A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | R | S | T | U | V | W | Y | Z

KARKONO Partokusumo alias Kamajaya




Nama :
KARKONO Partokusumo alias Kamajaya

Lahir :
Sumberlawang, Sragen, Jawa Tengah, 23 November 1915

Agama :
Islam

Pendidikan :
- Neutrale Holands Inlandse Jongensschool, Solo (1931)
- Gouvernements MULO di Solo (1933)
- Taman Guru Taman Siswa di Yogyakarta (1935)


Karir :
- Koresponden harian Utusan Indonesia, Sedya Tama, Panyebar Semangat, OL Mij Boemipoetera, Sara Moerti (1935-1936)
- Redaktur majalah Poestaka Timoer, Wakil Pemred majalah Moestika dan lain-lain (1938-1945)
- Pengusaha toko Kotagede (1948-1972)
- Presiden Direktur PT Usaha Penerbitan Indonesia, Yogyakarta (1950 -- sekarang) Kegiatan lain: Wakil Ketua Yayasan Ilmu Pengetahuan "Panunggalan", Lembaga Javanologi Yogyakarta


Karya :
- Antara lain: Kagunan Djawi, Kolff Buning, Yogyakarta (1940)
- Solo di waktu Malam, Gapura, Jakarta (1950)
- Pendidikan Nasional Pancasila, U.P. Indonesia, Yogyakarta (1965)
- Sum Kuning, U.P. Indonesia, Yogyakarta (1972)
- Saijah Adinda, terjemahan bebas buku Max Havelaar (Multatuli), U.P. Indonesia, Yogyakarta (1977)


Alamat Rumah :
Jalan Dr. Sutomo 9, Yogyakarta Telp: 3010

Alamat Kantor :
Jalan Sultan Agung 57, Yogyakarta

 

KARKONO Partokusumo alias Kamajaya


Banyak orang mengenal ia sebagai "Kamajaya", nama yang selalu dipakainya untuk karya tulisnya, baik berupa buku, artikel, cerita fiksi, maupun esei. Kamajaya, yang aslinya bernama Karkono Partokusumo, sudah menulis lebih dari 30 judul buku. Di antaranya: Solo di Waktu Malam (novel, 1950), dan Nagalinglung Tunggulwulung (1980). Ia juga melakukan transliterasi (melatinkan) Serat Centhini dari huruf Jawa (enam jilid, 1975-1982). Semacam ensiklopedi khazanah pengetahuan Jawa ia garap pula, bernama Almanak Dewi Sri (terbit tiap tahun sejak 1971).

Setalah peristiwa perkosaan Sum Kuning di Yogya, tahun 1970, ia menerbitkan buku Sum Kuning bersama dengan tim pembela dan wartawan Pelopor Yogya yang kini bekerja di majalah Tempo, Slamet Djabarudi.

Karkono sudah kondang sebagai ahli kebudayaan Jawa yang mumpuni. Sudah sejak 1950-an ia aktif, misalnya pada 1957-1958 menjadi Ketua Yayasan Bahasa dan Kesusastraan Jawa di Yogya. Lalu sejak 1963, ia penasihat Organisasi Pengarang Sanstra Jawa (OPSJ). Dalam Yayasan Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan "Panunggalan", Lembaga Javanologi Yogyakarta, Karkono masuk dalam daftar para pendiri, dan sejak 1984 menjadi wakil ketua.Kecintaan Karkono pada filsafat dan kebudayaan Jawa sudah mulai tumbuh ketika ia masih kanak-kanak. Ayahnya, Partosentono, seorang pedagang palawija asal Klaten (Jawa Tengah), sering kedatangan teman sejawatnya untuk melakukan pembacaan kitab-kitab Jawa. "Sebagai anak kecil, waktu itu, saya sering tiduran di balik punggung ayah saya, sambil mendengarkan pembacaan itu," tutur Karkono.

Pada kesempatan yang berbeda, ibunya, yang sehari-harinya berdagang batik, sering melagukan tembang-tembang klasik dari khazanah ajaran Wedhatama, Wulangreh, dan semacamnya. "Ibu banyak mengajari saya menyenandungkan tembang-tembang itu," katanya.

Tumbuh dalam suasana yang diliputi kesenian adiluhung, Karkono -- anak ketiga dengan lima saudara -- tidak lantas terbuai. Pada masa perjuangan kemerdekaan, tepatnya 1948, ia ikut bergerak. "Saya telah kontrak mati," katanya. Yang dilakukannya adalah dengan speedboat 80 ton dari Popoh (Kediri Selatan) menyelundupkan candu ke Singapura, dalam rangka mencari dana. "Pulang ke Jakarta, menyelundup lagi sebagai penumpang gelap kapal Belanda Boissevain," tuturnya.

Jauh sebelum itu, 1936, Karkono, waktu itu anggota Perdi (Persatuan Djurnalis Indonesia), sempat diadili Pengadilan Surakarta, gara-gara tulisannya yang terlalu keras di harian Sedya Tama. Ia divonis 3 bulan penjara atau denda 100 gulden. Denda dibayar oleh media tempat ia menulis. Namun, ia juga diperintahkan meninggalkan wilayah Mangkunegaran oleh Sri Mangkunegara VII. "Tapi keputusan itu tidak pernah dilaksanakan," kata Karkono.

Karkono menikah dengan Sri Murtiningsih, 10 Maret 1969, dianugerahi seorang anak.

Copyright PDAT 2004

comments powered by Disqus

 


KAMARDY ARIEF | KARDJONO WIRIOPRAWIRO | KARDONO | KARKONO Partokusumo alias Kamajaya | KARLINA UMAR WIRAHADIKUSUMAH | KARNO BARKAH | KARTINI MULYADI | KASINO HADIWIBOWO | KEMALA MOTIK | K.H. HAMAM JA'FAR | K.H. MOHAMAD ACHMAD SIDDIQ | K.H. MUKTI ALI | K.H. RADEN AS'AD SYAMSULARIFIN | K.H. SHOLEH ISKANDAR | K.H. TOHIR WIJAYA | KHAIDIR ANWAR | KI SOERATMAN | KIAI HAJI ALI MA'SHUM | KOENTJARANINGRAT | KOESNADI HARDJASOEMANTRI | KONTAN PRI BANGUN | KOSASIH PURWANEGARA | KRISHNAHADI S. PRIBADI | KRISTOFORUS Sindhunata | K.R.M. HARIO JONOSEWOJO HANDAJANINGRAT | K.R.T. HARDJONEGORO | KUNTO WIBISONO SISWOMIHARDJO | KUNTOADJI | KUNTOWIJOYO | KURNIA | KUSWATA KARTAWINATA | KWIK KIAN GIE | Kafi Kurnia | Kamiso Handoyo Nitimulyo | Karlina Leksono Supelli | Karni Ilyas | Kartika | Kemal Jufri | Koesparmono Irsan | Krisdayanti | Kurniawan Dwi Yulianto | Kusnanto Anggoro | Kusumo Priyono | Kwik Kian Gie


Arsip Apa dan Siapa Tempo ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq