
Nama : H. ROESMIN NOERJADIN
Lahir : Malang, Jawa Timur, 31 Mei 1930
Agama : Islam
Pendidikan : - SD, Karanganyar (1942)
- SMP, Purworejo (1947)
- SMA, Semarang (1950)
- Sekolah Perwira Penerbang AURI, Kalijati (1954)
- RAF'S Flight Instructor School (1955)
- Defence Staff College Wellington, India
Karir : - TRIP Brigade 17 Detasemen III (1947-1950)
- Pjs Dan Skuadron III Pemburu (1953-1955)
- Dan Skuadron III Pemburu (1955-1958)
- Penjabat Komandan Skuadron XI (1958-1962)
- Kastaf Kohanudnas (1962-1963)
- Kastaf Kohanud (1963-1964)
- Atase Udara KBRI Bangkok (1964-1965)
- Atase Udara KBRI Moskow (1965-1966)
- Menteri Pangau (1966-1970)
- Dubes RI untuk Inggris (1970-1974)
- Dubes RI untuk AS (1974-1978)
- Menteri Perhubungan (1978-sekarang)
Kegiatan Lain : - Anggota MPR
- Ketua Dewan Telekomunikasi
Alamat Rumah : Jalan Perdatam 14 A, Pancoran, Jakarta Selatan Telp: 792447
Alamat Kantor : Jalan Merdeka Barat 8, Jakarta Pusat Telp: 366332
|
|
H. ROESMIN NOERJADIN
Perawakannya yang atletis tampak kukuh. Tegap, ganteng, dan tampan berkumis. Sebagai menteri perhubungan, ia menjalani masa jabatan yang kedua, sejak 1983. Ketika menanggapi berbagai kritik masyarakat mengenai pelabuhan udara Cengkareng, sekarang bandar udara (bandara) SoekarnowHatta, setiap kritik cermat dicatat stafnya, untuk dicocokkan dengan kenyataan.
Marsekal purnawirawan ini menganggap setiap kritik cukup serius, dan sangat bermanfaat. Kendati tidak semuanya benar, "Ada di antara kritik itu datang dari orang yang memang menguasai teknis bandara internasional," tuturnya. Berdasarkan itu, ia melakukan perbaikan dan penertiban, 1985.
Buktinya, antara lain, koridor dan ruang tunggu dipasangi alat pendingin, juga anjungan pengantar. Yang terakhir malah diperkuat dengan semen, demi keselamatan, dan agar enak dipandang. Penghijauan pun ditertibkan. "Di sini ada ketidakwajaran," katanya. "Masa, ada pohon hias harganya Rp 1 juta." Padahal, diperlukan 60 pohon. "Bayangkan, untuk itu harus dikeluarkan Rp 60 juta. Ini benar-benar keterlaluan."
Setiap hari, lelaki yang pernah menjadi anggota MPR dan Ketua Dewan Telekomunikasi, ini memikirkan bagaimana meningkatkan jasa semua sektor perhubungan. Tidak hanya di udara, tetapi juga di laut, dan di darat. Dilakukannya pembangunan kantor- kantor pos dan giro, juga angkutan sungai, danau, dan penyeberangan.
Suatu kali di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), 1982. Dalam suatu perjalanan dinas, ia menempuh jalan darat yang amat buruk, 37 km, memakan waktu lebih dari empat jam. "Saya hampir putus asa," katanya. Kepada Gubernur NTT saat itu, Ben Mboy, ia mengharap "kerja keras, agar ciri orang merdeka tercermin di NTT". Salah satu ciri itu, menurut sang menteri, ialah, leluasa bergerak ke mana saja, dengan sarana apa saja, dan setiap saat.
Melakukan kunjungan dinas, ia kerap mengemudikan sendiri bis rombongan, juga pesawat terbang. Tatkala ke Merauke, ia mengambil alih tugas pilot, menerbangkan sendiri pesawat khusus Gruman Gulfstream (PAS) PKwPKJ, 1983. Pada tahun itu, ia baru saja menertibkan penggunaan kendaraan pribadi, dengan mengenakan pajak yang lebih tinggi. "Untuk mengembangkan pola bis kota, dan taksi," katanya.
Sering bersafari, di Sumatera ia menelusuri jalan darat, lalu singgah meninjau Balai Yasa Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) di Pulobrayan, Medan, 1984. Di sini dirakit berbagai jenis gerbong untuk umum (GW), semen (TTW), batu (YYW), dan tangki minyak kelapa sawit.
Pada tahun yang sama, ia meresmikan penggunaan perdana dua kereta api penumpang produk PT Industri Kereta Api (Inka) di Madiun, Jawa Timur. Tahun berikutnya, ia menyaksikan penyelesaian ke-200 dari 864 gerbong pupuk di PT Inka -- subkontraktor, untuk pengadaan gerbong Pupuk Sriwidjaja (Pusri).
Anak ketiga dari lima bersaudara, putra S. Bakri petani dari Jawa Timur, ini memasuki dinas militer sejak berusia 15 tahun. Ia bergabung dengan TRIP Brigade 17 Detaseman III, beroleh pendidikan Sekolah Perwira Penerbang di Kalijati, dan kemudian Defence Staff College Wellington, India. Setelah itu, ia pernah memangku jabatan komandan skuadron pemburu.
Pada usia 32, Roesmin atase Angkatan Udara di Bangkok, Muangthai, dan kemudian di Moskow, Uni Soviet. Sebelum menjadi dubes RI di Inggris, dan kemudian di Amerika Serikat, Roesmin menjabat Menteri/Panglima TNI-AU, 1966. Kembali ke tanah air, ia menggantikan Emil Salim sebagai menteri perhubungan, sejak 1978.
Menikah dengan R.A. Soeryati, Roesmin dikaruniai tiga anak. Ia gemar membaca, dan bermain golf.
|