
Nama : H. MOHAMAD RASJIDI
Lahir : Kotagede, Yogyakarta, 20 Mei 1915
Agama : Islam
Pendidikan : - Fakultas Filsafat, Universitas Kairo, Mesir (1938)
- Universitas Sorbonne, Paris (Doktor, 1956)
Karir : - Guru pada Islamitische Middelbaare School (Pesantren Luhur), Surakarta (1939-1941)
- Pegawai Departemen P & K di zaman Jepang
- Pegawai RRI Jakarta, siaran luar negeri ; Menteri Agama Kabinet Sjahrir (1946)
- Sekretaris, kemudian ketua delegasi diplomatik RI ke negara- negara Arab (1947-1949)
- Dubes RI di Mesir dan Arab (1950-1951)
- Dubes RI di Pakistan (1956-1958)
- Associate Professor pada Institut Studi Islam, Universitas McGill, Kanada (1959)
- Direktur Islamic Center, Washington, AS
- Guru Besar Fakultas Hukum UI
- Direktur kantor Rabitah Alam Islami, Jakarta (sekarang)
Kegiatan Lain : - Anggota PP Muhammadiyah
- Anggota Dewan Pusat Dakwah
Karya : - antara lain Koreksi terhadap Dr. Harun Nasution tentang Islam ditinjau dari berbagai aspeknya, Bulan Bintang, 1977
- Strategi Kebudayaan dan Pembaharuan Pendidikan Nasional, Media Dakwah, 1979
- Kebebasan Beragama, Media Dakwah, 1979
- Janji-janji Islam, terjemahan dari Roger Garandy, Bulan Bintang, 1982
Alamat Rumah : Jalan Diponegoro 42, Jakarta Pusat Telp: 350147
Alamat Kantor : idem
|
|
H. MOHAMAD RASJIDI
Tampak pendiam dan tenang, bicaranya hati-hati -- seperti hendak melembutkan sikapnya yang keras. Namun, H.M. Rasjidi masih merasa Islam di Indonesia belum dipahami -- termasuk oleh sebagian ulama dan penguasa. "Mereka tidak mengerti apa sebenarnya Islam. Islam seolah-olah diidentikkan dengan tukang berontak," ujarnya. "Kewajiban sayalah untuk meluruskan Islam sebagaimana mestinya."
Belajar filsafat pada Universitas Kairo, Mesir, ia orang pertama Indonesia yang meraih gelar doktor tentang Islam di Universitas Sorbonne, Prancis. Pada 1956, bekas tokoh Masyumi ini pulang ke Indonesia, dan mengajar di UI. Hanya setahun: begitu pecah pemberontakan PRRI/Permesta, Rasjidi pergi ke Kanada dan menjadi associate professor di Universitas McGill di Montreal. Pada 1963, ia direktur Islamic Centre di Washington.
Bekas guru bahasa Arab pada zaman Belanda dan Jepang ini Menteri Agama RI yang pertama, 1946. Pada 1950-an Rasjidi duta besar RI di RPA, Arab Saudi, Iran, dan Pakistan. Menjadi penulis buku dan penerjemah, ia rajin "melempangkan" jalan pikiran yang dianggapnya menyimpang dari hukum Islam.Misalnya, Rasjidi termasuk penentang aliran "Pembaruan dalam Islam", yang dipelopori oleh tokoh muda Nurcholis Madjid. Ia mengkritik buku Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya. Pengarangnya, bekas rektor IAIN Jakarta, Prof. Dr. Harun Nasution, dinilainya mengadakan pendekatan Islam dengan "semangat orientalis". Buku yang menghebohkan kalangan Islam, Pergolakan Pemikiran Islam dari Ahmad Wahib dianggapnya destruktif. "Bertanya-tanya boleh saja. Tapi sekalian cari jawabnya," kata Haji Rasjidi, yang mengaku tidak ada "apa-apa" dengan Almarhum Wahib. "Ia sudah meninggal, dan mudah-mudahan Tuhan mengampuni dosa- dosanya."
Mei 1985, H.M. Rasjidi berusia 70 tahun. Untuk melanjutkan syiar Islam di Indonesia, ayah tiga anak itu masih suka memberi khotbah, atau menerjemahkan -- ketimbang menulis atas nama pribadi. "Menerjemahkan lebih safe," ujar ahli filsafat Islam yang menguasai bahasa Arab, Inggris, Prancis (aktif), dan Belanda (pasif), itu. "Saya tidak ingin kena ranjau," ia menambahkan.
Setelah sembahyang subuh, Rasjidi menyempatkan diri membaca Quran. "Saya selalu menangis bila mendengar orang mengaji. Apalagi kalau dibacakan oleh Muaammar Z.A., qariah Indonesia yang menang di MTQ Internasional di Mekkah," katanya. Karena menderita reumatik, jalan pagi tidak dilakukannya lagi. Ia masih gemar mengemudikan mobil beberapa menit di sekitar kediamannya di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat.
|