
Nama : H. LUKMAN UMAR
Lahir : Padang, 27 Desember 1933
Agama : Islam
Pendidikan : - SD (1945), Sekolah Mualim (1952), Padang
- SGAA, Padangpanjang (1955)
- Sekolah Persiapan PTAIN (1956)
- IAIN (1963), Yogyakarta
Karir : - Agen majalah/koran, Yogyakarta (1956)
- Redaktur (1969-1972), kemudian Pemimpin Umum majalah Varia (1973)
- Pemimpin Perusahaan/Umum/Redaksi majalah Kartini (1974- sekarang)
- Ananda (1976-sekarang)
- Pemred majalah Dialog (1978)
- Direktur PT Garuda Metropolitan Press (1976-sekarang)
- Direktur Keuangan PT Dasar Utama Press (1979-1981)
- Wakil Pemimpin Umum majalah Sarinah (1984-1986)
Kegiatan Lain : - Pendiri/Ketua Yayasan Dharma Sarinah (1983- sekarang)
- Anggota Pengurus SPS (1979-sekarang
Alamat Rumah : Jalan Paseban Dalam 5, Jakarta Pusat Telp: 884469
Alamat Kantor : Jalan Garuda 62, Jakarta Telp: 414521
413747
|
|
H. LUKMAN UMAR
Rambutnya disisir rapi ke belakang, dengan belahan di samping kiri, dan sedikit jambul di depan. Sepatunya hitam mengkilat. Lukman Umar -- dengan tinggi 158 cm dan berat 59 kg -- di balik meja kerjanya, tampak selalu cerah. Untuk menjaga kondisi, ia gemar lari pagi. "Satu jam setiap pagi, di seputar Monas," tuturnya. Sekali-sekali direktur PT Garuda Metropolitan Press ini juga berenang.
Ia, antara lain, menerbitkan Sarinah -- majalah wanita dengan oplah 150.000 eksemplar (1984). Jumlah oplah sebanyak itu dicapai hanya dalam dua tahun. "Usaha ini diridloi Tuhan," katanya. Sebelumnya, ia menerbitkan Kartini. Tetapi kemudian pisah karena konflik dengan rekan-rekannya sesama pendiri, 1983.
Selain itu, ia selalu ikut menentukan isi majalah. "Saya tahu selera pembaca. Wartawan biasanya bisa menulis, tetapi kurang tahu mana yang perlu digarap, mana yang tidak," kata Lukman. Sebelum merintis usaha penerbitan majalah -- dimulai dengan Variasi dengan modal Rp 5 juta, hasil pinjaman atas jaminan rumah tinggalnya -- pria berdarah Minang ini bekerja sebagai agen penjualan majalah. Dari sini ia mengetahui, "resep" apa yang dicari pembaca.kUrusan jual-menjual barang cetakan sudah ia tekuni sejak masih jadi mahasiswa IAIN Sunan Kalijaga, Fakultas Ushuludin Jurusan Dakwah. Untuk biaya kuliah, Lukman memperbanyak diktat, dan menjualnya. Ternyata "bisnis" ini lancar. "Bahkan saya bisa mengirim uang untuk ibu saya di kampung," tuturnya. Lulus dari IAIN, Lukman langsung terjun dalam bidang peragenan majalah dan koran -- bahu-membahu dengan kawan-kawannya sekampung.
Bakatnya jualan tidak lepas dari pengalaman masa kecilnya. Anak bungsu Umar (almarhum), seorang petani, ini sewaktu di Sekolah Rakyat ikut membantu ibunya, yang selain bertani juga membuka kedai makanan. "Sebelum berangkat ke sekolah, saya biasa menjajakan kue keliling kampung," tutur Lukman. Kehidupan yang dialaminya sangat berat. "Bahkan saya pernah berjualan hanya mengenakan selembar karung sebagai penutup badan," katanya, merenung.
Haji yang gemar menonton film silat ini menikah dengan wanita sedaerahnya, Nurtina, 1965. Perkawinan mereka sudah membuahkan tiga anak.
|