
Nama : HERMAN SARENS SUDIRO
Lahir : Pandeglang, Jawa Barat, 24 Mei 1930
Agama : Islam
Pendidikan : - HIS, SMP
- SMA
- Kupaltu 2
- Kupalda 3
- Seskoad
Karir : - Komandan Kompi Tentara Pelajar Siliwangi, Banjar
- Komandan Peleton Divisi Siliwangi, Garut (1946)
- Komandan Kompi Divisi Siliwangi, Jakarta (1949)
- Wakil Komandan Batalyon Divisi Siliwangi, Bandung (1959)
- Komandan Batalyon Divisi Siliwangi, Bandung (1959)
- Karo Suad 2 MBAD, Jakarta (1964)
- Paban Suad 2 Mabad, Jakarta (1966) Dan Brig Kosatgas Mabad, Jakarta (1966)
- Wadan Korps Markas Hankam, Jakarta (1969)
- Dan Korps Markas Hankam (1970) Pengelola Hankam Sport Centre Satria Kinayungan, Jakarta (1967 -- sekarang)
- Pemimpin dan pengelola Sasana Tinju Satria Kinayungan Boxing Corporation
- Promotor Tinju Profesional
- Ketua I Bidang Target Perbakin Jaya
- Ketua Umum Persatuan Promotor Tinju Indonesia (PPTI)
Alamat Rumah : Jalan Warung Buncit, Jakarta Selatan Telp: 798066
Alamat Kantor : Satria Kinayungan Jalan Warung Buncit, Jakarta Selatan Telp: 798066
|
|
HERMAN SARENS SUDIRO
Banyak orang mengenal Herman Sarens sebagai promotor tinju, pengelola pusat olah raga berkuda, dan pemimpin klub menembak -- semua di bawah nama Satria Kinayungan. Berkenaan dengan yang disebut terakhir itu, Herman Sarens sering berburu masuk hutan.
Untuk kegiatan ini ia biasanya mengenakan setelan biru, ada setrip kuning di kedua sisi luar celananya. "Jenderal yang sudah nggak dipakai seperti saya ini harus punya hobi," katanya, "Kalau tidak, bisa loyo dan penyakitan." Sebelum purnawirawan, pangkat terakhirnya Brigjen TNI.
Karier militer Herman berawal dari masa pergolakan kemerdekaan di wilayah Ciamis, Jawa Barat. Herman menjadi komandan kompi Tentara Pelajar Siliwangi (TPS) Banjar, Ciamis, 1945-1947. Pada saat situasi menggawat, lantaran serangan tentara Belanda, Herman diperintahkan berangkat ke Yogya menghadap Jenderal Soedirman untuk melaporkan perkembangan situasi. "Sekaligus mengambil bantuan perbekalan untuk pasukan kita yang tengah bergerilya di wilayah Ciamis Selatan," tuturnya.
Yang memerintahnya adalah Serma R. Soediro Wirio Soehardjo, Kepala Perlengkapan Batalyon IV, Resimen XI, Divisi III Siliwangi -- ayah kandungnya sendiri. Ayahnya ini kemudian tewas di tangan Belanda 19 Desember 1947.
Tetap meneruskan karier di militer, Herman -- anak keenam dari sembilan bersaudara -- kemudian ikut andil dalam berbagai operasi. Antara lain operasi DI di Jawa Barat, Dwikora di Kalimantan, dan penumpasan PKI di Jakarta. Fasih berbahasa Inggris dan Belanda, ia sempat pula bertugas sebagai duta besar RI di Madagaskar.
Menyangkut kuda, ia kemudian tidak sekadar gemar menunggang -- binatang pacuan itu merupakan salah satu bisnisnya. Belakangan ia merintis untuk mengekspor kuda-kuda hasil silangannya antara lain ke Singapura, dengan harga per ekor paling tidak Rp 2 juta. "Negara tetangga kita itu sumber devisanya 'kan banyak dari pacuan kuda," katanya kepada majalah Jakarta-Jakarta.
Bisnis Herman lainnya, antara lain, di bidang perhotelan dan promotor tinju.
Dalam usia yang lebih dari setengah abad, sehari-harinya Herman masih selalu tampil gagah. Menikah dengan Tinawati pada 21 Agustus 1958 di Banjar, Jawa Barat, ia ayah empat anak.
|