
Nama : I Gede Ardika
Lahir : Singaraja, 15 Februari 1945
Agama : Hindu
Pendidikan : - SD - SMA Negeri di Singaraja, Bali
- Jurusan Seni Rupa ITB, Bandung (1963-1964)
- Akademi Perhotelan Nasional, Bandung (1964-1967)
- Manajemen Perhotelan, Institut Internasional Glion, Swiss (1969-1972)
- Sekolah Tinggi Administrasi Negara LAN, Bandung (1974-1977)
- Akta IV, IKIP Malang (1984)
Karir : - Kepala Peraga Akademi Perhotelan Nasional, Bandung (1968-1969)
- Kepala Seksi Pengajaran Akademi Perhotelan Nasional, Bandung (1972-1973)
- Pelaksana Tugas Direktur National Hotel Institute, Bandung 1973-1976)
- Dosen National Hotel Institute, Bandung (1973-1976)
- Pjs. Direktur Nastional Hotel Institute, Bandung (1976-1978)
- Direktur Pusat Pendidikan dan Pariwisata, Nusa Dua, Bali (1978-1985)
- Ditjen Pariwisata (1985-1986)
- Pelaksana Tugas Kepala Sub Direktorat Perhotelan dan Penginapan
- Kepala Sub Direktorat Perhotelan dan Penginapan Ditjen Pariwisata(1986-1988)
- Kepala Bagian Perencanaan Ditjen Pariwisata (1988-1991)
- Kepala Kantor Wilayah X Departemen Parpostel Bali (1991-1993)
- Kepala Pusdiklat Parpostel Departemen Parpostel (1993-1996)
- Sekretaris Direktorat Jenderal Pariwisata (1996-1998)
- Direktur Jenderal Pariwisata (1998-2001)
- Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (2001-sekarang)
Kegiatan Lain : - Ketua Bidang Pendidikan, PHRI Jawa Barat (1974-1977)
- Ketua Bidang Pendidikan, PHRI Bali (1979-1984)
- Ketua Bidang Pendidikan, ASITA Bali (1980-1985)
- Assistance National Project Director, Proyek Bantuan Teknik UNDP
kepada Pemerintah Indonesia: €œTourism Sector Programming and Policy
Development€ (1989-1991)
- National Project Director, Proyek bantuan Teknik UNDP kepada pemerintah Indonesia: €œReview Bali Tourism Master Plan€ (1991-1992)
- National Project Director, Proyek Bantuan Pemerintah Prancis kepada
Pemerintah Indonesia: €œNational Tourism Development Master Plan€ (1997-1998)
Keluarga : Istri: Indriati
Anak: 1. Luh Ariati
2. Made Andriani
Alamat Rumah : Jl. Percetakan Negara 34 Kav. 36, Cempaka Putih Indah, Jakarta 10520
Alamat Kantor : Jl. Medan Merdeka Barat No. 17, Jakarta 10110
|
|
I Gede Ardika
KALAU buat sastrawan kondang Inggris Shakespeare nama €œbukan apa-apa,€ bagi I Gede Ardika sangatlah berarti. Apalagi setelah ia semakin memahami budaya Bali yang menganggap nama mempunyai makna dan nilai yang besar. Kalau I menunjukkan jenis kelamin laki-laki, gede berarti anak lelaki pertama, Ardika (bahasa Sanskerta) bermakna berjiwa besar. Sistem nama seperti itu, katanya, hanya ada dalam budaya Bali.
Semula I Gede Ardika sempat tak percaya diri menyandang nama Bali, yang di daerah lain menggoda orang untuk mempelesetkannya. €œSaya malu, kawan-kawan kuliah saya di Bandung, terutama cewek-cewek, mengejek nama saya dengan ih gede,€ tutur lelaki kelahiran Singaraja itu dengan geli. €œWaktu itu saya merasa nama saya kampungan, kenapa tidak bernama, misalnya, George,€ tambahnya.
Masa kecil hingga remaja dilewatkan Ardika di Pulau Dewata. Selepas SMA, ia hijrah ke Bandung. Darah seni yang mengalir dalam tubuhnya memacu dia kuliah di Jurusan Seni Rupa ITB. Harapannya, ia bisa menjadi pelukis tangguh. Namun ia lari dari institut teknologi ternama itu, dan masuk ke Akademi Perhotelan, masih di Kota Kembang.
€œSaya putuskan lari ke sekolah kepariwisataan. Karena begitu masuk semester dua di Jurusan Seni Rupa ITB, saya tak kuat lagi bayar keperluan studi,€ katanya. €œTernyata sekolah seni rupa itu mahal. Harus beli cat, kanvas, dan sebagainya. Beda dengan sekolah pariwisata, selama sekolah saya dapat uang saku,€ penggemar olahraga jogging ini menjelaskan.
Pelarian itu justru membawa keberuntungan. Berbekal ijazah sekolah pariwisata, Ardika mulai meniti karir di dunia kepariwisataan. Dan boleh dibilang, sejak itu segenap pikiran dan minatnya dicurahkan ke bidang penyedot devisa nomor dua di Indonesia ini. Begitu ada kesempatan memperdalam ilmu di bidang yang sama, ia pun sigap menerkamnya. Dari 1969 hingga 1972, misalnya, ia memperdalam manajemen perhotelan di Institut International Glion, Swiss, lewat program beasiswa.
Sepulangnya dari Swiss, Ardika kebanjiran tawaran bekerja dari sejumlah perusahaan swasta. Tentu saja dengan gaji yang sangat menggiurkan. Tapi ia malah memutuskan menjadi pegawai negeri di lingkungan pariwisata. Keputusan itu diambil lantaran sejak SD hingga kuliah ia menuntut ilmu di sekolah negeri. Yang notabene dibiayai oleh negara. €œSaya merasa dibesarkan negara, makanya saya putuskan mengabdi kepada negara,€ ujarnya.
Setelah sekian tahun malang melintang di dunia pariwisata, akhirnya pada 2001 Ardika mendapat kepercayaan sebagai Menteri Kebudayaan dan Pariwisata. Sebagai pejabat negara, penikmat lagu-lagu evergreen ini senantiasa berusaha mempersembahkan yang terbaik bagi bangsa dan negara, khususnya di dunia pariwisata di Tanah Air.
Menurut dia, €œKalau kita berbuat baik, Tuhan akan memberi imbalan perbuatan baik itu. Imbalan itu mungkin tidak harus sekarang. Mungkin nanti, entah kapan, mungkin dalam hidup yang akan datang. Atau malah yang menikmati anak keturunan saya. Itu yang menuntut saya untuk selalu berbuat baik,€ ujarnya.
|