A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | R | S | T | U | V | W | Y | Z

HARI SUHARTO




Nama :
HARI SUHARTO

Lahir :
Yogyakarta, 26 Mei 1923

Agama :
Islam

Pendidikan :
- SD
- SMP
- SMA
- Akademi Militer, Yogyakarta (1948)
- Akademi Hukum Militer/PTHM (1963)


Karir :
- Anggota Laskar Perjuangan Pemuda di Bandung (1945)
- Perwira Penghubung AD (1948-1949)
- Jaksa Tentara di Yogyakarta (1960)
- Ketua Pengadilan Tentara di Yogyakarta (1962)
- Kepala Inspektorat Mahkamah Militer Kodam XIV Hasanuddin (1964)
- Inspektur Jenderal Departemen Perindustrian (1964-1966)
- Irjen Departemen Pertanian (1966-1973)
- Sekjen Departemen Kehakiman (1979)
- Ketua BP-7 (1979-1984)
- Jaksa Agung RI (1984 -- sekarang)


Alamat Rumah :
Jalan Tulodong Bawah II No. 6, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan Telp: 586323, 582807

Alamat Kantor :
Jalan Hasanuddin, Jakarta Selatan Telp: 774061

 

HARI SUHARTO


Sehari-harinya ia tampak lembut, selalu dengan senyum dikulum. Bawahannya di Badan Pembinaan Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (BP-7) mengenalnya sebagai orang yang tidak bisa marah. Tetapi ini tidak berarti, Hari Suharto tidak mampu bersikap tegas. Setelah pelantikannya sebagai jaksa agung, 30 Mei 1984, ia menegaskan, "Tidak ada kompromi dalam masalah korupsi."

Purnawirawan TNI dengan pangkat terakhir mayor jenderal ini memulai kariernya lewat jalur militer. Segera setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, ia tercatat sebagai anggota laskar pemuda di Bandung. November 1945, Hari masuk Akademi Militer Yogyakarta, angkatan pertama, dan langsung menyandang pangkat letnan dua setelah lulus dari sana tiga tahun kemudian. Pada 1948-1949, ia bergabung dengan kelompok perwira penghubung antara A.H. Nasution (kini jenderal purnawirawan), Kolonel dr. Moestopo, dan Soeharto (kini, Presiden RI).

Sarjana hukum lulusan Perguruan Tinggi Hukum Militer (PTHM), 1962, itu mulai "berdwifungsi" sejak 1967. Mula-mula sebagai Inspektur Jenderal Departemen Pertanian, kemudian Sekretaris Jenderal Departemen Kehakiman, lalu, sejak 1979, menjadi Kepala BP-7.Soal pemberantasan korupsi memang terasa santer begitu Hari Suharto menjadi jaksa agung. Dalam rapat kerja dengan Komisi III DPR, September 1984, ia mengaku kurang puas dengan penanganan beberapa perkara korupsi, yang kemudian dibebaskan oleh pengadilan. Misalnya, pada 1983-1984, ada 34 perkara tindak pidana khusus korupsi dan penyelundupan, yang diputus bebas oleh hakim.

Mei 1985, juga dalam rapat kerja Komisi III DPR, ia mengungkapkan sembilan jenis modus operandi tindak pidana korupsi di lingkungan perbankan. Satu di antaranya dengan modus kredit macet, yang menyebabkan negara dirugikan Rp 6,85 milyar. Setelah ditangani oleh Tim Koordinasi Peningkatan Pengembalian Kredit Program Masal, jumlahnya bisa diperkecil. "Dari jumlah itu, yang sudah pasti kembali Rp 2,5 milyar," ujar Hari.

Jaksa Agung yang mengumandangkan "bertindak tegas, korek, dan manusiawi" sebagai tiga sikap dasar setiap aparat kejaksaan ini beranggapan bahwa menegakkan hukum tidak harus dilakukan dengan kekerasan. "Bukan kekerasan," tukasnya ketika dipancing seorang wartawan. "Tetapi ketegasan berdasarkan hukum atau peraturan yang berlaku," kata Hari. "Untuk menghukum orang tidak perlu melotot!"

Mengenai pembangunan hukum dalam masa Pelita IV, ia menunjuk tiga unsur pokoknya: pembaruan hukum, penegakan hukum, dan peningkatan kesadaran hukum masyarakat.

Revolusi ternyata mempertemukan pemuda Hari dengan R.R. Murtadariah, yang menjadi istrinya sejak 1953. "Saya dan istri saya itu, dulu, sama-sama bergerilya. Ia adik teman saya," katanya. Konon, R.R. Murtadariah, waktu itu, bergabung dengan Palang Merah Indonesia (PMI), dan termasuk salah seorang dari The Seven Black Swans, julukan untuk tujuh anggota intel wanita yang berseragam hitam-hitam. Hari mengaku mulai tertarik setelah menyaksikan betapa telatennya Murtadariah merawat seorang kapten TNI yang luka parah. "Tiap pagi saya lihat ia menyuapinya. Lalu dalam hati, saya berkata, 'Mungkin inilah wanita yang saya dapat ajak hidup menderita,"' tutur Hari Suharto, belakangan.

Dari istri yang kemudian pernah menjadi guru Sekolah Guru Kepandaian Putri, Jalan Sutomo, Jakarta Pusat, ini, Hari mendapat tiga anak. Karena istrinya guru, pendidikan anak- anaknya -- semua sudah duduk di perguruan tinggi -- menjadi dipermudah. "Saya dan istri sepakat tidak ingin mencetak kepandaian anak. Kami cuma mengarahkan menurut bakat dan kemauan mereka," katanya.

Copyright PDAT 2004

comments powered by Disqus

 


H. ABUBAKAR ALDJUFRIE | H. ALI BUDIARDJO | H. AMRAN ZAMZAMI | H. BURHANUDDIN MOHAMMAD DIAH | H. GINANDJAR KARTASASMITA | H. IRAWAN SARPINGI | H. LUKMAN UMAR | H. MAHBUB DJUNAIDI | H. MASAGUNG | H. MOCHAMMAD SYAH MANAF | H. MOHAMAD RASJIDI | H. MUHAMMAD SAID | H. MUHAMMAD SULCHAN | H. RIDWAN SAIDI | H. ROESLAN ABDULGANI | H. ROESMIN NOERJADIN | H. ROSIHAN ANWAR GELAR SUTAN MALINTANG | H. SAINAN SAGIMAN | H. SOELARTO REKSOPRODJO | H. SOEWANDI | H. SOMALA WIRIA | H. TEUKU HADI THAYEB | H. WINARNO SURAKHMAD | H. WIRATMAN WANGSADINATA | HADI SUKADI ALIKODRA | HAJI ANDI TABUSALLA | HAJI RADEN MUHAMMAD YOGIE SUARDI MEMET | HAMID ALGADRI | HAMZAH HAZ | HANDOKO TJOKROSAPUTRO | HANS BAGUE JASSIN | HANS WESTENBERG | HARDIJONO | HARDJANTHO SUMODISASTRO | HARI SUHARTO | HARIADI PAMINTO SOEPANGKAT | HARJONO NIMPOENO | HARJONO TJITROSOEBONO | HARLAN BEKTI | HARMOKO | HAROEN AL RASJID | HARRY DARSONO | HARRY TJAN SILALAHI | HARSJA WARDHANA BACHTIAR | HARSUDIYONO HARTAS | HARTARTO SASTROSOENARTO | HARTINI SOEKARNO | HARTONO REKSO DHARSONO | HARUN NASUTION | HARYATI SOEBADIO | HARYONO SUYONO | HASAN BASRI | HASAN POERBOHADIWIDJOJO | HASAN Slamet | HASJRUL HARAHAP | HASTOMO ARBI | HASUDUNGAN SIMANDJUNTAK | HEMBING WIJAYAKUSUMA | HENDRA ESMARA | HENDRA HADIPRANA | HENDRA KARTANEGARA (TAN JOE HOK) | HENDRA RAHARDJA | HENDRICK GOZALI ALIAS GOUW HIAP KIAUW | HENDRIKUS GERARDUS RORIMPANDEY | HENRIETTE MARIANNE KATOPPO | HERAWATI DIAH | HERMAN JOHANNES | HERMAN SARENS SUDIRO | HETTY KOES ENDANG | HIDAYAT MUKMIN | HILDAWATI SIDDHARTHA (HILDAWATI SOEMANTRI) | HILMAN Adil | HISKAK SECAKUSUMA | H.J. HANDOYO LUKMAN (LOOGMAN) | H.M. BAHARTHAH | H.M. JUSUF HASJIM | H.M.A. SAHAL MAHFUDH | HOEGENG IMAN SANTOSA | HUSAIN DJOJONEGORO | HUZAI JUNUS DJOK MENTAYA | Hotma Sitompoel | HR Agung Laksono | Hidayat Nur Wahid | Hamid Awaluddin | Hatta Radjasa


Arsip Apa dan Siapa Tempo ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq