
Nama : HILMAN Adil
Lahir : Padang, Sumatera Barat, 4 Januari 1936
Agama : Islam
Pendidikan : - SD, Sumenep
- SMP, Malang (1950)
- SMA Kanisius, Jakarta (1954)
- Universitas Cornell, Ithaca, AS (1960)
- Institute of International Studies, Jenewa, Swiss (1964)
- Institute of Social Studies, Den Haag, Negeri Belanda (1966)
- Rijksuniversiteit, Leiden, Negeri Belanda (Doktor, 1973)
- Research Fellow ISEAS, Singapura (1976)
Karir : - Peneliti LRKN LIPI (1975-1977)
- Dosen FISIP UI (1977-sekarang)
- Asisten Direktur (1980-1982), kemudian Peneliti Senior Leknas LIPI (1982-sekarang)
- Ketua Proyek Indonesian Politics and Government South East Asian Program, Singapura (1980-sekarang)
- Wakil Ketua Penulisan Sejarah Departemen P & K (1984- sekarang)
Karya : - Antara lain, Australian's Relations with Indonesia (1945-1962), Lulof, Almelo, Holland (1973)
- Australia's Policy towards Indonesia during Confrontation (1962-1966), ISEAS, Singapura, 1977
Alamat Rumah : Jalan Raya Jatiwaringin H 4, Jakarta
Alamat Kantor : Jalan Gatot Subroto 10, Jakarta Telp: 511542
|
|
HILMAN Adil
Pada masa remaja, Hilman Adil sudah masuk dalam lingkungan pergaulan para tokoh, misalnya Bung Hatta, Mohammad Yamin, dan Sutan Syahrir. Soalnya, ia akrab dengan pamannya, dari pihak ibu, yang bernama Nazir. Paman ini, perwira Angkatan Laut dan pernah menjadi KSAL, memang dekat dengan para tokoh tersebut. "Bung Hatta dan Muhammad Yamin banyak mendorong saya mempelajari politik. Dan mereka selalu bersikap terbuka," tutur Hilman.
Menyenangi pelajaran sejarah, sejak masa kanak Hilman tertarik ke bidang politik. Padahal, ayahnya, Almarhum Sutan Kali Malikul Adil, terakhir Hakim Agung di Mahkamah Agung RI, ingin sang anak menjadi dokter. "Cita-cita saya didukung paman, maka saya bisa dekat dengan beliau," kata Hilman, anak bungsu dari empat bersaudara.
Hilman, akhirnya, memang tidak menjadi politikus, melainkan ahli politik. Karyanya berupa buku dalam bidang ini, antara lain: Alliance Policies in Australian -- American Relations (1966), Australia's Policy Towards Indonesia during Confrontation 1962-1966 (1977), The Problem of East Timor in The Context of IndonesianwAustralian Relations (1978), dan Australia's Relations with Indonesia 1945-1962 (1973).Yang disebut terakhir semula berupa disertasi, untuk mendapat gelar doktor Ilmu Politik dan Hubungan Internasional di Ryksuniversiteit Leiden, Negeri Belanda, 1973. Selain sebagai peneliti senior di Leknas-LIPI, ia juga mengajar mata kuliah Hubungan Internasional di Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial dan Politik UI. Menurut beberapa mahasiswanya di situ, "Cara mengajarnya ketat."
Tinggi 172 cm, berat 73 kg, dan berkaca mata minus 1,5, Hilman sehari-hari tampak biasa saja. Tidak ada bayangan kemewahan. "Sebagai ilmuwan," katanya, "saya hanya ingin mengabdi kepada bangsa dan negara. Tidak mau terbawa arus, yang bisa membelokkan cita-cita semula. Jangan lantaran jabatan yang bagus dan materi, prinsip kita goyah."
Ia menikah dengan Nasrah Ranny, 17 November 1974, dan dikaruniai dua anak. Setiap pagi ia lari santai sekitar sejam.
|