
Nama : HIDAYAT MUKMIN
Lahir : Lamongan, Jawa Timur, 11 Juli 1929
Agama : Islam
Pendidikan : - SD Negeri, Kediri (1941)
- SMP Negeri, Kediri (1944)
- SMA Negeri, Malang (1951)
- Fakultas Sospol UGM, Yogyakarta (1957)
- Indian School for Advanced International Studies, New Delhi, India (1959)
Karir : - Anggota Brigade XVII TRIP (1945-1950)
- Lektor Kepala Sospol UGM (1957-1966)
- Kepala Departemen Litbang Strategis Seskoad, Bandung (1966- 1969)
- Dosen Seskoad/Lemhanas (1960-1973)
- Staf Pribadi Wapangab/Menhankam (1969-1973)
- Dubes RI di Meksiko (1973-1976)
- Asisten Menteri Koordinator III Kesra (1978-1983)
- Wagub Lemhanas (1983-sekarang)
Kegiatan Lain : - Penasihat Kagama (1983-sekarang)
- Ketua I Yayasan Dana Bakti Anak Indonesia (1982-sekarang)
Karya : - Beberapa Aspek Perjuangan Wanita, Bina Cipta, Bandung, 1980
- Pergolakan di Amerika Latin, Ghalia Indonesia, 1980
- Pejuang dan Prajurit, Konsepsi dan Implementasi Dwifungsi ABRI, Karya bersama dengan Editor Nugroho Notosusanto, Sinar Harapan, 1983
- Perkembangan Ilmu Politik di Indonesia serta Peranannya dalam Pemantapan Persatuan dan Kesatuan Bangsa, bersama Alfian (ed.), Asosiasi Ilmu Politik Indonesia & CV Rajawali, 1985
Alamat Rumah : Jalan Bendungan Asahan II No. 67, Jakarta Pusat Telp: 582023
Alamat Kantor : Jalan Kebon Sirih 28, Jakarta Pusat Telp: 340299
|
|
HIDAYAT MUKMIN
Sebagai anggota Brigade XVII/TRIP 1945-1950, Hidayat Mukmin tadinya memang orang militer. Tetapi, ia kemudian melepaskan pangkat pembantu letnan satu karena ingin melanjutkan sekolah. Anak Lamongan, Jawa Timur, ini kemudian masuk Fakultas Sosial & Politik UGM, rampung 1957. Ternyata, menjadi orang sipil tidak menghalanginya ikut menggagaskan doktrin ABRI, Catur Dharma Eka Karma, 1966.
Hidayat dididik sederhana oleh orangtuanya. Sebagai penilik sekolah di zaman Belanda, ayahnya terbilang mampu. Tetapi Hidayat dan kesembilan saudaranya diharuskan berjalan kaki ke sekolah. "Saya baru boleh naik sepeda ketika di SMA," ujar Wakil Gubernur Lemhanas ini.
Kesederhanaan itu dibawanya hingga dewasa. Ketika menjadi Duta Besar RI di Meksiko, bekas Lektor Kepala Fakultas Sosial Politik UGM ini suka memakai sandal. Ia juga suka makan di rumah makan kaki lima di Garibaldi, yang dinilai kurang pantas untuk seorang diplomat. Setelah menjadi Wakil Gubernur Lemhanas, Hidayat memang menginap di hotel, jika berkeliling ke daerah, tetapi tetap senang makan di warung. "Bukan tidak suka menunya, tetapi suasana mewah itu menyiksa saya. Saya tidak lahir dari kalangan jetset," ujar bekas dosen Seskoad itu. Hidayat, yang mendalami masalah internasional di India, menganggap sudah tiba waktunya sejumlah jabatan penting "dikembalikan" kepada sipil. "Selain keamanan sudah terjamin, dalam Pelita IV ini telah lahir sejumlah teknokrat," katanya. Beberapa jabatan penting tertentu, misalnya gubernur di Jawa, yang merupakan pusat kekuatan, dan beberapa daerah rawan, dianggapnya masih perlu dijabat perwira ABRI. Ia cenderung berpendapat bahwa anggota ABRI sebaiknya duduk di legislatif, bukan di eksekutif.
Sampai dengan 1983, Hidayat telah menulis 36 karya tulis, dan sejumlah buku. Antara lain, Pergolakan di Amerika Latin (Ghalia, 1980), dan Pejuang dan Prajurit, ditulis bersama antara lain dengan Nugroho Notosusanto (Sinar Harapan, 1983).
Ayah empat anak, dari perkawinannya dengan Suwasti, 1953, ini melakukan jogging, renang, tenis, senam, boling, bola voli, dan bola basket. Hidayat gemar memasak, dan memiliki 100 resep masakan Cina. Ketika berada di India, ia memperkenalkan 10 jenis penganan yang dibuat dari ubi kayu.
|