
Nama : H. GINANDJAR KARTASASMITA
Lahir : Bandung, 9 April 1941
Agama : Islam
Pendidikan : - SMP Canisius College, Jakarta (1956)
- SMA Canisius College, Jakarta (1959)
- ITB, Bandung (1959-1960)
- Tokyo University for Agriculture and Technology, Chemical Engineering, Tokyo, Jepang (1965)
- Sekolah Dasar Perwira (1966-1967)
- Sekolah Ilmu Siasat (1968)
- Sekolah Komando Kesatuan Angkatan Udara (1974)
- Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi LAN, Jakarta (1980)
Karir : - G-V Koti (1965-1966)
- Staf Direktorat Jenderal Penelitian dan Pengembangan Angkatan Udara TNI AU (1967)
- Kepala Bagian Penelitian Biro Analisa dan Perundang-Undangan Sekretariat Kabinet (Sekab) (1968-1971)
- Kepala Bagian Evaluasi Biro Kerja Sama Teknik Luar Negeri Sekab (1971-1972)
- Kepala Bagian Antarnegara Biro Kerja Sama Teknik Luar Negeri Sekab (1972-1976)
- Asisten Sekretaris Negara Urusan Administrasi Pemerintahan (1976-1978)
- Asisten Menteri/Sekretaris Negara Urusan Administrasi Pemerintahan dan Administrasi Lembaga Pemerintah Non-Departemen (1978)
- Menteri Muda UP3DN (Urusan Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri) (1983 -- sekarang)
- Ketua BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal) (1985 -- sekarang)
Kegiatan Lain : - Anggota Dewan Komisaris PT Nurtanio (1977 -- sekarang)
- Sekretaris Subtim GBHN, Tim Pembinaan Penatar dan Bahan Penataran Pegawai RI (1978)
- Anggota Tim Pengendali Pengadaan Barang/Peralatan Pemerintah (1980) ; Anggota MPR (1982 -- sekarang)
- Wakil Ketua Tim Pengendalian Pengadaan Barang/Peralatan Pemerintah (1983 -- sekarang)
- Anggota Majelis Pembimbing Nasional Gerakan Pramuka (1984 -- sekarang)
Alamat Rumah : Jalan Daksa II No. 9, Jakarta Selatan
Alamat Kantor : Jalan Veteran 17, Jakarta Pusat Telp: 349063
|
|
H. GINANDJAR KARTASASMITA
Menjelang pembukaan Pameran Produksi Indonesia (PPI) 1985, ia memborong dasi buatan Enny Soekamto dan Poppy Dharsono. Lalu, Menteri Muda Urusan Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri (UP3DN) ini mengirimkannya kepada para menteri lainnya. Pada upacara pembukaan pameran tersebut, banyak menteri memakai dasi made in Indonesia itu.
"Tugas saya memasyarakatkan penggunaan produksi dalam negeri," katanya. Dalam suatu temu wicara, seorang peserta karya wisata PPI 85, bertanya. "Apakah Bapak juga memakai produksi dalam negeri?" Menunjukkan busana yang dikenakannya, "Ini semua produksi dalam negeri," ujar Ginandjar.
Di kantor dan di rumahnya, ia merasa sepenuhnya telah menggunakan peralatan, bahan interior, dan desain dalam negeri. Kantornya ditata oleh Budiman Sumanang, dan rumahnya ditata Hendrapranata. "Saya membanggakannya jika ada tamu," ujarnya. Namun, ia mengaku, gara-gara gorden pernah mendapat malu. Suatu ketika, ke kantornya bertamu Lasmijah Hardi dari Yayasan Lembaga Konsumen. Sementara berbincang, Bu Hardi menunjuk gorden: "Dalam negeri, atau impor?" Sang menteri memanggil stafnya dan bertanya. "Wah, sialan, gorden itu ternyata impor," ceritanya. Ia segera menggantinya dengan buatan Obin Baron, dan bergumam, "Saya senang, Yayasan Lembaga Konsumen bermata jeli."Februari 1958, ia menerima tambahan tugas, menjabat ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal, menggantikan Suhartoyo. Termasuk gesit dan tanggap, lima bulan kemudian ia mengumumkan Keppres No. 5/1985. Antara lain memperbolehkan Penanaman Modal Asing (PMA) memasuki bidang usaha Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). "Asal menyertakan koperasi sebagai pemegang 20% saham," katanya.
Di BKPM, di antaranya ia bertugas menyederhanakan prosedur perizinan, dalam kaitan tugas pokok mempromosikan penanaman modal di Indonesia. "Ini berarti, saya harus mampu menjual gagasan kepada dunia usaha, baik di dalam maupun di luar negeri," tuturnya. Ia lantas mengimbau para petugas BKPM di pusat dan daerah untuk "Bersemangat wiraswasta, dan tidak bertindak birokratis."
Biasa dipanggil Djonie, waktu kecil ia mengaku bandel. Anak keempat dari sepuluh bersaudara ini putra Husen Kartasasmita, pegawai Kementerian Pertahanan yang aktif di Partai Nasional Indonesia (PNI), dan pernah menjadi anggota DPR hasil Pemilu 1955. Ibunya, Ratjih Natawidjaja, juga aktivis PNI.
Djonie sempat kuliah di ITB. Beroleh beasiswa ke Jepang, ia belajar di Tokyo University for Agriculture Chemical Engineering, hingga lulus sebagai insinyur teknik kimia, 1965. Ia memulai karier di TNI-AU dengan pangkat letnan satu. Sejak menyandang pangkat kapten, ia ditugasi di Sekretariat Negara. Di sini ia sempat mengikuti pendidikan Lembaga Administrasi Negara, dan lulus menjadi sarjana administrasi negara, 1980.
Dua tahun kemudian ia anggota Badan Pekerja MPR, berulang kali menjadi anggota delegasi RI ke pelbagai konperensi internasional. Ia juga sering ikut dalam perlawatan kenegaraan Presiden RI. Ayah tiga anak yang sudah haji ini pengagum semangat bushido orang Jepang. Menggemari olah raga bela diri kendo dan kempo , yang dipelajarinya semasa di Jepang, ia kini pemegang sabuk hitam Dan II.
Selain itu, lelaki berperawakan tinggi yang tidak suka merokok ini juga menggemari golf, handicap-nya 16. Menurut istrinya, Yultin Harlotina, "Makanan kesukaan Djonie lalap dan sambal."
|