A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | R | S | T | U | V | W | Y | Z

IDA BAGUS MADE




Nama :
IDA BAGUS MADE

Lahir :
Tebeyasa, Bali, 1919

Agama :
Hindu

Pendidikan :
- belajar melukis dari Rudolf Bonnet

Karir :
- Pelukis sejak usia muda-sekarang Diplome De Medaile D' Argent dalam "Exposition Internationale des Art et des Techique" di Paris (1937)
- Mendapat Anugerah Seni dari Dirjen Kebudayaan P & K (1980)
- Mendapat Piagam "Wijayakusumah"


Alamat Rumah :
Studio Ida Bagus Made di Ubud, Bali

Alamat Kantor :
Idem

 

IDA BAGUS MADE


Pelukis tua ini kerap dianggap "orang gila". Sehari-hari, Ida Bagus Made hanya melilitkan sarung di pinggang, tidak berbaju atau mengenakan alas kaki. Dengan pakaian ini, ia bisa keluyuran ke mana saja -- bahkan sering sejak pukul 4 subuh. "Kalau inspirasi belum muncul, saya lebih banyak berkelana saja," katanya.

Tanpa pernah mengenyam pendidikan formal, dan hanya bisa menulis dalam aksara Bali, ia dapat menghasilkan karya yang menjadi buruan -- terutama orang-orang asing. Tidak gampang memperoleh lukisan Made, memang. "Saya tidak bisa melihat lukisan saya dibeli orang," katanya. Maka, beberapa lukisannya ia bungkus rapi dan ia simpan saja. "Itu karena beberapa orang datang kemari, memaksa terus untuk memilikinya. Agar saya tidak terpengaruh, yah, lebih baik saya bungkus," katanya.

Di Indonesia, karyanya antara lain terdapat di antara koleksi Bung Karno. Sebagian lagi bertebaran di luar negeri. Namun, Ida Bagus Made tidak selalu menjual lukisannya dengan harga tinggi. Jika ia senang pada seseorang, tidak jarang satu lukisannya ditukar dengan setenggak tuak, asal orang itu ia percayai.

Hidupnya lebih banyak diandalkan pada hasil tanah seluas 50 are di dekat rumahnya. Tanah itu warisan dari ayahnya, Ida Bagus Kembeng, bangsawan yang dikenal pula sebagai dalang, pelukis, sambil tetap bertani.

Di masa kecil, sementara teman-teman sebayanya mulai bersekolah, Ida Bagus Made justru hanya mau belajar melukis. Bukan kepada ayahnya atau pada orang Bali asli, melainkan pada Rudolf Bonnet -- pelukis Belanda yang menetap di Bali. "Yang saya pikirkan waktu itu ialah bagaimana caranya menjadi pelukis terkenal," tuturnya. Ia tidak ambil pusing mengenai beberapa hasil belajarnya yang, setelah diseleksi, oleh gurunya dihibahkan ke banyak orang.

Sampai terakhir ini, hampir tidak pernah ia membeli sendiri peralatan melukisnya. Ia juga masih memanfaatkan berbagai alat hadiah dari Almarhum Bung Karno, "Kolega saya di luar negeri kerap mengirimi saya," katanya. "Barangkali, sampai 25 tahun pun bahan itu akan masih ada." Pernikahannya tidak membuahkan keturunan.

Copyright PDAT 2004

comments powered by Disqus

 


I GUSTI NGURAH OKA DIPUTHERA | I GUSTI NGURAH BAGUS | I GUSTI NGURAH PUTU WIJAYA | I KETUT Gde Widiana | I NYOMAN MOENA | I WAYAN SURPHA | IBNU SUTOWO | IBRAHIM HASAN | IBRAHIM HOSEN | IBRAHIM RISJAD | IBU SOED (Saridjah Niung Bintang Soedibio) | ICUK SUGIARTO | IDA BAGUS MADE | IDA BAGUS MANTRA | IDA BAGUS OKA PUNIAATMAJA | IDHAM | IDHAM CHALID | IDRIS SARDI | IHROMI | IKE SOEPOMO | IMAM MUNANDAR | IMAM ZARKASYI | IMAN CHAERUL UMAM | IMAN EMMANUEL GINTING MALIK (EL MANIK) | IMAN TAUFIK | INDAH BERLIANI SOETOPO | INKE MARIS | IRAVATI M. SUDIARSO | IRENG MAULANA | ISBANDI SOEWARDI | ISKANDAR ALISJAHBANA | ISKANDAR SURYAATMADJA | ISMAIL Saleh | ISMAIL SUNI | ISMED BATARA SIREGAR | ISMID HADAD | IVANNA LIE | IWAN DARMANSJAH | IWAN JAYA AZIS | IWAN STAMBOEL | IZZAC HINDOM | Iwan Suryaputra | I Gede Ardika | Ichlasul Amal | Ignas Kleden


Arsip Apa dan Siapa Tempo ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq