
Nama : ISBANDI SOEWARDI
Lahir : Plaju, Sumatera Selatan, 28 Juni 1922
Agama : Islam
Pendidikan : - HIS, Jakarta
- MULO, Jakarta (sampai kelas II)
- Kursus musik privat untuk biola, aransemen, komposisi (1944).
Karir : - Pegawai administrasi di Perusahaan Sepatu Bata Unielaan (1939-1942)
- Menekuni dunia musik sebagai pemain dan pencipta lagu (1942 -- sekarang)
- Lagu-lagu ciptaannya, antara lain: Harum Kenanga, Setangkai Melati, Senja di Wajahmu Ayu, Bersyukur, Untukmu
- Dirigen Orkes Telerama TVRI.
Alamat Rumah : Jalan Serdang Baru 12 No. 31, Kemayoran, Jakarta Pusat
Alamat Kantor : Radio Republik Indonesia Jalan Merdeka Barat 4-5, Jakarta Pusat Telp: 377508
|
|
ISBANDI SOEWARDI
Pertengahan 1978, Iskandar, dirigen Orkes Telerama TVRI, meninggal. Isbandi kemudian ditunjuk menggantikan kedudukan kakaknya itu. "Walaupun pada mulanya, tidak terpikirkan akan menggantikan kakak saya," katanya. Sejak itu, namanya pun mencuat.
Ia mengakui bahwa bakat seni diwariskan kedua orangtuanya. Ayahnya, R.M. Soewardi Kartodikromo, almarhum, adalah seorang pemain wayang. Sedangkan ibunya, Ayu Isnaeni, sering menyanyi di rumah.
Anak keempat dari sepuluh bersaudara ini menghabiskan masa kecilnya -- sampai umur delapan tahun -- di Plaju, Sumatera Selatan. Ayahnya menjadi kerani perusahaan minyak BPM. Karena ayahnya meninggal, keluarga ini pindah ke Jakarta. Sekolah SMP hanya sampai kelas II, "karena tak ada biaya," katanya sedih. Untuk mengisi waktu senggangnya ia belajar musik, tetapi tak lama, karena jenuh. Lalu ia bekerja pada pabrik sepatu Bata di usia 17 tahun.
Di zaman penjajahan Jepang, ia kembali aktif bermain musik. Sering diundang dalam pesta pernikahan, "Sekali main dapat seringgit," ujarnya. Ia pernah bergabung dalam The Golden Star, The Silver Star, Bulan Purnama, Lie Tan Orkestra, dan banyak lagi. Bersama kelompok musik itu Isbandi sering berkeliling di Jawa Barat dan Jawa Tengah.
Berkat pergaulannya, ia memperoleh kesempatan belajar musik dari ahli musik asing yang diam di Indonesia ketika itu. Antaranya; Bernardo (Filipina), Reiner (Cekoslovakia), Hendrik Tordasi (Hungaria), dan Hans Wagthou (Belanda). Ia juga belajar pada seorang pemusik Indonesia, M. Shagi -- penyanyi keroncong yang sudah almarhum.
Sebagai komponis, Isbandi menguasai berbagai jenis musik, dari keroncong, gambang kromong, klasik, jazz, bahkan dangdut. Tetapi, sebagai pemusik, ia tidak sempat banyak menulis lagu. Ia mengaku pernah menulis kurang lebih 25 lagu. Antaranya: Senja di Wajah Ayu, Setangkai Melati, Untukmu, dan beberapa lagi. "Tak ada waktu," tuturnya tentang sedikitnya lagu yang diciptakannya.
Ketika belajar pada M. Shagi, ia berkenalan dengan Rumena binti Jasiman, janda beranak dua, adik M. Shagi. Janda ini kemudian dinikahinya, dan memperoleh tujuh anak. Isbandi bertekad, akan tetap mengarungi dunia musik sampai akhir hayatnya.
|