
Nama : IMAN CHAERUL UMAM
Lahir : Tegal, Jawa Tengah, 4 April 1943
Agama : Islam
Pendidikan : - SD 18, Tegal (1955)
- SMP II, Tegal (1958)
- SMA, Yogyakarta (1964)
- Fakultas Psikologi UGM, Yogyakarta (sampai tingkat III)
Karir : - Dirut PT Prasidi Teta Film (1983-sekarang)
- Sutradara Film, antara lain Tiga Sekawan, 1975
- Al Kautsar, 1977
- meraih penghargaan sebagai The Best Sound Recording dan The Best Social Cultural Film pada Festival Film Asia di Bangkok, 1977 Kegiatan lain: Sebagai pembaca cerpen
Alamat Rumah : Jalan Bojonegoro 14, Jakarta Pusat Telp.: 350752
Alamat Kantor : PT Prasidi Teta Film Jalan Tebet Barat VIII/26, Jakarta Selatan Telp.: 827355
|
|
IMAN CHAERUL UMAM
Sekali waktu, Sutradara D. Djajakusuma memintanya mengisi suara (dubbing) sebuah film. Biasa main band di SMA, Chaerul Umam tidak kikuk menghadapi mikrofon. "Eh, tak tahunya dibayar," katanya. Jumlah bayaran sama dengan bila ia sekali main drama -- yang latihannya berbulan-bulan. "Pikiran saya waktu itu, enak benar jadi orang film, duitnya banyak."
Promosinya sebagai sutradara juga tanpa sengaja. Pada 1975, Asrul Sani menangani film Tiga Sekawan, produksi Kwartet Jaya pimpinan Eddy Sud. Dua minggu sebelum shooting, Asrul mendadak mengundurkan diri. Tiga sutradara -- Misbach Jusa Biran, Wahju Sihombing, dan Nya Abas Acub -- diminta menggantikannya. Semua menolak. Acub malah mengusulkan Chaerul, yang memang pernah melamar, sebagai pengganti Asrul. "Dan jadilah saya sutradara," tutur anak Tegal, yang biasa dipanggil Mamang ini.
Anak opseter ini dididik dalam ketaatan beragama oleh ibunya, seorang muballighat. Walaupun bercita-cita menjadi polisi, si kecil Mamang gemar berteater di desa kelahirannya. Lewat grup Ababalu yang dibentuknya, ia merekrut para tetangganya -- tukang krupuk, tukang obat, pembatik -- untuk main sandiwara.Pindah ke Yogyakarta, jebolan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada ini membentuk grup Pentas Cuwiri, bersama Syu'bah Asa (kelak wartawan Tempo) dan Abdurrachman Saleh (terakhir pengacara). Ia juga bergabung dengan Teater HMI, kemudian tiga tahun mengikuti Bengkel Teater pimpinan Rendra.
Chaerul Umam mulai dicatat sebagai sutradara yang baik lewat film Al Kautsar, 1977, produksi PT Sippang Jaya Film, dan Titian Serambut Dibelah Tujuh, 1983, produksi PT Kofina. Kedua film bernapaskan Islam itu tampil utuh. "Mungkin karena lingkungan kecil saya bersuasana keagamaan," katanya. Al Kautsar meraih penghargaan dari Festival Film Asia di Bangkok untuk Film Budaya Sosial Terbaik dan Rekaman Suara Terbaik. Namun, lewat Gadis Marathon, 1981, Mamang juga membuktikan dirinya mampu menggarap tema nonagama.
Pengagum sutradara Jepang Akira Kurosawa ini mengaku belajar film dari Sjumandjaja, Motinggo Boesje, Teguh Karya, dan buku- buku. Dalam menerima "order", ia mensyaratkan skenario yang baik, misi yang jelas, dan tidak mau didikte. Ia pernah menolak membikin film komedi seks.
Anak ketiga dari empat bersaudara, Mamang kini ayah sepasang putra-putri. Dulu ia suka lari pagi, tetapi belakangan lebih sering malas. Ia juga dikenal sebagai pembaca cerita pendek yang baik, dan beberapa kali tampil di TIM, Jakarta.
|