
Nama : KIAI HAJI ALI MA'SHUM
Lahir : Soditan Lasem, Rembang, Jawa Tengah, 2 Maret 1915
Agama : Islam
Pendidikan : - Pondok Pesantren Tremas (1931-1937)
- Madrasah Alimiyah Makkah (1937-1940)
Karir : - Anggota Konstituante (1955-1959)
- Ketua Jurusan Ilmu Fiqih Fakultas Hukum Islam/IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta (1964-1980)
- Pimpinan Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta (1955 -- sekarang)
- Rais Am PB NU (1981-1985)
- Anggota Majelis Istisyari PB NU (1985 -- sekarang)
Alamat Rumah : Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta
Alamat Kantor : Idem
|
|
KIAI HAJI ALI MA'SHUM
Pada muktamar NU ke-27 di Situbondo, Jawa Timur, 1984, beberapa peserta dikejutkan pernyataan Ali Ma'shum. Ia menyatakan "maksud" mendirikan NU cabang Korea Selatan. "Ini saudara kita, Abdul Haq," katanya, menggandeng seorang lelaki bermata sipit. "Ia sanggup jadi pelopor mendirikan cabang NU di negaranya." Abdul Haq, alias Jae Dae Sik, mahasiswa Fakultas Adab di IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, asal Korea Selatan, tersipu-sipu. "Maaf, ini cuma sekadar selingan," ujar Kiai Ali.
Dalam usia 70 tahun lebih, Ali Ma'shum masih tampak sehat, dan tetap suka humor. Tertawanya nyaring, serak-serak basah. Ia langsung dididik ayahnya, K.H. Ma'shum, pengasuh Pondok Pesantren Al Hidayah di Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Anak sulung dari lima bersaudara ini kemudian belajar enam tahun di Pesantren Tremas, sejak 1931. Dari situ ia memperdalam ilmu agama di Madrasah Alimiyah, Mekkah, Arab Saudi, hingga 1940.
Biasa dipanggil Gus Ali, pulang ke tanah air ia menikah dengan Hasyimah, putri K.H. Munawir, pendiri Pondok Pesantren Krapyak, 1911. Setelah Munawir wafat, 1955, pondok itu diteruskan Gus Ali. Sistem tradisional, yang hanya mengajarkan ilmu agama, diubahnya dengan sistem modern. Ia membentuk ibtidaiyah (SD), tsanawiyah (SMTP), dan aliyah (SMTA) yang dapat mengikuti ujian negara.
Di antara 24 tenaga pengajarnya, terdapat beberapa lulusan IAIN, UGM, dan UII -- Universitas Islam Indonesia. Kompleks pondok kini meliputi 35 bangunan tembok dengan penerangan listrik. Rumah Ali Ma'shum sekeluarga, dan kantor, juga berada di kompleks itu. Di pesantren, yang telah menghasilkan lebih dari 1.300 penghafal Quran ini pernah belajar antara lain Prof. Dr. H.A. Mukti Ali, bekas menteri agama.
Selain mengasuh Pesantren Al-Munawir Krapyak, ulama yang dikaruniai enam anak dan 11 cucu ini juga pernah menjadi Ketua Jurusan Ilmu Fiqih di Fakultas Syariah (hukum Islam), dan dosen ilmu nusushul lughoh (apresiasi budaya) di Fakultas Adab (Sastra Arab) IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.
Setelah muktamar NU ke-27, ia tidak lagi jadi rais am, tetapi anggota Majelis Istisyari PB NU. Berperawakan tinggi tegap, dan suka merokok, bekas anggota Dewan Konstituante ini biasa bangun pukul tiga pagi. Ia tetap melakukan sembahyang tahajud, di antara doanya: "Ya, Allah, saya seorang doifun (lemah), maka bantulah saya."
|