
Nama : H. ABUBAKAR ALDJUFRIE
Lahir : Surabaya, Jawa Timur, 23 Desember 1926
Agama : Islam
Pendidikan : -SD, SMP, SMA Al Khairiyah di Surabaya
-International Marketing, Universitas New Delhi, India (1971)
Karir : -Pemilik Sekolah Arab English School di Pandaan (1940)
-Sekretaris Persatuan Pedagang Asia Surabaya (1942)
-Kepala Gudang Kanebo di Surabaya (1943-1944)
-Wartawan APB, Warta Berita (1947)
-Anggota DPRD Surabaya (1951)
-Wiraswasta di luar negeri (sampai 1962)
-Perwakilan Firma H. Abubakar Aldjufrie di Surabaya (1963- 1984)
-Kepala Bagian Pemasaran PT Almina Indah (1983)
-Kepala Bagian Pemasaran PT Ameastara Raya Corporation (1984)
-Ketua Pepehani (1965-1984)
Alamat Rumah : Jalan K.H. Mas Mansyur, Kebon Pala I No. 79 B, Tanah Abang, Jakarta Pusat Telp: 333755
Alamat Kantor : Jalan Kramat Raya 4-6, Jakarta Pusat Telp: 350099
|
|
H. ABUBAKAR ALDJUFRIE
Sebagai Ketua Pepehani (Persatuan Pengusaha Hewan Indonesia) (1965-1984), Djufri pernah mengatakan bahwa impor daging sebenarnya tidak perlu. Yang penting baginya adalah penyelesaian masalah di dalam negeri. Perdagangan ternak itulah yang harus dibenahi. Dan bila terjadi juga impor daging, berarti prosedur perdagangan dalam negeri yang belum teratur.
Awal kariernya justru tidak ditapaki dalam dunia peternakan, meskipun Salim Bali, ayahnya, mewarisi usaha kakeknya, Muhammad Aldjufri, pemilik peternakan sapi yang ternama.
Anak ketiga dari sebelas bersaudara ini belajar di perguruan Alkhairiyyah dan Islamic Middlebare School di Surabaya. Tamat sekolah, ia tertarik pada dunia pendidikan dan menjadi penilik sekolah Arab English School di Pandaan, Malang. Tetapi lelaki keturunan Arab itu akhirnya terjun juga dalam dunia usaha, seperti keluarganya yang lain. Tahun 1942 ia menjadi Sekretaris Persatuan Pedagang Asia.Ketika Jepang berkuasa, Djufri menjabat Kepala Gudang Bongkar Muat perusahaan Ganebo. Juga aktif dalam Keybodan, 1944. Manakala Revolusi Kemerdekaan pecah, ia menggabungkan diri dalam Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia, pimpinan Bung Tomo. Selain itu, ia menjadi wartawan berbagai media yang pro RI sampai tahun 1948. Pekerjaan wartawan ditekuninya pula dalam masa tuanya. Ia adalah wartawan Antara dengan kode D-13, 1975-1980.
Usai Revolusi, Djufri kembali menekuni usahanya jual beli ternak. Dari pengalaman itu ia terpilih menjadi Ketua Eksportir Ternak Indonesia. Tetapi, sejak tahun 1979, pemerintah melarang ekspor ternak. Ia bisa menerima karena, "Tujuannya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri," meski usahanya karena peraturan ini jadi merosot sekali.
Ayah sepuluh anak ini masih gemar menulis, meski tidak lagi jadi wartawan. Mengaku tidak pernah berolah raga karena katanya, "Pada prinsipnya, salat lima kali sehari sama juga dengan olah raga."
|