
Nama : HAJI RADEN MUHAMMAD YOGIE SUARDI MEMET
Lahir : Cirebon, Jawa Barat, 16 Mei 1929
Agama : Islam
Pendidikan : -SP3AD (1952)
-Seskoad
Karir : - Tentara Pelajar Batalyon 400 (1945-1946)
- Dan Yon 330 Para (1960) ; Komandan Kodim di Bandung
- Kepala Staf Brigade Lintas Udara 17
- Komandan Brigade Infanteri 15 Kujang II
- Komandan Jenderal Kopassandha
- Panglima Kodam VI/Siliwangi di Bandung
- Panglima Komando Wilayah Pertahanan II di Yogyakarta
- Gubernur Jawa Barat (1985 -- sekarang)
Alamat Kantor : Jalan Diponegoro 22, Bandung
|
|
HAJI RADEN MUHAMMAD YOGIE SUARDI MEMET
Sekali di masa lampau, anak seorang serdadu Belanda sedang mematah-matahkan potlot Otong, ketika Didi datang. Teguran Didi tidak diterima sang putra serdadu, dan kedua murid HIS Majalengka, 1940, itu sepakat berduel. Perkelahian dimenangkan Didi. Ia memang "berani, tegas, dan tidak curang," komentar Otong, alias dr. H.A. Abi Kusna, anggota DPRD Jawa Barat, tentang teman SD-nya itu. Didi itulah yang kini dikenal sebagai Yogie Suardi Memet, Gubernur Jawa Barat.
Dahulu, Didi ingin menjadi veld politie. Anak pasangan haji itu sangat mengagumi polisi yang di matanya mesti berpedang panjang dan bermisai melintang. Tetapi, begitu pecah Revolusi, bergabung dengan Tentara Pelajar (TP) Batalyon 400, dengan daerah operasi Cirebon.
Orang mulai terkesan akan kepemimpinan Yogie ketika ia menjabat Komandan Yon 330 Kujang I Siliwangi, dan ditugasi menghadapi gerombolan DI/TII Kahar Muzakkar di Sulawesi. Ia bertekad: pasukannya tidak akan pulang ke Bandung sebelum Kahar tertangkap.
Dibandingkan dengan rekan seangkatannya, pangkat Yogie cepat melesat. Dua kali ia menjadi siswa sekolah militer terpandai, di Suslapa dan di Sesko ABRI. Namun, anak kedua dari sembilan bersaudara ini suka merendah. "Tak ada yang bisa saya banggakan sebagai dasar, sebab saya bukan lulusan Militaire Academie, Akmil, atau Breda," ujar Yogie, yang sebelum menjabat Gubernur menjadi Panglima Komando Wilayah Pertahanan II.
Bekas Panglima Kodam VI/Siliwangi dan Komandan Jenderal Kopassandha (kini Kopassus) ini menganggap Jawa Barat banyak ketinggalan dibandingkan dengan daerah lain. Ia berkata, dalam masa 17 tahun pertama setelah Kemerdekaan, daerah itu terus- menerus dikacau gerombolan DI/TII. Yogie bertekad, pada akhir Pelita IV, Jawa Barat dapat menggondol penghargaan Parasamya Purnakarya Nugraha. "Kami memang terlambat, tetapi kami akan menyusul," ujarnya.
Bertubuh atletis, berkumis tipis, Yogie selalu tampil rapi di dalam kesederhanaannya. Rumah pribadinya di Ciumbuleuit, di kaki Gunung Tangkubanperahu, terlalu sederhana bagi seorang jenderal. Tidak terdapat perabotan mahal di dalamnya. Tidak seorang pun di antara dua anaknya yang berani memakai mobil dinasnya.
Sikap militer ini terbiasa pula bagi istrinya, Emmy Sariamah. Tetapi, Yogie mengaku, hatinya tidak kasar. "Sesungguhnya Allah tidak melihat dirimu, rupamu, tetapi melihat hatimu," ujarnya mengutip hadis Nabi Muhammad saw. Bekas anak pesantren ini rajin sembahyang, bahkan mampu memberikan ceramah agama.
Sebelum dilantik menjadi gubernur, Yogie sebetulnya bercita- cita menghabiskan masa pensiunnya sebagai lurah di Pangalengan. "Saya ingin kembali ke desa, sambil mengurus warisan orangtua," ujarnya.
|