
Nama : H.M. BAHARTHAH
Lahir : Alghurfah, Yaman Selatan, 1903
Agama : Islam
Karir : - Pedagang di Mukalla dan Aden (1915)
- Berlayar ke Singapura dan menjadi tukang sapu & Pembantu pedagang batik di Singapura (1924)
- Pedagang Kain Batik di Medan (1930)
- Bekerja di Toko Mesir di Cirebon (1935)
- Pedagang Batik di Bandung (1943)
- Agen Pabrik Tenun di Bandung (1948)
- Berusaha di Bidang Percetakan dan Penerbitan (sejak 1949)
- Dirut PT Alma'rif di Bandung (sekarang)
Alamat Rumah : Jalan Cisangkuy 22, Bandung Telp: 71294
Alamat Kantor : Jalan Tamblong 48-50, Bandung Telp: 50708, 57177, 58332
|
|
H.M. BAHARTHAH
Pada usia 82, Baharthah masih tekun berusaha. Sebagai Dirut PT Al Ma'arif, penerbit dan pencetak buku-buku Islam, ia tetap bersikap optimistis.
Tiap hari, usai sembahyang subuh, ia membaca koran. Kemudian berangkat ke kantornya di Jalan Tamblong, Bandung, segera setelah sarapan pagi. Sore hari, sebelum sembahyang asar, ia tidak langsung pulang ke rumahnya di Jalan Cisangkuy. Melainkan mampir ke percetakannya di luar kota, beberapa puluh kilometer dari pinggir jalan raya BandungwJakarta, dekat kota administratif Cimahi.
Ia tidak ingat lagi "nomor urut"-nya di tengah keluarga. Juga lupa berapa jumlah saudaranya sekandung. "Karena terlalu banyak," katanya. "Hanya, ayah saya bernama Umar Baharthah, seorang pedagang. Ibu saya bernama Aisyah."
Mulai belajar dagang di Mukallah dan Aden pada usia 12 tahun, Baharthah kemudian berlayar ke Singapura. Di sini, ia bekerja sebagai tukang sapu di sebuah toko, 1924. "Lalu menjadi pembantu seorang pedagang batik," ceritanya. Enam tahun kemudian, ia merintis usaha sendiri, berdagang batik di Medan. Kemudian pindah ke Cirebon, 1935.Kembali berdagang batik, ia mengadu untung di Bandung, 1943. Setahun sebelum menerjuni bidang penerbitan dan percetakan, ia sempat menjadi agen pabrik tenun sarung Cap Padi dari Garut. Akhirnya, bersama Abubakar, M.A., dan ulama besar A. Hassan, Baharthah mendirikan PT Al Ma'arif, 1949. "Bermodalkan dengkul, satu-satunya kekayaan kami saat itu ialah kepercayaan," tuturnya.
Perusahaannya cepat berkembang. Selain memelihara kesetiaan para langganan, Baharthah membangun armada pedagang gendong. "Jumlahnya 1.500 orang," katanya. "Mereka mendapat rabat 40%." Armada ini bergerak ke berbagai pelosok desa, atau menggelar tikar di pasar, menawarkan buku terbitan Al Ma'arif. Tidak pernah sekolah formal, Baharthah mengaku hanya mengikuti kursus-kursus. Menikah dengan Albin Ludias, 1959, "Di antara empat anak saya tidak ada yang berbakat dagang," katanya.
|