
Nama : HR Agung Laksono
Lahir : Semarang, 23 Maret 1949
Agama : Islam
Pendidikan : - Sekolah Dasar (SD), Cirebon (1961)
- Sekolah Menengah Pertama (SMP) Yayasan Perguruan Cikini, Jakarta (1964)
- Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 4, Medan (1967)
- Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia (sampai tahun keenam)
- Pendidikan Eisenhower Programme di Amerika Serikat (1990)
Karir : - Pengurus DPD I Golkar DKI Jakarta (1984-1989);
- Ketua DPP Partai Golkar (1993-sekarang)
- Sekretaris FKP MPR-RI (1993-1997);
- Wakil Ketua FKP MPR-RI (1997-1998);
- Anggota DPR/MPR-RI tiga periode (1997-1998 dan 1987-1997);
- Menteri Negara Pemuda dan Olahraga pada Kabinet Pembangunan VII (1998);
- Menteri Negara Pemuda dan Olahraga pada Kabinet Reformasi Pembangunan (1998-1999);
- Anggota MPR-RI Utusan Daerah Sulawesi Tenggara (1999 – 2004);
- Ketua DPR-RI (2004-2009)
Kegiatan Lain : - Wakil Komisaris Utama PT. Spinindo Mitradaya/PT. East Jakarta Industrial Park (EJIP) (1996 –1998).
- Pimpinan Umum Majalah Info Bisnis (1994-1998)
- Direktur Utama PT. Cakrawala Andalas Televisi (AN-TEVE) (1993-1998)
- Komisaris Utama PT. Mapalus Makawanua Charcoal Industry PMDN) di Bitung, Sulawesi Utara (1987 –1998)
Penghargaan : - Doctor Honoris Causa in International Business, Pittsburgh State University, USA (1989).
- Bintang Maha Putera Adipradana (1999)
- Adimanggalya Krida - Pembina Olah Raga (2000)
Keluarga : Istri : Sylvia Wenas
Anak :
1. Selly Kencanasari Laksono
2. Dave Akbarsyah Laksono
3. Alia Noorayu Laksono
|
|
HR Agung Laksono
HR Agung Laksono
Seorang peramal yang sekaligus artis tenar pada 1960-an, Baby Huwae, pernah meramal bahwa Agung Laksono akan menjadi tokoh muda menonjol. Ramalan itu sudah terbukti ketika ia terpilih menjadi Ketua Umum DPP Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI), 1984. Kini, tak pakai ramalan, tapi melalui Koalisi Kebangsaan yang mencalonkan Agung berlaga dalam pencalonan Ketua DPR RI, akhirnya ia terpilih memimpin Dewan yang terhormat. Koalisi Kebangsaan adalah koalisi Partai Golkar, PDI-P, Partai Damai Sejahtera, PPP, dan Partai Bintang Reformasi.
Sebelum mengenyam hiruk-pikuk dunia politik, Agung sudah berkiprah di dunia usaha. Walau ia seorang sarjana kedokteran lulusan FK-UI, Agung telah sukses sebagai pengusaha muda, dengan usahanya kala itu, PT HAS Muda Internusa--kelompok bisnis dengan berbagai kegiatan usaha. Tak mengherankan kalau ia lalu terpilih sebagai Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Jaya, 1975-1977.
Tanpa meninggalkan bisnis, pada 1979, Agung resmi menjadi kader Golkar--sebelumnya, ia hanya simpatisan. Sukses di bisnis, karir di organisasi pun mulai menanjak. Di Golkar, pertama kali ia aktif di DPD Golkar DKI sebagai Biro Pengadaan Sarana. Pada periode berikutnya, Agung pengurus DPD I Golkar DKI Jakarta, sebelum akhirnya menjadi Ketua DPP Golkar, 1993 sampai sekarang. Dengan kendaraan Golkar, Agung masuk ke Senayan, menjadi sekretaris FKP MPR, wakil ketua FPK MPR, kemudian anggota DPR selama tiga periode.
Jabatan eksekutif pun sempat ia emban: Menteri Negara Pemuda dan Olahraga pada Kabinet Pembangunan VII (1998), pada era Soeharto. Ketika Soeharto lengser dari tampuk kekuasaan, dan digantikan Habibie, Agung menempati posisi yang sama. Karirnya tak surut walau ia tak menjabat lagi sebagai menteri; Agung masih berkiprah di pentas politik sebagai anggota MPR Utusan Daerah Sulawesi Tenggara, selain sebagai Ketua DPP Golkar Korbid Organisasi, Keanggotaan, dan Kader.
Tampaknya cahaya kemujuran masih menyinari karir politiknya. Sebagai Ketua DPR periode lima tahun ke depan, ia akan banyak menentukan peta perpolitikan negeri ini. Dalam pidato seusai pengambilan sumpah di hadapan Ketua Mahkamah Agung Bagir Manan, dini hari 2 Oktober 2004, ia mengatakan akan berupaya menjadikan DPR sebagai 'rumah rakyat'. Salah satu prioritasnya mengangkat citra lembaga DPR yang selama ini terkesan negatif di mata rakyat. "Kita minta menegakkan disiplin keanggotaan. Tingkat kehadiran menjadi tanggung jawab masing-masing fraksi dengan mengontrol anggotanya, menjaga kode etik anggota. Kalau tidak benar juga harus di recall. Jadi kita tidak hanya bertindak tegas ke luar saja, ke pemeritahan saja, tapi juga ke dalam," katanya.
Adapun prioritas yang ditekankan terhadap pemeritah: "Pengawasan, kontrol dengan paradigma tidak apriori. Tapi justru mengembangkan sinergi," ujarnya lagi.
Lelaki serius ini menikahi gadis Kawanua, Silvia Amelia Wenas, pada 1973, dan dikaruniai tiga anak.
(Pusat Data dan Analisa Tempo (PDAT))
|