
Nama : HEMBING WIJAYAKUSUMA
Lahir : Medan, 10 Maret 1940
Agama : Islam
Pendidikan : - SD Katolik, Medan (1952)
- SMP Metodis, Medan (1955)
- SMA Metodis, Medan (1958)
- Chinese Acupuncture Institute, Hong Kong (1970)
- Chinese Medical College, Hong Kong (1970)
Karir : - Pengawas Kesehatan Gubernur Sumatera Utara (1967-1978)
- Pendiri/Pimpinan Bagian Akupungtur, Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Medan (1976-1978)
- Guru Besar Universitas Won Kwang, Korea Selatan (1976- sekarang)
- Direktur Klinik Akupungtur Wijayakusuma, Medan (1970-1978)
- Direktur Klinik Akupungtur Wijayakusuma, Jakarta (1978- sekarang)
Kegiatan Lain : - Anggota pengurus Yayasan Tarumanegara, Jakarta (1982-sekarang)
- Wakil Presiden World Academy Society of Acupuncture, Seoul, Korea (1975-sekarang)
- Penasihat Chinese Medical Institute, Hong Kong (1975- sekarang)
- Penasihat Acupuncture Association of Quebec, Kanada (1977- sekarang)
Karya : - Impotensi, Sinar Agung, 1979
- Frigiditas, Sinar Agung, 1985
- Pengobatan Murah, Sinar Agung, 1985
- Latihan pernapasan Qi Cung pencegahan penyembuhan penyakit juga melawan kanker, Sinar Agung, 1985
Alamat Rumah : Jalan Raya K.S. Tubun 37tD, Jakarta Pusat 10260 Telp: 541991
Alamat Kantor : Klinik Akupungtur Wijayakusuma Jalan Raya K.S. Tubun 37tD, Jakarta Pusat 10260 Telp: 541991
|
|
HEMBING WIJAYAKUSUMA
Suatu ketika, 7 Februari 1984, mobil yang dikendarainya melintas di kawasan Grogol, Jakarta, menjelang tengah malam. Tiba-tiba, terdengar benturan keras. Mobilnya ternyata ditabrak kereta api yang berjalan dengan lokomotif di belakang, terlempar sekitar 20 meter, dan ringsek. Hembing, yang dengan susah payah keluar dari mobil yang sudah jadi bangkai itu, terbukti tiada kurang suatu apa. "Saya menganggap peristiwa ini sebagai mukjizat dari Yang Mahakuasa," katanya.
Tetapi, mengenai akupunktur yang ditekuninya selama ini Hembing tidak semata-mata menggantungkan diri pada mukjizat. Setelah menamatkan SLTA di Medan, 1958, ia menuntut ilmu pengobatan tusuk jarum di Chinese Acupuncture Institute dan Chinese Medical College, Hong Kong. Berkat ketekunannya, pada 28 Februari 1976 Hembing dikukuhkan sebagai guru besar bidang pengobatan timur pada Universitas Won Kwang, Korea Selatan.
Sejak kecil, memang, anak keenam dari sebelas bersaudara ini sudah tertarik pada dunia pengobatan. Suatu ketika, misalnya, Hembing kecil mencoba "menganalisa" komposisi balsam (obat gosok), kemudian mencoba meramu balsam sendiri dengan bahan- bahan yang terdapat di dapur ibunya. Ketika ayahnya, yang penjahit, pusing, Hembing memberi balsam buatannya. "Eh, ternyata sembuh," katanya mengenang, seraya terkekeh.Pindah ke Jakarta, 1978, Hembing meninggalkan bekas tangannya sebagai pendiri bagian akupunktur, FK UISU, Medan. Ia juga pernah menjadi pengawas kesehatan Gubernur Sumatera Utara, ketika itu Marah Halim Harahap. Aktif dalam pelbagai lembaga akupunktur internasional, Hembing antara lain wakil presiden World Academy Society of Acupuncture yang berpusat di Seoul, Korea Selatan.
Di ruang prakteknya di Jakarta, Hembing menerima puluhan pasien setiap hari kerja. "Syukurlah, akupunktur sudah diterima sebagai pengobatan alternatif," katanya. Ia sendiri, selain kadang-kadang menulis artikel di surat kabar, juga telah menyelesaikan beberapa buku, di antaranya Impotensi (Sinar Agung, 1979), Frigiditas (Sinar Agung, 1985), dan Pengobatan Murah (Sinar Agung, 1985).
Menikah dengan Lilian Kusumawati, Hembing kini ayah tiga anak. Di tengah kesibukannya sehari-hari, antara lain sebagai pengurus Yayasan Tarumanegara, Hembing juga tidak berhenti meneliti pelbagai kemungkinan baru di dalam dunia pengobatan akupunktur. Ia, misalnya, mencoba menggunakan sengatan lebah sebagai pengganti tusukan jarum. Juga mendalami Qi Gong (baca: Ci Kung), seni olah napas Cina yang mulai dikembangkan sebagai terapi.
|