
Nama : I GUSTI NGURAH OKA DIPUTHERA
Lahir : Dauhwaru, Negara, Jembrana, Bali, 3 Februari 1934
Agama : Budha
Pendidikan : - SD Negeri, Jembrana (1950)
- SLU Saraswati, Denpasar (1953)
- SLUA Saraswati, Denpasar (1955)
- Perguruan Tinggi Pendidikan Guru Sanata Dharma, Yogyakarta (1958)
- Jurusan Pendidikan FKIP UI, Jakarta (1966)
- Sespa, Jakarta (1980)
Karir : - Staf Bagian Hindu Bali Departemen Agama (1959-1967)
- Kepala Sub-Direktorat Pendidikan Ditjen Bimas Hindu Budha Departemen Agama (1967-1980)
- Direktur Urusan Agama Budha Departemen Agama (1980-sekarang)
Kegiatan Lain : - Sekjen Perhimpunan Budhis Indonesia (1962-1967)
- Sekjen Persaudaraan Upasaka-Upasaka Indonesia (1967-1975)
- Sekjen Majelis Dharma Duta Kasogatan (1975-sekarang)
- Ketua Perwalian Umat Budha Indonesia Pusat (1976-sekarang)
- Ketua Dewan Pembina Gabungan Umat Budha Indonesia Pusat (1981-sekarang)
- Dosen di Universitas Pancasila dan Universitas Tarumanegara
- Dosen di Seskoad, Seskoal, Seskoau, dan Seskoak (sekarang)
Alamat Rumah : Jalan Palapa I No. 11 Kedoya, Jakarta Barat
Alamat Kantor : Departemen Agama, Jalan Pejambon Jakarta Pusat Telp: 361679
|
|
I GUSTI NGURAH OKA DIPUTHERA
Oka Diputhera lahir sebagai penganut Hindu. Ketika menjadi mahasiswa Perguruan Tinggi Pendidikan Guru Sanata Dharma di Yogyakarta, ia suka mendengar ceramah agama Budha, dan terpengaruh. Setahun kemudian, 1956, Oka ditahbiskan sebagai pengikut Budha.
Anak mantri pengairan ini menyandang gelar bangsawan, I Gusti Ngurah, dari kasta kesatria, di depan namanya. Tetapi, sejak di SMP, gelar itu tidak pernah "diurus"-nya. "Cukup ditulis Oka Diputhera saja," pintanya.
Waktu kecil, anak ke-11 di antara 13 bersaudara itu gagap, bahkan terbawa-bawa sampai di SMA. Berbagai upaya penyembuhan dilakukan, antara lain berteriak-teriak pada pukul lima subuh di tengah sawah. Kemudian, karena dianggap "terlalu berat", namanya diganti oleh orangtuanya dengan Oka Sunaryadi, lalu diganti lagi Oka Atmajaya oleh kakaknya. "Tetapi Atmajaya tetap tak jaya," ujar Direktur Urusan Agama Budha, Departemen Agama, itu. Akhirnya ia ganti sendiri namanya dengan Oka Diputhera. Gagapnya pun hilang.Tinggi besar, 176 cm dan 90 kg, dan berambut ikal, Oka Diputhera terbilang hasil "persemaian pertama" kebangkitan kembali agama Budha yang dirintis oleh Biku Ashin Jinarakkhita pada 1956 -- tahun 2500 Budha Jayanti. Tetapi, baru pada 1967, "kehadiran" kembali agama Budha diakui dengan terbentuknya Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu & Budha. Saat itu Oka menjabat Kepala Sub- Direktorat Pendidikan Masyarakat Hindu & Budha. Pada 1980 dilakukan pembagian: Direktorat Urusan Agama Budha, dan Direktorat Urusan Agama Hindu.
Sarjana Pendidikan FKIP UI, 1966, ini bercita-cita menjadi guru. Hingga sekarang ia masih mengajar di universitas Pancasila dan Tarumanegara, di samping sekolah-sekolah staf komando AD, AL, AU dan Kepolisian. Ia juga seorang di antara Ketua Perwakilan Umat Budha Indonesia, Ketua Dewan Pembina Gabungan Umat Budha Seluruh Indonesia (GUBSI), dan Sekjen Majelis Ulama Agama Budha Indonesia.
Sejak di SMP, ia gemar menulis cerpen dan novel. Novelnya Puputan Badung terbit pada 1967. Pengarang buku Citra Agama Budha dalam Falsafah Pancasila I & II, (1985), ini juga senang main sandiwara. Ketika di SMA, walau sehari-harinya gagap, kalau main drama, anehnya, ia tidak gagap. Kini, Oka juga koordinator mimbar Agama Budha di TVRI, Jakarta. Ketika ditahbiskan menjadi upacaka, ia mendapat nama "Dharmesywara".
Menikah dengan Sri Oetama Daruningrum, ia kini ayah tiga anak.
|