
Nama : HARRY TJAN SILALAHI
Lahir : Yogyakarta, 11 Februari 1934
Agama : Katolik
Pendidikan : - SD, SMP, SMA, Yogyakarta
- FH UI, Jakarta (1962)
Karir : - Anggota IPPI (1952)
- Ketua PMKRI Pusat (1961-1962)
- Sekjen Front Pancasila (1965)
- Pendiri Universitas Trisakti (1966)
- Sekjen Partai Katolik Indonesia
- Anggota DPR (1967-1971)
- Ketua Partai Katolik Indonesia (1971)
- Anggota DPA (1978-1983)
- Direktur CSIS (1971-sekarang)
Alamat Rumah : Jalan Makaliwe Raya 37 B, Grogol, Jakarta Barat Telp: 591025
Alamat Kantor : Jalan Tanah Abang III No. 27, Jakarta Pusat Telp: 356532
|
|
HARRY TJAN SILALAHI
Kehidupan masa kecil Harry Tjan Tjoen Hok, anak kedua dari sepuluh bersaudara, serba sulit. Ayahnya buta huruf, ibunya penjual makanan kecil dan gudeg. Kedua orangtua itu mengharapkan Harry menjadi orang berpendidikan. "Saya tidak pernah berpikir bisa menjadi dokter atau sarjana hukum," ceritanya.
Selain gemar berorganisasi, di sekolah ia menyenangi pelajaran sejarah, kesenian, dan ilmu kemasyarakatan. Ketika di SMA di kota kelahirannya, Harry anggota organisasi peranakan Cina, Chung Lien Hui. Di masa kepemimpinannya, organisasi ini beralih nama menjadi Persatuan Pelajar Sekolah Menengah Indonesia (PPSMI). Ia juga aktif di Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI).
Setelah tamat SMA, Harry pindah ke Jakarta dan kuliah di Fakultas Hukum UI hingga lulus, 1962. "Ijazah belum saya ambil sampai sekarang. Soalnya, di kantor saya tidak pernah ada yang menanyakan ijazah. Lagi pula, yang penting 'kan kemampuan," kata Direktur Centre for Strategic and International Studies (CSIS) ini.Semasa kuliah di Jakarta, ia aktif di perkumpulan Sin Ming Hui, dan Perkumpulan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI). Giat di bidang sandiwara, ia pernah main dalam Taufan arahan Teguh Karya, malah pernah menyutradarai Mawar Hutan. Terpilih sebagai Ketua PMKRI, kemudian Sekjen Partai Katolik Indonesia, ia kemudian anggota DPRGR, dan mengetuai Komisi I.
Namanya mulai terkenal setelah aktif memimpin pengganyangan G-30-S/PKI, dan menjadi Sekjen Front Pancasila. Giat dalam gerakan pembauran, aktivitasnya di Partai Katolik mengantarkan ia ke kedudukan sebagai ketua, hingga peleburan ke dalam Partai Demokrasi Indonesia (PDI).
Pada saat itulah ia memperoleh marga Silalahi lewat persahabatannya dengan Abe, alias Albertus Bolas Silalahi, yang juga pernah memimpin Partai Katolik. Harry sebagai sekjen pengurus pusat, dan Abe ketua di Tapanuli Utara. "Saya dianggap keluarga penuh," tuturnya. "Punya orangtua, kakak, adik, keponakan, juga sawah dan ladang." Usai pemilu 1971, Harry tidak lagi giat di dunia kepartaian. Ia memilih kegiatan di CSIS dan Yayasan Pendidikan Trisakti. Di yayasan ini ia mengetuai bidang kemasyarakatan. Menikah dengan Theresia Marina, dosen sastra Inggris FS UI, ia kini ayah dua anak. Penggemar olah raga renang ini biasa melakukan lari pagi, atau bersepeda. Masih tetap senang membaca, ia pengagum Dr. Cipto Mangunkusumo, Ki Hajar Dewantoro, Bung Karno, Bung Hatta, juga Soeharto.
|