A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | R | S | T | U | V | W | Y | Z

Karlina Leksono Supelli




Nama :
Karlina Leksono Supelli

Lahir :
Jakarta, 15 Januari 1958

Agama :
Islam

Pendidikan :
- SMP Yuwati Bhakti, Sukabumi, Jawa Barat (1973)
- SMA XI, Jakarta, kemudian pindah ke SMA II, Bandung, Jawa Barat (1976)
- Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Jurusan Astronomi ITB (1981)
- University College of London, Inggris, dalam bidang space science (M.Sc., 1989)
- University College of London, Inggris, program doktor
- Studi Filsafat Program Pascasarjana Universitas Indonesia (S2; 1992)
- Ilmu Filsafat Universitas Indonesia (S3; 1997)


Karir :
- Asisten dosen luar biasa di Jurusan Astronomi ITB, 1979
- Kepala Seksi Observasi Planetarium Jakarta, 1982-1985
- Badan Penerapan dan Pengkajian Teknologi, 1986
- Kepala Kelompok Ilmu Pengetahuan Alam di Direktorat Pengkajian dan Penerapan Ilmu Dasar, BPPT, ketika mendapat tugas belajar di Inggris, 1987-1988
- Pengajar luar biasa pada Program Studi Filsafat, Program Pascasarjana UI
- Pengajar luar biasa pada Program Studi Lingkungan untuk mata kuliah filsafat lingkungan, Program Pascasarjana UI
- Pengajar tidak tetap filsafat ilmu dan metodologi di Fakultas Kedokteran Gigi UI


Kegiatan Lain :
- Pengurus Suara Ibu Peduli

Keluarga :
- Suami : Ninok Leksono Dermawan - Anak : 1. Fitri Armalivia 2. Angga Indraswara

Alamat Rumah :
Taman Alfa Indah H5/ 8, Jakarta Barat 12260

Alamat Kantor :
Jalan KPBD 21, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan 11450 Telepon 5482811

 

Karlina Leksono Supelli


Tidak banyak orang eksakta yang akhirnya mendalami filsafat. Apalagi, ilmu yang disebut terakhir ini kemudian dipilih sebagai program studi untuk mengambil master dan doktor. Salah seorang dari yang sedikit itu adalah Karlina Leksono Supelli.

Menyukai ilmu eksakta sejak SMA dan berlanjut ke jenjang S1 dengan memilih Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Jurusan Astronomi, ITB, Karlina belakangan banting setir melirik filsafat. €œSejak SMA, saya senang sekali fisika dan ilmu falak yang menjadi semacam obsesi,€ ujar perempuan yang sejak kecil sudah melahap buku cerita petualangan karya Karl May, puisi Chairil Anwar dan cerita detektif ini.

Desertasinya bahkan sempat mencuri perhatian banyak orang, karena berbicara soal kosmologi dan filsafat ilmu. Dalam Bab VI, yang merupakan bab terakhir disertasinya, Karlina melakukan pendekatan transendental. Semacam mencari syarat-syarat yang paling dasar dari pengetahuan. €œSaya hanya memakai kosmologi untuk titik berangkat mengkaji keseluruhan kesahihan langkah-langkah yang dipakai dalam kosmologi itu,€ kata pengajar luar biasa Program Studi Filsafat, Program Pascasarjana UI tersebut.

Desertasi itu diakui Karlina merupakan pergulatan hidupnya selama puluhan tahun. Intinya, bongkar-pasang soal kosmologi. Bukan meruntuhkan, tetapi mengurai kembali semuanya. Lalu hilang di metafor ketika sampai pada pertanyaan yang paling hakiki dalam kosmologi: dari mana manusia datang, mau apa manusia di dunia ini, ke mana manusia akan pergi dan akan jadi apa semua ini. €œOrang Jawa,€ kata perempuan berdarah Sunda-Belanda itu, €Mengatakannya sebagai sangkan paraning dumadi.€

Dengan kata lain, Lina €“ panggilan akrab Karlina di masa kecilnya -- pemahaman itu hanya bisa diperoleh kalau manusia mau masuk ke hakikat kehidupan transedental yang akan tercapai ketika seluruh pengetahuan ditanggalkan. €œAnda bilang Tuhan Maha Besar,€ katanya, €œTapi sebesar apa? Sebab itu metafor yang menggunakan bahasa manusia. Semacam bahasa kosmologi dalam dunia.€

Awal mula perkenalan Lina dengan filsafat cukup unik. Semula ia, aku perempuan yang kerap merasa €œbodoh€ ini, tidak berminat sama sekali pada filsafat. Suatu hari ketika Ninok Leksono Dermawan, suaminya yang wartawan senior harian Kompas, yang waktu itu sedang meraih gelar doktornya di Universitas Indonesia, satu mata kuliah Filsafat Ilmu dari Toetie Heratie Noerhadie, tak bisa menghadirinya. Sebagai istri, Lina menawarkan menggantikannya. €œSetelah itu, saya merasa filsafat suatu hal yang menarik,€ kata penyuka lagu-lagu klasik dan lagu Selamat Malam nyanyian Evie Tamala ini.

Menyukai kebebasan alam pedesaan sedari kecil, Lina sejak di kelas tiga SD mengaku sudah mengetahui akan menjadi apa setelah ia dewasa. Ini terutama sesudah ia membaca buku karangan Madame Curie, ahli fisika dan kimia Inggris kelahiran Polandia. Gambaran seorang scientist yang bekerja sendirian di laboratorium ternyata menarik baginya. €œSaya ingat ketika saya bilang pada orang tua ingin menjadi Marie Curie,€ aku pengoleksi 2.500 judul buku itu.

Tapi keinginan atau katakanlah obsesi Lina menjadi orang yang soliter semacam itu sebenarnya lebih banyak disebabkan lingkungan masa kecilnya. Ibunya, yang orang Belanda, seorang perempuan yang kurang suka bergaul dan lebih betah di rumah yang dimanfaatkannya untuk membaca buku. Ketika pecah konfrontasi RI-Belanda dalam soal Irian Jaya, posisinya sebagai anak indo kurang menguntungkan dia. Ketika sedang mendapat pelajaran sejarah, ia dikatakan ketinggalan kapal Belanda yang mengangkut kaum pengungsi Belanda pulang ke negerinya.

€œItu bercanda, tapi saya merasa asal-sul saya dipertanyakan,€ kata kelahiran Jakarta itu. Lina sempat juga merasa tidak punya akar budaya. Jika ia pergi ke Belanda, ia disebut orang indo karena bapaknya orang Indonesia, sedangkan jika di Indonesia dia disebut penjajah. €œSaya punya akar, tetapi tidak pernah merasa menapaknya dengan kokoh,€ ujarnya.

Karlina, misalnya, mengaku tidak bisa menceritakan budaya sang bapak yang orang Sunda secara rinci. Baginya, Jawa Barat tidak menjadi rumah budaya, karena ada darah Belanda dalam tubuhnya. Sebaliknya, ia juga tidak mampu berbicara bahasa Belanda secara utuh, karena ia tidak pernah dibesarkan di sana. Bahkan ada penolakan dalam dirinya karena ketika di sekolah diajarkan bahwa Belanda itu jahat. Akibatnya, ia pun tidak mau masuk ke dalam rumah budaya Belanda. €œJadi sangat komplek,€ cetus perempuan yang selalu merasa dirinya berpembawaan serius ini.

Mungkin itu juga sebabnya Karlina selalu merasa aman berada di tengah alam. Sebaliknya berada di antara manusia membuatnya merasa tidak nyaman. Malahan, belakangan dia makin tidak percaya diri jika bertemu orang. Karlina memang pernah terlibat dan berhubungan dengan orang banyak -- tapi itu sudah lama ditinggalkannya, katanya. €œSaya sampai dibilang pengecut oleh Toetie Heratie. Karena kalau ada konflik, saya bersikap sebagai trenggiling. Tidak dihadapi sampai tuntas, tetapi menghindar,€ kata Lina yang sempat ditahan karena aktivitasnya di Suara Ibu Peduli ketika sedang hangat-hangatnya aksi pelengseran Presiden Soeharto, 1998.

Yang kini terpenting baginya adalah mengajarkan pada anak-anaknya soal pentingnya waktu. Meski ingin bersikap sedemokratis mungkin, Lina tidak mau anak-anaknya terlambat ke sekolah. Demokrasi di rumah keluarga Leksono adalah demokrasi liberal. €œOrang bisa bicara sebebas-bebasnya,€ ujarnya.

Copyright PDAT 2004

comments powered by Disqus

 


KAMARDY ARIEF | KARDJONO WIRIOPRAWIRO | KARDONO | KARKONO Partokusumo alias Kamajaya | KARLINA UMAR WIRAHADIKUSUMAH | KARNO BARKAH | KARTINI MULYADI | KASINO HADIWIBOWO | KEMALA MOTIK | K.H. HAMAM JA'FAR | K.H. MOHAMAD ACHMAD SIDDIQ | K.H. MUKTI ALI | K.H. RADEN AS'AD SYAMSULARIFIN | K.H. SHOLEH ISKANDAR | K.H. TOHIR WIJAYA | KHAIDIR ANWAR | KI SOERATMAN | KIAI HAJI ALI MA'SHUM | KOENTJARANINGRAT | KOESNADI HARDJASOEMANTRI | KONTAN PRI BANGUN | KOSASIH PURWANEGARA | KRISHNAHADI S. PRIBADI | KRISTOFORUS Sindhunata | K.R.M. HARIO JONOSEWOJO HANDAJANINGRAT | K.R.T. HARDJONEGORO | KUNTO WIBISONO SISWOMIHARDJO | KUNTOADJI | KUNTOWIJOYO | KURNIA | KUSWATA KARTAWINATA | KWIK KIAN GIE | Kafi Kurnia | Kamiso Handoyo Nitimulyo | Karlina Leksono Supelli | Karni Ilyas | Kartika | Kemal Jufri | Koesparmono Irsan | Krisdayanti | Kurniawan Dwi Yulianto | Kusnanto Anggoro | Kusumo Priyono | Kwik Kian Gie


Arsip Apa dan Siapa Tempo ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq