
Nama : H. WINARNO SURAKHMAD
Lahir : Ujungpandang, 25 Agustus 1930
Agama : Islam
Pendidikan : - HIS, Parepare, Sulawesi Selatan
- SMP Nasional, Ujungpandang
- Kweekschool, Ujungpandang
- Fakultas Pendidikan UGM (1954)
- State University of New York, AS (M.Sc. ed. 1958)
- School of Education and Psychology Stanford University, AS (1963)
- Jurusan Antropologi Fakultas Sastra Unpad (selected study, 1964)
- IKIP Bandung (Doktor, 1966)
- Asian Institute for Teacher Educators, Unesco-Universitas Filipina (sertifikat, 1968)
Karir : - Direktur Proyek Nasional Penilaian Pendidikan Departemen P dan K (1971-1972)
- Pembantu Rektor III IKIP Bandung
- Ketua BP3K (Badan Penelitian, Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan) Departemen P dan K (sampai 1975)
- Rektor IKIP Jakarta (1975-1980)
- Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (1973-1979)
- Deputy Director Regional Centre for Innovation and Educational Technology SEAMEO (South East Asia Ministers of Education's Organization) Saigon, Vietnam Selatan (1973-1975)
- Wakil Ketua BP 7 (1979-1982)
- Pengajar di beberapa perguruan tinggi
- Konsultan Kependidikan (sekarang)
Kegiatan Lain : - Anggota MPR (1977-1982)
- Member Board of Director International Council on Education for Teaching, Washington, AS (1979-1981)
- Konsultan Manajemen Kependidikan Asian Development Bank, Manila
Karya : - Antara Lain: Belajar di Universitas, Penerbit Universitas, Jakarta, 1961
- Metodik Mengajarkan Konsep Berhitung, Badan Penerbit IKIP Bandung, 1965
- Indonesia (teacher education)
- in Teacher Education in Asean, Heinemman Educational Books (Asia) Ltd., Kuala Lumpur, 1976
- Pengantar Penelitian Ilmiah, Tarsito, Cetakan VII, 1980
Alamat Rumah : Jalan Budaya 8, Kemanggisan Ilir, Jakarta Barat Telp: 542787
Alamat Kantor : Konsultan Kependidikan Jalan Hayam Wuruk 96 A, Jakarta Barat
|
|
H. WINARNO SURAKHMAD
Suatu kali, murid-murid sekolah guru (Kweekschool) pada masa penjajahan Belanda di Ujungpandang disuruh menjawab mengapa mereka ingin menjadi guru. Di kertas isian, Winarno menulis: Ingin menjadi dokter -- seperti almarhum ayahnya, dr. Surakhmad. Meneer Loodwyck, Direktur Kweekschool, tidak marah, malah berusaha membimbing.
Win -- demikian panggilan akrabnya -- gagal masuk sekolah dokter karena ditinggal wafat ayahnya. Ia lalu masuk sekolah pertanian (Nogyo Chugakko) di zaman Jepang. Sayang, dua bulan sebelum ia dilantik sebagai mantri pertanian, Jepang menyerah kalah dalam Perang Dunia II. Sekolah pertanian itu bubar. Masih untung, sebagai tamatan SMP Nasional Ujungpandang yang anti- Belanda, Winarno toh diterima di Kweekschool. "Dapat beasiswa lagi," ujar anak tunggal pasangan orangtua Jawa dan Bugis (ibu) itu.
Asyiknya tugas mendidik dirasakannya pada kelas terakhir Kweekschool. Mendapat tugas mengajar anak-anak SD, Win lalu mendongeng, dan didengarkan dengan penuh minat. Pengalaman itu ternyata sangat mengesankannya. "Saya sudah menemukan dunia saya," ujar Winarno.Kini, hari-harinya sibuk sebagai konsultan pendidikan, antara lain di perusahaan kaset video Trio Tara, Jakarta. Kesibukan lainnya cukup banyak. Misalnya, menjadi manggala BP-7, dan mengajar di Seskoad. Dalam masa sepuluh tahun terakhir, Winarno, yang meraih gelar doktor ilmu pendidikan di IKIP Bandung, juga pernah menjadi anggota MPR, dan Rektor IKIP Jakarta. Sebagai konsultan pendidikan, ia pernah bertugas di Banglades dan Filipina, di samping berkunjung ke berbagai negara.
Konsepnya tentang pendidikan cukup menarik. Ia berpendapat, "Ilmu bisa diperoleh di mana pun, tanpa melalui sekolah. Kalau perlu, ilmu yang harus datang ke rumah." Winarno Surakhmad pernah mengusulkan, agar sekolah sebagai lembaga yang mengharuskan murid berhimpun serentak di suatu tempat ditiadakan. "Berikan mereka paket (buku, rekaman, atau bahan pelajaran) yang dapat dipelajari di mana saja. Ketika sedang membantu ibu di sawah, misalnya," katanya.
Anggota seumur hidup International Council on Education for Teaching (Washington DC) ini gemar melukis, dan pernah belajar pada pelukis senior Henk Ngantung. Menikah dengan R.A. Surasmini (1955), ia dikaruniai empat anak.
|