
Nama : HARUN NASUTION
Lahir : Pematangsiantar, Sumatera Utara, 23 September 1919
Agama : Islam
Pendidikan : - Verklaring HIS, Pematangsiantar (1934)
- Modern Islamietische Kweekschool, Bukittinggi (1937)
- Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir (1940)
- Fakultas Ushuluddin Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir (1942)
- Studi Sosial Universitas Amerika, Kairo, Mesir (1952)
- Universitas McGill, Montreal, Kanada, AS (M.A., 1965
- Doktor, 1968)
Karir : - Pegawai Perwakilan RI, Kairo (1947-1950)
- Sekretaris III Kedutaan Besar RI, Kairo (1950-1958)
- Dosen (1969-sekarang), Wakil Rektor I (1970-1973)
- kemudian Rektor IAIN, Jakarta (1973-1984) Dosen Agama, merangkap Ketua Lembaga Pembinaan Pendidikan Agama IKIP Negeri, Jakarta (1970-sekarang)
- Dosen Filsafat Islam Unas (1971-sekarang)
- Dosen Filsafat Islam UI (1975-sekarang)
- Dekan Fakultas Pascasarjana IAIN, Jakarta (1982-sekarang)
Karya : - Teologi Islam, Aliran-aliran, Sejarah, Analisa dan Perbandingan, UI Press (1972)
- Falsafat dan Mistisisme dalam Islam, Bulan Bintang (1973)
- Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Bulan Bintang (1974)
- Kedudukan Akal dalam Islam, Idayu (1979)
- Akal dan Wahyu dalam Islam, UI Press (1982)
- Konsep Manusia Menurut Ajaran Islam, IAIN Syarif Hidayutullah (1982)
Alamat Rumah : Jalan Kampung Utan, Cempaka Putih, Ciputat, Jakarta Selatan
Alamat Kantor : Jalan Ciputat Raya, Jakarta Selatan
|
|
HARUN NASUTION
"Dulu orang takut kepada akal," kata Harun Nasution. "Tetapi, kemudian, ada perubahan." Itulah kesimpulan ahli filsafat Islam itu tentang IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, setelah 11 tahun berada di bawah pimpinannya. Maret 1984, kedudukannya sebagai Rektor Institut Agama Islam Negeri tersebut digantikan oleh tokoh lebih muda, Drs. Ahmad Sadali.
Dikenal sebagai tokoh yang sangat memuji "peranan akal dalam agama", Harun sempat disebut "terlalu liberal". Misalnya dalam kasus Dr. Karel A. Steenbrink, sarjana perbandingan agama dari Universitas Katolik Nijmegen, Belanda, yang diberinya tugas mengajar pada program pascasarjana. Soalnya, Steenbrink yang memang bukan Muslim pernah menyatakan secara terbuka, ia tidak mempercayai Quran sebagai wahyu. Reaksi pun timbul dari seorang tokoh agama: perlukah sarjana seperti Steenbrink diberi tempat di IAIN?
Masa kecil Harun sama seperti anak-anak lain: suka main sepak bola, bulu tangkis, mendaki gunung, dan aktif di kepanduan (Pramuka). Ayahnya, H.A. Jabbar Nasution, seorang kadi, mendidiknya taat beragama, dan mengharapkan anak keempat dari tujuh bersaudara itu kelak menjadi ulama besar. Pada usia tujuh tahun, Harun sudah lancar membaca Quran.Menamatkan Modern Islamietische Kweekschool (MIK) di Bukittinggi, 1937, tadinya ia ingin masuk sekolah guru di Yogyakarta. Tetapi, orangtuanya mengirimnya langsung ke Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir. Dari aliyah (SMA), ia masuk Fakultas Ushuluddin, lalu melanjutkan ke Jurusan Studi Sosial Universitas Amerika, juga di Kairo.
Setelah 12 tahun, Harun pulang ke Indonesia dan bekerja di Departemen Luar Negeri. Tetapi, setelah menjabat Sekretaris III Kedutaan Besar RI di Brasil, ia minta berhenti untuk mengambil gelar M.A. pada Universitas McGill, Montreal, Kanada, 1965. Studi tentang Islam diperdalamnya lagi di universitas itu, sampai meraih gelar doktor, 1968, dengan disertasi The Place of Reason in Abduh's Theology, it's Impact on His Theological System and Views.
Walaupun dinilai terlalu "liberal", pola pengembangan pemikirannya, tentu, tetap pada Quran dan Hadis. Ia menolak kecenderungan anggapan yang menyatakan pintu ijtihad dalam Islam telah ditutup -- hal yang di Indonesia telah dirintis juga oleh H.O.S. Tjokroaminoto, K.H. Achmad Dahlan, dan K.H. Agus Salim.
Dekan Fakultas Pascasarjana IAIN Jakarta ini menggemari sepak bola dan jogging. Ia menikah dengan Sayedah Tawfik, dan mengangkat tiga anak.
|