A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | R | S | T | U | V | W | Y | Z

Hatta Radjasa




Nama :
M. Hatta Radjasa

Lahir :
Palembang, 18 Desember 1953

Agama :
Islam

Pendidikan :
Teknik Perminyakan Institut Tehknologi Bandung

Karir :
- Teknisi Lapangan PT Bina Patra Jaya, 1977 -1978
- Wakil Manager teknis PT Meta Epsi, 1980 -1983
- Presiden Direktur Arthindo, 1982- 2000
- Ketua Fraksi Partai Reformasi DPR, 1999 - 2000 
- Sekretaris Jenderal Partai Amanat Nasional (DPP-PAN), 2000-2005 
- Menteri Riset dan Teknologi Kabinet Gotong Royong, 2001-2004
- Menteri Perhubungan pada Kabinet Indonesia Bersatu, 2004-2009


Keluarga :
Istri: Drg Oktiniwati Ulfa Dariah Anak: Reza, Aliya, Azimah, dan Rasyid

Alamat Rumah :
Perumahan Executive Golf Kav.26, JI. RS. Fatmawati, Jakarta 12430 

Alamat Kantor :
Jalan Medan Merdeka Barat No. 8, Jakarta Pusat

 
 

Hatta Radjasa 
Disiplin Sejak Dini 

Sebagai Menteri Perhubungan, di saat-saat menjelang Lebaran dan sesudahnya Hatta Radjasa sangat sibuk untuk mempersiapkan pelayanan transportasi arus mudik dan arus balik. Karena itulah ia harus bekerja keras dan disiplin--suatu hal yang sudah ia terapkan sejak masa kanak-kanak.

Dibesarkan dalam keluarga pegawai negeri, lelaki kelahiran Palembang, 18 Desember 1953, ini sudah terbiasa hidup sederhana dan disiplin. Ketika lulus dari sekolah dasar, bersamaan dengan jabatan baru sang ayah sebagai asisten wedana di daerah Muarakuang, Hatta kecil dititipkan di rumah pamannya di Palembang. Di rumah sang paman itulah ia belajar hidup bersama orang lain, belajar mengendalikan diri, dan saling menolong dalam berbagai hal. Sadar sebagai “orang titipan”, ia tidak bisa seenaknya seperti di rumahnya sendiri. Ia pun membantu pekerjaan-pekerjaan rumah seperti mengisi bak air di pagi hari sebelum berangkat sekolah. Itu dilakukan sampai SMA.

Lulus SMA, Hatta melanjutkan studi di Jurusan Teknik Perminyakan, Institut Teknologi Bandung (ITB). Tentu ia tak hanya kuliah. Hatta juga belajar berorganisasi dengan mengikuti berbagai kegiatan di kampus, dari wakil ketua himpunan jurusan, senat mahasiswa, sampai aktivis Masjid Salman. Bagaimanapun aktivitas kemahasiswaan itu kian mematangkan aspek rasional, emosional, dan religiusitasnya. Sebagai aktivis mahasiswa, kadang pemikirannya berseberangan dengan pemerintah pada saat itu. Mungkin lantaran hal ini cita-citanya sebagai dosen kandas. 

Bukan masalah kalaupun cita-cita itu gagal. Setamat ITB, ia mendapat tawaran dari beberapa perusahaan, dengan gaji besar. Namun karena semangat kemandirian, akhirnya memilih berusaha sendiri. Bersama teman-temannya ia pun mendirikan usaha di bidang perminyakan. Kerja keras, kemandirian, kejujuran, dan kemampuan bekerja sama dengan orang lainlah yang akhirnya membawanya menjadi seorang pengusaha yang sukses. Sejak tahun 1982 sampai 2000 ia menjabat Presiden Direktur Arthindo. 

Dunia usaha itu pun akhirnya ditinggalkannya ketika ia memutuskan terjun ke gelanggang politik, bergabung ke Partai Amanat Nasional (PAN). Seluruh perusahaannya dijual. Sebuah keputusan yang luar biasa dan harus dipikir secara matang. Sekali berpolitik maka ia tidak akan menyentuh bisnis, harus dilepaskan semua.

Apa yang dipilihnya tidak sia-sia. Setahun setelah PAN terbentuk, ia dipercaya menjabat Menteri Riset dan Teknologi pada Pemerintahan Megawati Soekarnoputri. Berikutnya pada Kabinet Indonesia Bersatu, Hatta ditunjuk sebagai Menteri Perhubungan. Sementara itu dalam kepengurusan PAN, ia pernah menjabat Sekjen periode 2000-2005. Pada pemilihan ketua PAN 2005 Hatta maju mencalonkan diri walau akhirnya tak terpilih. 

Hatta punya prinsip: tidak akan membawa masalah partainya ke dalam pekerjaannya sebagai menteri; begitu pun sebaliknya. Satu keinginannya yang besar: memajukan bangsa Indonesia. Pilihan terjun ke dunia politik adalah salah satu langkah yang bisa dilakukannya. 

Tokoh yang dikagumi adalah Soekarno dan Amien Rais. Sebagai menteri, juga pengurus partai, Hatta sangat sibuk sehingga tak punya waktu luang untuk keluarga. Toh, pada akhirnya sang istri, Oktiniwati Ulfa Dariah--seorang dokter gigi--dan keempat anaknya pun mengerti dan mendukung sepenuh hati. (Sisilia Pujiastuti/PDAT/Berbagai Sumber)

comments powered by Disqus

 


H. ABUBAKAR ALDJUFRIE | H. ALI BUDIARDJO | H. AMRAN ZAMZAMI | H. BURHANUDDIN MOHAMMAD DIAH | H. GINANDJAR KARTASASMITA | H. IRAWAN SARPINGI | H. LUKMAN UMAR | H. MAHBUB DJUNAIDI | H. MASAGUNG | H. MOCHAMMAD SYAH MANAF | H. MOHAMAD RASJIDI | H. MUHAMMAD SAID | H. MUHAMMAD SULCHAN | H. RIDWAN SAIDI | H. ROESLAN ABDULGANI | H. ROESMIN NOERJADIN | H. ROSIHAN ANWAR GELAR SUTAN MALINTANG | H. SAINAN SAGIMAN | H. SOELARTO REKSOPRODJO | H. SOEWANDI | H. SOMALA WIRIA | H. TEUKU HADI THAYEB | H. WINARNO SURAKHMAD | H. WIRATMAN WANGSADINATA | HADI SUKADI ALIKODRA | HAJI ANDI TABUSALLA | HAJI RADEN MUHAMMAD YOGIE SUARDI MEMET | HAMID ALGADRI | HAMZAH HAZ | HANDOKO TJOKROSAPUTRO | HANS BAGUE JASSIN | HANS WESTENBERG | HARDIJONO | HARDJANTHO SUMODISASTRO | HARI SUHARTO | HARIADI PAMINTO SOEPANGKAT | HARJONO NIMPOENO | HARJONO TJITROSOEBONO | HARLAN BEKTI | HARMOKO | HAROEN AL RASJID | HARRY DARSONO | HARRY TJAN SILALAHI | HARSJA WARDHANA BACHTIAR | HARSUDIYONO HARTAS | HARTARTO SASTROSOENARTO | HARTINI SOEKARNO | HARTONO REKSO DHARSONO | HARUN NASUTION | HARYATI SOEBADIO | HARYONO SUYONO | HASAN BASRI | HASAN POERBOHADIWIDJOJO | HASAN Slamet | HASJRUL HARAHAP | HASTOMO ARBI | HASUDUNGAN SIMANDJUNTAK | HEMBING WIJAYAKUSUMA | HENDRA ESMARA | HENDRA HADIPRANA | HENDRA KARTANEGARA (TAN JOE HOK) | HENDRA RAHARDJA | HENDRICK GOZALI ALIAS GOUW HIAP KIAUW | HENDRIKUS GERARDUS RORIMPANDEY | HENRIETTE MARIANNE KATOPPO | HERAWATI DIAH | HERMAN JOHANNES | HERMAN SARENS SUDIRO | HETTY KOES ENDANG | HIDAYAT MUKMIN | HILDAWATI SIDDHARTHA (HILDAWATI SOEMANTRI) | HILMAN Adil | HISKAK SECAKUSUMA | H.J. HANDOYO LUKMAN (LOOGMAN) | H.M. BAHARTHAH | H.M. JUSUF HASJIM | H.M.A. SAHAL MAHFUDH | HOEGENG IMAN SANTOSA | HUSAIN DJOJONEGORO | HUZAI JUNUS DJOK MENTAYA | Hotma Sitompoel | HR Agung Laksono | Hidayat Nur Wahid | Hamid Awaluddin | Hatta Radjasa


Arsip Apa dan Siapa Tempo ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq