
Nama : HADI SUKADI ALIKODRA
Lahir : Cirebon, Jawa Barat, 5 Februari 1948
Agama : Islam
Pendidikan : - SD di Indramayu (1961)
- SLP di Indramayu (1964)
- SLA di Cirebon (1967)
- IPB di Bogor (1974)
- Jurusan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Fakultas Pascasarjana IPB di Bogor (M.S. 1978)
Karir : - Asisten Ahli Madya Fak. Kehutanan IPB di Bogor (1974)
- Asisten Ahli Fak. Kehutanan IPB di Bogor (1978)
- Lektor Muda Fakultas Kehutanan IPB di Bogor (1982)
- Counterpart School of Environmental Conservation Management, Ciawi (sejak 1979)
- Staf Pengajar Fakultas Pascasarjana IPB (sejak 1979)
- Konsultan Balai Konservasi Sumber Daya Alam III Bogor (1981 -- sekarang)
- Ketua Jurusan Konservasi Sumber Daya Hutan Fakultas Kehutanan IPB (sekarang)
Alamat Rumah : Gang Tengah, Desa Babakan, Kecamatan Ciomas, Bogor
Alamat Kantor : Gang Tengah, Desa Babakan, Kecamatan Ciomas, Bogor
|
|
HADI SUKADI ALIKODRA
"Daging banteng enak. Jadi, jika stock sapi habis, banteng bisa dijadikan pengganti," katanya suatu kali. Ia, Hadi Sukadi Alikodra pecinta satwa yang mendapatkan gelar Masternya karena jasa banteng. Judul tesisnya, Ekologi dan Biologi Banteng.
Semasa kecilnya, ia bercita-cita menjadi tentara. Tetapi ayahnya, Letda M. Kodra, mengharapkannya menjadi insinyur. Setelah menyelesaikan SLP dan SLA-nya di Cirebon, ia kuliah di IPB Jurusan Manajemen Hutan. Lulus 1974, Sukadi sempat kembali ke kampung, menjadi guru. Tidak lama di kampung, ia balik ke Bogor, menjadi Asisten Ahli Madya di alma maternya.
Sarjana kehutanan ini memang akrab dengan satwa. Untuk berkenalan dengan satwa liar, ia tidak segan masuk hutan. Dengan badan yang terbungkus rapat oleh dedaunan, ia bergabung dengan satwa liar itu. Ia tidak bergerak, agar tidak mengganggu saraf dan psikologi hewan. Berulang kali hal itu dilakukannya, sampai hewan itu mengenal manusia. "Bergaul dengan mereka mengasyikkan. Mereka ramah juga, lho," katanya.Keakrabannya dengan satwa memang menguntungkan. Berkat jasa jalak putih (Leucopsar rothschildistrems), Sukadi mendapatkan gelar Master- nya tahun 1978. Tentang jalak putih, ahli ini berujar, "Burung itu mempunyai sifat yang khas dan langka." Menurut Sukadi, burung yang hanya terdapat di Bali bagian barat ini tinggal sedikit. Menurunnya populasi jalak putih, selain disebabkan berkurangnya pohon pilang tempat bersarang dan bertelurnya, juga karena burung pelatuk besi, yang membantunya membuat sarang, sudah hampir punah.
Sukses meneliti jalak putih, Sukadi tertarik untuk bergaul dengan banteng. "Banteng mempunyai karakteristik bandel, dan rakus. Ia dapat makan segala jenis hijauan walaupun nilai gizinya rendah," katanya menjelaskan. Dari segi ini, banteng dapat dikembangkan sebagai genetic resources.
Menikah tahun 1974 dengan Ir. Emi Karminarsih, sesama alumnus Fakultas Kehutanan IPB. Pasangan ini dikaruniai tiga anak. "Keluarga saya sudah mengerti kalau saya jarang di rumah," ujarnya. Tahun 1982, Ketua Jurusan Konservasi Sumber Daya Hutan ini terpilih sebagai dosen teladan IPB.
|