
Nama : H.J. HANDOYO LUKMAN (LOOGMAN)
Lahir : 1933
Agama : Katolik
Karir : - Sebagai pater, kemudian praktek pengobatan nonmedis
Kegiatan Lain : - Anggota Tim Yayasan Parapsikologi Indonesia
Alamat Rumah : Jalan H. Ahmad Dahlan 62 A, Purworejo, Jawa Tengah
|
|
H.J. HANDOYO LUKMAN (LOOGMAN)
Konon, bisa menyembuhkan segala macam penyakit, yang datang pada Lukman biasanya pasien yang tidak tersembuhkan oleh dokter dan dukun lain. Namun, yang paling populer dari pastor ini adalah "alat penolak bala" -- seperti santet dan guna-guna -- berupa sebuah kumparan magnetis. "Tidak heran, saya sering disebut dukun kabel," katanya sambil tertawa.
Seorang di antara yang pernah disembuhkan Lukman adalah pemain bulu tangkis Lius Pongoh. Sekitar dua tahun cedera punggung, sehingga sempat berobat pada sebuah rumah sakit khusus atlet di Jerman Barat, Lius akhirnya datang kepada Lukman, yang memberinya "obat-minum yang rasanya pahit". Ternyata, cukup mujarab. Keadaan inilah yang memungkinkan Lius kembali terjun dalam pertandingan bulu tangkis, dan menjadi juara tunggal putra turnamen Indonesia Terbuka, 1984, di Jakarta.
Aslinya bernama Loogman, H.J. Handojo Lukman, M.Sc., berpraktek sekitar tiga kali seminggu di Purworejo, Jawa Tengah. Ia membatasi pasiennya 40 orang saja, karena, katanya, "Ingin membuktikan bahwa yang saya kerjakan tidak main- main."Lukman menolak sebutan "paranormal" bagi kegiatan yang dikerjakannya. Sebab, "Semua itu normal-normal saja," ujarnya, sambil membandingkan dengan profesi wartawan atau dokter. "Cuma masalahnya tidak semua orang mampu melakukannya," tambahnya. Tetapi, Lukman sendiri belum menemukan istilah yang tepat bagi kegiatannya ini.
Ruang lingkup yang bisa digarap oleh parapsikologi, "tidak ada batasnya," menurut Lukman. "Namun, tentu bergantung pada kemampuan orangnya. Saya sendiri melayani tantangan itu lewat dunia pengobatan." Ia juga meracik jamu. Tidak dapat dibeli di sembarang toko, karena hanya ia yang tahu jenis jamu mana yang cocok untuk pasiennya.
Ia senang menyebut peramalan sebagai "pendataan teknis". Kalau data teknis yang dikumpulkan salah, menurut dia, hasilnya juga salah.
Lukman menunjukkan keberhasilannya meramalkan "nasib" bekas Presiden Nixon dari AS, karena data yang dikumpulkannya ternyata benar. Sebaliknya, karena pengumpulan data teknisnya keliru, ramalannya tentang lokasi jatuhnya pesawat MNA di Tinombala, 1977, meleset 200 meter. Ia menyamakan proses peramalan seperti menyelesaikan soal aljabar. "Salah sedikit akan mempengaruhi hasil," katanya.
|