
Nama : HENDRA KARTANEGARA (TAN JOE HOK)
Lahir : Bandung, Jawa Barat, 11 Agustus 1937
Agama : Protestan
Pendidikan : - SD
- SMP
- SMA Bandung
- Premedical Major in Chemistry & Biologi Universitas Baylor, Texas, AS (1959-1963)
Karir : - Juara Kejurnas Surabaya (1956)
- Anggota Tim Bulu Tangkis Indonesia yang merebut Piala Thomas di Singapura (1958)
- Juara All England (1959)
- Anggota Tim Thomas Cup Indonesia (1964-1967)
- Pelatih bulu tangkis di Meksiko (1969-1970)
- Pelatih bulu tangkis di Hong Kong (1971)
- Pelatih Tim Thomas Cup Indonesia di Kuala Lumpur (1984)
- Pelatih bulu tangkis PB Jarum Kudus
- Pelatih Olah Raga Terbaik SIWO PWI Jaya (1984)
Kegiatan Lain : - Direktur Mandala Pest Control (sejak 1973- sekarang)
Alamat Rumah : Jalan Jaya Mandala II No. 2 Pancoran, Jakarta 12870 Telp: 827033, 822202
Alamat Kantor : Idem
|
|
HENDRA KARTANEGARA (TAN JOE HOK)
"Saya bukan orang yang pantas menjadi pelatih nasional," ujar Hendra Kartanegara, alias Tan Joe Hok. Padahal, di bawah bimbingannyalah regu bulu tangkis Indonesia berhasil menundukkan Cina dalam final perebutan Piala Thomas di Kuala Lumpur, 18 Mei 1984. Tahun itu pula SIWO/PWI Jaya memahkotai Joe Hok dengan predikat Pelatih Olah Raga Terbaik.
Ditunjuk menjadi pelatih Pelatnas Piala Thomas 1984 sejak Oktober 1983, ia sempat dituding menolak kesertaan Tahir Djide sebagai pelatih fisik. Padahal, menurut Joe Hok, justru dia yang mengusulkan kepada Rudy Hartono, selaku pengurus PBSI, agar Djide dipakai. Tuduhan itu juga dianggapnya tidak masuk akal, karena dialah dahulu, sebagai pemain, yang memulai latihan fisik. "Saya percaya latihan fisik," katanya. Yang dikehendaki Joe Hok, sebenarnya, adalah agar tidak ada pemisahan pelatih. Bulu tangkis harus dihadapi sebagai pemain yang utuh.
Kegalauan itu mencapai puncaknya ketika Icuk Sugiarto minta kembali dilatih Tahir Djide, saat putaran final akan segera dimulai. Padahal sistem drilling -- menyatukan kecepatan tangan dengan kecepatan kaki dalam berantisipasi -- dinilainya bisa menangkal kelemahan Icuk. "Itulah yang diprotes Icuk," kata Joe Hok.
Tan Joe Hok orang Indonesia pertama yang menjuarai All England, 1959. Ia mulai bermain pada usia 12, di sebuah lapangan yang dibangun ayahnya, seorang pedagang, di depan rumah mereka. Bakatnya yang menonjol terlihat oleh pelatih klub Blue White, Lie Tjuk Kong, yang mengajaknya bergabung.Anak kedua dari enam bersaudara ini kemudian berlatih saban hari. Ia selalu bangun pukul 5 pagi, untuk berlari dua jam. Suatu kali, Joe Hok menyaksikan pertandingan tinju di Bandung, dan terkesan dengan gerak kaki (foot work) petinju yang bertanding. Ia pun meniru, dengan latihan skipping. Pada 1954, dalam usia 17, pada kejuaraan nasional di Surabaya, Joe Hok menundukkan Njo Kiem Bie, yang sedang tenar dan terkenal dengan smash-nya yang mematikan. Pada 1956, ia mengalahkan Eddy Jusuf, yang waktu itu juga sedang terkenal.
Joe Hok, yang melakukan latihan fisik secara spartan, kemudian memperkenalkan power badminton untuk pertama kalinya kepada dunia. Mengandalkan tenaga, stamina, dan kecepatan, ia menundukkan Finn Kobbero dan Erland Kops, para maestrodari Denmark. Bersama Ferry Sonneville dan kawan-kawan, ia merebut Piala Thomas -- yang sejak 1949 berada di tangan Malaya -- kini Malaysia -- dalam pertandingan di Singapura, 1958.
Joe Hok kemudian ke AS, untuk mempelajari ilmu kimia di Universitas Baylor, Texas. Pulang dari sana, ia bergabung dengan regu Piala Thomas Indonesia di Tokyo. Lagi-lagi ia mengalahkan Erland Kops, dan kemudian juga K.A. Nielsen, sehingga, dengan kemenangan 5w4, Indonesia berhasil mempertahankan Piala Thomas, 1964.
Dua tahun Joe Hok melatih bulu tangkis di Hong Kong dan Mexico. Kembali ke Indonesia, 1972, ia mendirikan usaha di bidang pest control. Namun, tidak bisa sama sekali berpaling dari bulu tangkis, ia menerima tawaran menjadi pelatih Pelatnas Piala Thomas 1984.
Bergabung dengan PB Djarum, milik perusahaan rokok Djarum di Kudus, Jawa Tengah, sejak 1982, Joe Hok kemudian melatih dan menjadi project manager cabang PB Djarum di Jakarta. Menerima lewat seleksi ketat calon pemain berusia 12w20 tahun, ia berambisi melahirkan pemain nasional dalam masa empat tahun -- secara ilmiah. "Sudah tidak masanya lagi mengharapkan lahirnya pemain secara alamiah. Perkembangannya lambat," ujarnya. Tinggi pemain ditetapkan minimal 170 cm untuk pria, dan 160 cm untuk putri.
Pemegang sabuk kuning yudo itu juga gemar memancing dan mendengarkan musik. Akhir-akhir ini, ia mulai menyukai komputer. Menikah dengan Goei Kiok Nio, 1965, ia dikaruniai dua anak.
|