
Nama : ISMAIL Saleh
Lahir : Pati, Jawa Tengah, 7 September 1926
Agama : Islam
Pendidikan : - HIS (1941)
- Sekolah Pertanian Menengah (1945)
- SMA (1950)
- Akademi Hukum Militer (1950)
- Perguruan Tinggi Hukum Militer (PTHM, 1963)
- Kursus Administrasi Umum AD (1963)
- Seskoad, Bandung (1964-1965)
Karir : - Anggota Intel Tentara Divisi III, Yogyakarta
- Anggota Pasukan Ronggolawe Divisi V di Pati dan Wonosobo (1948-1949)
- Bekerja di Direktorat Kehakiman AD (1952)
- Perwira Penasihat Hukum Resimen 16, Kediri (1957-1958)
- Jaksa Tentara di Surabaya (1959-1960)
- Jaksa Tentara Pengadilan Tentara Daerah Pertempuran Indonesia Timur, Manado (1960-1962)
- Oditur Direktorat Kehakiman AD (1962)
- Perwira Menengah Inspektorat Kehakiman AD (1964-1965)
- Sekretariat Presidium Kabinet (1967-1968)
- Wakil Sekretaris Kabinet/Asisten Sekneg Urusan Administrasi Pemerintahan (1972)
- Sekretaris Kabinet (1978)
- Direktur LKBN Antara (1976-1979)
- Pj. Ketua BKPM (1979-1981)
- Jaksa Agung (1981-1984)
- Menteri Kehakiman (1984 -- sekarang)
Alamat Rumah : Jalan Brawijaya IV No. 70 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan Telp: 731643, 710868
Alamat Kantor : Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan
|
|
ISMAIL Saleh
Ia tidak pelit memberikan berita tentang kebijaksanaan yang diputuskannya kepada wartawan. Dengan demikian, ia menganggap telah memberikan mata air kepada wartawan. "Tetapi, harus hati-hati, kalau tidak, akan menimbulkan air mata bagi orang lain akibat berita yang salah," kata Ismail Saleh, menteri kehakiman. Akrab dengan wartawan, "Dunia ini sepi tanpa mereka," katanya.
Ia mulai dikenal sejak bertugas di Setneg pada tahun-tahun awal Orde Baru. Kemudian, menjadi sekretaris kabinet pada 1978. Di sekitar tahun itu pula ia menjabat Direktur LKBN Antara. Sebelum menjadi menteri kehakiman, ia sempat menjadi Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), dan jaksa agung.
Sewaktu menjadi jaksa agung, Ismail Saleh sering mengadakan kunjungan mendadak ke kantor-kantor kejaksaan. "Bukan untuk menjebak, tetapi agar mengetahui keadaan yang sesungguhnya," katanya menjelaskan. Tentang tujuannya mengadakan inspeksi mendadak atau "sidak" Ismail Saleh berujar, "Bila kita mengharapkan ketertiban masyarakat, maka instansi penegak hukum harus tertib lebih dulu."
Setelah ia menjadi menteri kehakiman pun, "sidak" tetap jalan. Hasilnya, berbagai penyimpangan dibongkarnya. Misalnya, kasus Tampomas, manipulasi pajak oleh sejumlah perusahaan asing dan penggelapan uang reboasasi di Sulawesi Tengah. Yang disebut terakhir ini sempat membuat Ismail Saleh gusar. "Perbuatan yang tidak bermoral dan tidak bertanggung jawab," katanya.
Tidak heran jika ia berkata begitu. Karena, ia sangat mencintai alam dan hutan. Kecintaannya pada alam telah tertanam sejak ayahnya, seorang kepala kehutanan di daerah Jawa Tengah, sering mengajaknya berkeliling melihat-lihat tanaman di hutan. Rasa cinta ini diterapkannya untuk meramahkan kesan Departemen Kehakiman, lingkungan pengadilan, dan Lembaga Pemasyarakatan. Selama ini kesan masyarakat terhadap tempat-tempat itu kaku, angker, dan galak. "Kesan itulah yang saya hindari," katanya. Tentang dirinya, tokoh yang kaya humor ini bercerita, "Saya lahir di musim kemarau. Akibat kekeringan, badan saya tumbuh lambat dan seret," guraunya tentang perawakannya yang kecil.
Setelah lulus HIS, 1941, Ismail masuk ke Sekolah Menengah Pertanian, sekelas dengan Kapolri Anton Soedjarwo. Setamatnya dari SMA, 1950, ia masuk Akademi Hukum Militer, kemudian ke Perguruan Tinggi Hukum Militer.
Bersama Almarhum Mudjono, S.H., (Ketua MA) dan Ali Said, S.H., (Menteri Kehakiman), Ismail Saleh (waktu itu Jaksa Agung) pernah dijuluki "Trio Punakawan/Pendekar Hukum". Tetapi, ia keberatan dengan sebutan itu. "Saya tidak setuju. Kita tidak mengenal pendekar yang pandai bersilat di dunia hukum. Hukum tidak bisa disulap begitu saja," katanya.
Menyinggung "Trio Punakawan", Ismail berkomentar, ketika masih ada Mudjono, huruf pertama nama mereka kalau digabungkan menjadi AIM. Bahasa Indonesianya tujuan. "Ini mengandung makna, kami bersatu dengan tujuan sama yaitu menegakkan hukum," tuturnya. Kemudian, ketika Hari Suharto masuk menjadi anggota Trio Punakawan versi baru, maka AIM berubah menjadi AIH. "Kalau orang Betawi bilang, aih . aih, bagaimana peradilan di Indonesia ini," kata Ismail Saleh yang suka humor ini.
Mas Is -- panggilan akrabnya -- menyukai musik semiklasik, berkebun, dan golf. Renang? "Saya dikalahkan istri saya," ujarnya. Istrinya, sarjana muda farmasi kelahiran Cirebon, telah memberinya tiga anak yang kini sudah di perguruan tinggi. "Anak merupakan sumber kebahagiaan. Jika sedang sedih lalu bertemu dengan anak, wah, bukan main bahagianya," katanya.
Tentang meningkatnya kejahatan, Menteri yang dijuluki trouble shooter (penjebol kesulitan) ini berkomentar, "Banyak laporan dari masyarakat bukan berarti kejahatan belakangan ini meningkat. Tetapi ini berarti kesadaran hukum masyarakat sudah lebih tinggi."
|