
Nama : Hotma Sitompoel
Lahir : Jakarta, 8 Juli 1949
Agama : Protestan
Pendidikan : - SD Perwari (Trisula), Jakarta
- SMP Trisula, Jakarta
- SMA III, Setiabudi, Jakarta
- Universitas Kristen Indonesia, Jakarta (1976)
Karir : - Pembela umum di LBH Jakarta, 1977-1980
- Pengacara pada Minang Warman & Asso0ciates (1980-1987)
- Pimpinan Hotma Sitompoel & Associates (1987 €“ sekarang)
Keluarga : Ayah : Fritz Sitompoel
Ibu : Ani Sastrodihardjo
Istri : N. Desiree
Anak : 1. Sila Hasian Filisiani
2. Bambang Regena
3. Prianka
4. Ditho Hasian
Alamat Rumah : Jalan Martapura 3, Jakarta Pusat
Telepon 335278
Faksimile 3107103
|
|
Hotma Sitompoel
Sempat menjadi pengacara Akbar Tandjung, Hotma Sitompoel kemudian memilih mengundurkan diri. Penyebabnya, katanya, tidak mampu mengembangkan bantuan hukum, nasihat hukum, dan tindakan hukum secara maksimal pada terdakwa kasus dana nonbujeter Badan Urusan Logistik itu. Posisinya digantikan oleh pengacara senior Amir Syamsuddin, Hotma mengaku ikhlas.
Hotma memang kerap menangani perkara besar dan kontroversial seperti kasus narkoba aktris Ria Irawan, kasus suap Jaksa Agung (saat itu) Andi M. Ghalib, dan kasus pelanggaran HAM di Timor Timur Jenderal (Purn.) Wiranto. Semua itu menjadikannya makin terkenal, karena kasus-kasus kontroversial selalu mendapat publikasi besar-besaran.
€œMasyarakat mungkin menganggap saya menerima uang besar dengan menangani perkara tersebut€ Saya tidak menerima uang sepeser pun,€ bantahnya. Padahal justru untuk menghindari dugaan bahwa ia membela orang-orang yang berani membayar, tambah Hotma, ia tidak menerima bayaran buat perkara-perkara kontroversial. Ia tidak ingin mengundang fitnah.
Perkara besar atau kecil, bahkan kasus orang tidak mampu, harus tetap ditangani secara serius, menurut orang Batak kelahiran Jakarta itu. €œCuma yang sering terekspos perkara seperti Akbar Tandjung,€ ujar mantan aktivis mahasiswa yang dulu, 1966, getol menuntut pembubaran PKI.
Bungsu dari empat bersaudara -- yang oleh ibunya, Ani Sastrodihardjo, dijuluki mister debat -- ini sebenarnya bercita-cita menjadi diplomat. Lulus SMA, ia masuk Fakultas Hukum Universitas Kristen Indonesia, Jakarta, selesai 1976. Sementara teman-temannya sesama sarjana hukum berambisi menjadi pegawai negeri dan mencari duit sebanyak-banyaknya, ia memilih bekerja sebagai pengacara di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, yang dijalaninya selama tiga tahun. Bersama salah seorang direktur LBH saat itu, Minang Warman, ia membuka kantor pengacara. Cita-cita membuka kantor pengacara sendiri akhirnya tercapai dengan menjadikan rumahnya sebagai tempatnya berpraktik.
Berapa tarif Hotma sebagai pengacara? €œKita tidak pernah menentukan,€ katanya. Yang penting cari dulu kebenaran, tambahnya, €œKlien kita sendiri yang pantas menilai kita dibayar berapa.€
Sukses menjadi pengacara terkenal, apa kiatnya? €œSaya selalu tekun dan setia terhadap setiap pekerjaan dan profesi yang saya jalani,€ katanya. Ketika membela A.M. Fatwa, yang sering diincar oleh penguasa Orde Baru bahkan sampai beberapa kali masuk penjara, ia mendapat teror: rumah dan kantornya dihancurkan dan Hotma disuruh mundur sebagai pengacaranya.
Hotma sebenarnya sudah frustrasi menghadapi penegakan hukum di negeri ini, yang disebabkan kegagalan kita menjadikian hukum sebagai panglima. Namun ia masih mampu bertahan menjalani profesinya. Ketika sesekali terlintas di pikiran untuk mundur, ia ingin menjadi pendeta.
Bila di ruang sidang ia tampak serius dan berapi-api, ayah empat anak ini adalah suami dan ayah yang manis di rumahnya. Kepada anak-anaknya, ia selalu menanamkan ajaran agama. €œSaya menginginkan anak saya yang paling kecil menjadi pengacara,€ ujarnya.
Hotma tidak punya hobi khusus, cuma ia suka mengendarai mobil ke Puncak, tujuan wisata di Jawa Barat, bersama teman-temannya. Setelah makan di restoran, mereka tidak ke mana-mana €“ kecuali pulang ke rumah masing-masing.
|