sebagai advokat dan memegang teguh kode etik sebagai advokat, maka kita harus lakukan (pembelaan) itu,€ tambahnya. Seperti halnya seorang dokter, menurut dia, advokat pun tidak boleh menolak klien.

Pengacara kondang ini sangat sibuk. Tapi ayah dua anak itu tetap meluangkan waktu untuk berkomunikasi dengan keduanya. €œBegitu ada waktu dengan mereka, saya main musik karena kita bisa dialog dengan main musik,€ ujar pria yang hobi main musik ini.

Laki-laki yang dulu bertubuh gempal ini hobi sepakbola dan beladiri. Pernah ia menjadi pelatih karate dan taekwondo di Kostrad, Yon 328, Bea Cukai, dan Imigrasi. Kini ia suka joging dan balap sepeda. Untuk mengatur hobi dan kesibukannya, ia sering membawa saksofon ke mana pun ia pergi. €œKadang kalau jalanan lagi macet, saya main saksofon di mobil,€ tuturnya.

Tokoh yang menjadi idola adalah ayahnya sendiri, Gajah Tampubolon, insinyur pertambangan yang pernah menjadi pemain bola di tim Belanda PSV sewaktu ia sekolah di sana. €œBanyak hal dari ayah saya yang saya tiru,€ ujarnya. €œSaya ingin menutup karir saya sebagai pengajar,€ ia menuturkan obsesinya. Tidak ingin jadi bintang sinetron seperti rekannya Ruhut Sitompul? Ia khawatir sinetronnya malah tak laku, katanya

Copyright PDAT 2004

comments powered by Disqus

 


JUWONO SUDARSONO | J. SADIMAN | JACKSON ARIEF | JAILANI Naro | JAKOB OETAMA | JAKOB SUMARDJO | JAMES DANANDJAJA | JAMES T. RIADY | JAMIEN A. TAHIR | JANTO WONOSANTOSO | JAYA SUPRANA | JENNY MERCELINA LALOAN (LA ROSE) | JENNY ROSYENI RACHMAN | J.H. HUTASOIT | JIM ABIYASA SUPANGKAT SILAEN | JITZACH ALEXANDER SEREH | JOHANA SUNARTI NASUTION | JOHANNA MASDANI | JOHANNES Adriaan Arnoldus Rumeser | JOHANNES Baptista Sumarlin | JOHANNES Chrisos Tomus Simorangkir | JOHNNY WIDJAJA | JONI P. SOEBANDONO | JOSEPHUS ADISUBRATA | JUDHI KRISTIANTHO SUNARJO | JULIUS TAHIJA | JUSUF PANGLAYKIM (J.E. PANGESTU) | J. Kristiadi | J.B. Kristiadi | Jacob Nuwa Wea | Ja'far Umar Thalib | Jajang C. Noer | JAYA SUPRANA | Jim Supangkat | Joe Kamdani | Johnson Panjaitan | Joko Pinurbo | Jos Luhukay | Juan Felix Tampubolon | Jujur Prananto | Jusuf Kalla | Juwono Sudarsono


Arsip Apa dan Siapa Tempo ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq