
Nama : HENRIETTE MARIANNE KATOPPO
Lahir : Tomohon, Sulawesi Utara, 9 Juni 1943
Agama : Protestan
Pendidikan : - SD (1954), SMPN I (1960), Jakarta
- Universitas Stockholm, Swedia (1973)
- STT, Jakarta (1977)
- Institut Oecumenique Bossey, Swiss (1979)
Karir : - Peneliti naskah The British and Foreign Bible Society, London (1967-1969)
- Sales Assistant AB Svenska Pressbyran, Swedia (1972-1974)
- Pengarang dan penulis (1974-1979)
- Editor (1979-1982), kemudian Konsultan Yayasan Obor Indonesia (1982-sekarang). Karya-karyanya a.l.: Dunia Tak Bermusim, 1974
- Raumanen, 1975
- Terbangnya Punai, 1976
- Compassionate and Free, 1979
Kegiatan Lain : - Koordinator Indonesia Oecumenical Association of Third World Theologians (1981-sekarang)
Alamat Rumah : Jalan Cik Di Tiro 20, Jakarta Pusat Telp: 359142
|
|
HENRIETTE MARIANNE KATOPPO
"Saya sering dikatakan musuh Kartini," kata Marianne. Mungkin karena gadis ini pernah mengatakan, jasa Kartini tidak sebesar seperti yang sudah sering dikatakan orang. Sebenarnya, "Saya sendiri kagum pada Kartini, terutama kesederhanaannya," ujar Marianne.
Tampaknya, ia banyak sependapat dengan Psikolog Erich Fromm. "Kita semestinya jangan cenderung mementingkan to have, tetapi to be. Pemimpin agama-agama besar juga selalu menekankan to be, bukan to have," katanya.
Untuk itu, di samping rajin berseminar di dalam dan luar negeri, ia rajin menulis, terutama novel. "Sebab, saya rasa, bentuk fiksi adalah cara yang bagus untuk mengungkapkan pemikiran, ide, cita-cita, dan impian kita," katanya, suatu kali. Novelnya yang terkenal, antara lain, Raumanen, dan Rumah di Atas Jembatan.Raumenen memenangkan sayembara penulisan novel Dewan Kesenian Jakarta, 1975, lalu memperoleh hadiah Yayasan Buku Utama, 1977. Dan melalui novel itu pula, Marianne memenangkan SEA Write, hadiah sastra untuk sastrawan Asia Tenggara yang panitianya berpusat di Bangkok. Mengenai ini, Mochtar Lubis berkomentar, "Penghargaan itu pantas dan tepat. Saya gembira, karena Marianne wanita Indonesia pertama, bahkan wanita ASEAN pertama, yang memenangkan hadiah tersebut."
Artikel-artikel Marianne sesekali muncul di harian Kompas, Sinar Harapan, Jakarta Post, atau di majalah Mutiara, Femina, dan Far Eastern Economic Review yang terbit di Hong Kong.
Ia anak bungsu dari sepuluh bersaudara. Ayahnya, Elvianus Katoppo, sampai 1955 adalah pegawai tinggi P dan K. Marianne mulai menulis sejak berusia delapan tahun. Waktu itu, sebuah cerita dongeng karyanya berhasil lolos dan dimuat Nieuwsgier, sebuah koran berbahasa Belanda.
Ketika membicarakan emansipasi wanita, nada Marianne masih pesimistis. "Memang kenyataannya begitu," katanya. Ia juga masygul melihat posisi wanita Indonesia. "Kalau kita konsekuen melaksanakan pasal 27 UUD '45, niscaya tak akan ada diskriminasi terhadap wanita," katanya.
|