
Nama : HANS BAGUE JASSIN
Lahir : Gorontalo, Sulawesi Utara, 31 Juli 1917
Agama : Islam
Pendidikan : - HIS, Balikpapan (1932)
- MULO
- HBS, Medan (1939)
- FS UI, Jakarta (1957)
- Universitas Yale, AS (1958-1959) ; Doktor Kehormatan Sastra dari UI (1975) Karya Tulis:Angkatan 45 (1952)
- Tifa Penyair dan Daerahnya (1952)
- Kesusastraan Indonesia dalam Kritik dan Esai (4 jilid, 1954- 1967)
- Heboh Sastra 1968 (1970)
- Gema Tanah Air (1948)
- Kesusastraan Indonesia di Masa Jepang (1948)
- Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45 (1956)
- Kisah 13 Cerita Pendek (1955)
- Analisa, Sorotan atas Cerita Pendek (1961)
- Amir Hamzah, Raja Penyair Pujangga Baru (1962)
- Pujangga Baru Prosa dan Puisi (1963)
- Angkatan 66 Prosa dan Puisi (1968)
- Terjemahan: Terbang Malam (Karya A de St Exupery)
- Api Islam (Karya Syed Amir Ali, 1966)
- Max Havelaar (Karya Multatuli, 1972)
- Qur'an Bacaan Mulia
- Surat-Surat 1943-1983, Gramedia, 1984
Karir : - Pekerja Sukarela di Kantor Asisten Residen Gorontalo
- Redaksi majalah Poejangga Baroe
- Redaksi Balai Pustaka (sampai 1947)
- Redaktur majalah Mimbar Indonesia, Zenith, Kisah, Sastra Bahasa dan Budaya, Seni, "Medan Ilmu Pengetahuan"
- Horison Dosen Luar Biasa di FS UI
- Penasihat Lembaga Bahasa Nasional
- Pendiri Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin
Alamat Rumah : Jalan Arimbi 21 B, Jakarta Pusat
Alamat Kantor : Jalan Cikini Raya 73, Jakarta Pusat, Telp: 336641
|
|
HANS BAGUE JASSIN
Ada yang bergurau, H.B. Jassin adalah satu-satunya "Paus" yang bergelar Haji. Julukan "Paus Sastra Indonesia" -- yang diberikan Sastrawan Gajus Siagian (almarhum) -- memang sudah disandangnya sejak sekitar tiga dasawarsa lalu. Jassin jugalah yang menobatkan Chairil Anwar sebagai pelopor Angkatan '45.
Gamang berbicara di depan khalayak, Jassin rajin dan tekun mendokumentasikan karya sastra, dan segala yang berkaitan dengannya. Dari tangannya lahir sekitar 20 karangan asli, dan 10 terjemahan. Yang paling terkenal adalah Gema Tanah Air, Tifa Penyair dan Daerahnya, Kesusasteraan Indonesia Baru Masa Jepang, dan Qur'an Bacaan Mulia, yang diterjemahkannya sejak 1962.
Pada 31 Juli 1984, tepat hari ulang tahunnya ke-67, PT Gramedia menyerahkan "kado" buku Surat-Surat 1943-1983 yang saat itu baru saja terbit. Di dalamnya terhimpun surat Jassin kepada sekitar 100 sastrawan dan seniman Indonesia.
Jassin memulai dan meneruskan kariernya dari banyak membaca. Lahir di Gorontalo, Sulawesi Utara, anak kedua dari enam bersaudara ini berayahkan seorang bekas kerani BPM yang "kutu" buku. Jassin mulai gemar membaca tidak lama setelah duduk di bangku HIS (SD). "Waktu itu, cara membangkitkan minat baca murid sangat bagus," tuturnya tentang sekolah yang mengajarkannya teknik mengarang dan memahami puisi. Di HBS Medan -- saat ikut ayahnya yang pindah ke BPM Pangkalanbrandan, Sumatera Utara -- ia mulai menulis kritik sastra, dan dimuat di beberapa majalah.
Bekerja di kantor Asisten Residen Gorontalo seusai HBS -- tanpa gaji -- memberinya kesempatan mempelajari dokumentasi secara baik. Tetapi, belakangan Jassin menerima tawaran Sutan Takdir Alisjahbana, waktu itu redaktur Balai Poestaka, bekerja di badan penerbitan Belanda itu, 1940. Inilah awal jabatannya sebagai redaktur berbagai majalah sastra dan budaya, seperti Pandji Poestaka dan Pantja Raja, lalu setelah Indonesia merdeka, di Mimbar Indonesia, Zenith, Kisah, Sastra, Bahasa dan Budaya, Buku Kita, Medan Ilmu Pengetahuan, dan Horison.Bekas Lektor Sastra Indonesia Modern Fakultas Sastra UI ini tetap belajar sambil mengajar. Gelar sarjana sastra diraihnya pada 1957, dan doktor honoris causa, delapan tahun kemudian -- keduanya di FS UI. Ia juga sempat mendalami ilmu perbandingan sastra di Universitas Yale, AS. Ia menguasai bahasa Inggris, Belanda, Prancis, dan Jerman.
"Wali Penjaga Sastra Indonesia" -- julukan dari ahli sastra Indonesia Prof. A.A. Teeuw -- ini pernah terganyang dan dikecam. Setelah menandatangani Manifes Kebudayaan ("Manikebu"), ia dituding oleh kelompok Lekra sebagai anti Soekarno. Akibatnya, ia dipecat dari Lembaga Bahasa Departemen P & K dan staf pengajar UI.
Namun, Jassin mampu bersikap jujur. Mengomentari buku Pramudya Ananta Toer, Bumi Manusia, ia menilainya tidak mengandung hal-hal yang melanggar hukum. Pelarangan terhadap buku itu lebih banyak karena dikarang oleh bekas tokoh Lekra.
Cerpen Ki Panji Kusmin, Langit Makin Mendung, yang dimuat Jassin dalam Sastra, 1971, sempat dianggap "menghina Tuhan". Di pengadilan, ia diminta mengungkapkan nama Ki Panji Kusmin sebenarnya. Permintaan ditolaknya. Akibatnya, Jassin dihukum satu tahun penjara dengan masa percobaan dua tahun.
Hasil dokumentasinya lebih dari 40 tahun -- termasuk 30 ribu buku dan majalah sastra -- telah dihimpun dan disimpan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Pria gemuk pendek ini menikah tiga kali. Istri pertama, Tientje van Buren, wanita Indo yang suaminya orang Belanda yang disekap Jepang, pisah cerai. Lalu Arsiti, ibu dua anaknya, meninggal pada 1962. Sekitar 10 bulan kemudian ia menikahi gadis kerabatnya sendiri, Yuliko Willem, yang terpaut usia 26 tahun. Yuliko juga memberinya dua anak.
|