
Nama : Ichlasul Amal
Lahir : Jember, Jawa Timur, 1 Agustus 1942
Agama : Islam
Pendidikan : - SR, Jember (1955)
- SMP, Jember (1958)
- SMA Jember (1961)
- Jurusan Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) UGM (S1; 1967)
- Ilmu Politik Northern Illinois University, Illinois, Amerika Serikat (MA; 1974)
- Ilmu Politik di Monash University, Melbourne, Australia (Ph.D.; 1984)
Karir : - Dosen Jurusan Hubungan Internasional Fisipol UGM (1967 €“ sekarang)
- Direktur Pusat Antar Universitas (PAU) studi sosial UGM (1986-1988)
- Dekan Fisipol UGM (1988-1994)
- Direktur Program Pascasarjana UGM (1994-1998)
- Rektor UGM (1998-2002)
Kegiatan Lain : - Anggota Tim Kajian Penelitian dan Pengembangan Departeman Dalam Negeri (1991)
- Pengelola Program S2 Ketahanan Nasional UGM (1991-sekarang)
- Ketua Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama; 2001-2005)
Karya : Buku :
- Indonesian Foreign: Its Continuity and Change, Fisipol UGM, Yogyakarta (1975)
- Teori-Teori Mutakhir Partai Politik, Tiara Wacana, Yogyakarta (1986)
- Metodologi Ilmu Politik, PAU Studi Sosial UGM, Yogyakarta (1987)
- Regional and Central Government in Indonesian Politics (1949-1979), Gadjah Mada University Press, Yogyakarta (1992)
- Hubungan Pusat Daerah dalam Pembangunan (bersama Macandrews), Rajawali Press, Jakarta (1993)
Penghargaan : - Tanda Penghargaan Kesetiaan selama 25 tahun dari Rektor UGM (1992)
- Tanda Penghargaan Satya Lencana Karya Satya XXX tahun dari Presiden RI (1998-2002)
- Distinguished Alumni Award dari Monash University Australia (1998)
Keluarga : Ayah : H. Achmad
Ibu : Siti Fatma
Istri : Ery Hariati
Anak : 1. Amelin Herani
2. Akmal Herawan
Alamat Rumah : Pendeansari Blok I No. 5 Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta
Alamat Kantor : Fisipol UGM, Bulaksumur, Yogyakarta
|
|
Ichlasul Amal
€œSaya adalah rektor yang paling kontroversial,€ aku Ichlasul Amal,
Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) periode 1998-2002. Ketika dilantik jadi rektor, mahasiswa lagi berdemonstrasi menuntut Soeharto diturunkan. Padahal, ia diangkat menjadi rektor atas SK dari Soeharto karena Ichlasul mendapat nilai tertinggi dalam pemilihan rektor oleh Senat Universitas. Lalu mantan Ketua Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat Fisipol UGM ini keluar dan memberikan jaminan kepada para demonstran: €œSelama demo berada di dalam kampus, aparat tidak bisa menangkapi para pendemo.€
Nama Ichlasul Amal memang lekat dengan gerakan reformasi, terutama di Yogyakarta. Mahasiswanya menjulukinya "rektor reformis", karena keberpihakannya yang tegas pada reformasi. Ketika pemerintah menuduh mahasiswa melakukan politik praktis, karena aksi-aksi demonstrasinya, Pak Amal€”begitu ia biasa dipanggil€”bersuara lantang. "Mahasiswa itu menyuarakan kepentingan rakyat," kata profesor ilmu politik tersebut.
Setelah Orde Baru tumbang, yang kemudian disusul munculnya berbagai partai politik, pengamat politik ini mengumpulkan 76 parpol baru di kampus UGM, dalam acara "Dialog Antarpartai tentang Pemilu". Ia juga mencetuskan ide pemantau pemilu sebagai ganti kuliah kerja nyata mahasiswa.
Pria kelahiran Jember, Jawa Timur, ini dibesarkan di tengah keluarga pedagang yang berkultur santri. Kebetulan pula rumahnya, yang dijadikan markas Partai Masyumi, berdekatan dengan pondok pesantren. Sementara anak-anak sebayanya bercita-cita jadi pedagang, tidak ingin jadi pegawai negeri, Amal kecil malah tidak punya cita-cita. €œCita-cita saya mengalir saja seperti air,€ kenang Amal. Bahkan, dari kampungnya, hanya dua orang yang jadi pegawai negeri: Amal dan kakaknya yang mantan rektor Universitas Brawijaya, Malang.
Pendidikanya berlangsung lancar-lancar saja. Walau nakal -- lantaran suka mengejek lafal gurunya yang tidak bisa mengucapkan huruf F dan V secara tepat -- Amal selalu mendapat ranking pertama. Lulus SMA, ia diterima di dua universitas: UGM dan Unair Surabaya. Amal memilih kuliah di Jurusan Hubungan Internasional Fisipol UGM, yang diselesaikan lima tahun.
Pada saat lulus itu, 1967, UGM mengalami kekosongan pengajar karena banyak dosen dikeluarkan karena terlibat G30S, Amal diangkat menjadi dosen di almamaternya. Padahal, ia tidak melamar. Atas beasiswa Fullbright, Amal melanjutkan studi ilmu politik di Northern Illinois University, Illinois, Amerika Serikat. Sambil merawat anaknya yang sakit di Australia, Amal melanjutkan S3 di Monash University, Melbourne, Australia. Disertasinya mengenai politik dalam negeri dalam kaitan hubungan pusat dengan daerah.
Dengan memposisikan diri sebagai pengamat politik, yang tidak mempunyai interes pribadi, guru besar UGM ini bisa mengetahui banyak masalah politik, bisa memandang berbagai masalah politik dengan lebih jernih. Lantas, apa pendapatnya tentang pemerintahan Megawati? €œKondisi yang dipegang Mega adalah kondisi pemerintahan kompromi, sehingga sulit sekali membuat kebijakan yang berbeda karena Mega tidak bisa keluar dari jalur kompromi,€ kata Amal.
Menikah dengan Ery Hariati€”adik kelasnya waktu kuliah€”pada 1969, Amal dikaruniai tiga anak, yang satu meninggal dunia akibat leukemia. Salah satu anaknya, Akmal Herawan, ia larang masuk Fisipol, karena €œNanti sering ketemu saya,€ katanya. Olahraganya tenis dan voli. Hobinya memelihara ikan dan beraneka burung. €œSaya punya kandang burung setinggi tiga meter dan aquarium besar sekali di rumah,€ kata Amal.
Setelah kini tidak menjabat rektor, ia ingin mendirikan partai baru, tapi ini cuma terbersit dalam pikiran. Apa pun, yang jelas, ia tetap menjadi pengamat politik.
|