
Nama : ABDUL DJALIL PIROUS
Lahir : Meulaboh, Aceh, 11 Maret 1933
Agama : Islam
Pendidikan : - Sekolah Rakyat I, Meulaboh (1946)
- SMP Negeri II, Medan (1952)
- SMA Prayatna, Medan (1955)
- Departemen Seni Rupa ITB, Bandung (Sarjana, 1964)
- Graphic Design & Printmaking, Institut Teknologi Rochester, New York, AS (1969)
Karir : - Kopral Tentara Pelajar, Meulaboh (1948-1950)
- Sekretaris Departemen Seni Rupa ITB (1968)
- Ketua Studio Desain Grafis Seni Rupa ITB (1972-1981)
- Koordinator Bagian Desain ITB (1980-1982)
- Dekan Fakultas Seni Rupa dan desain ITB (1984-sekarang) Kegiatan lain: Pimpinan Utama Grup Decenta, Bandung (1973-1984)
- Anggota International Association of Arts, Unesco, Paris (1977-1985)
- Anggota Ikatan Ahli Desain Indonesia (IADI)
Alamat Rumah : Jalan Cisitu Indah VI/4, Bandung Telp: 83209
Alamat Kantor : Jalan Ganesha 10, Bandung Telp: 81214
|
|
ABDUL DJALIL PIROUS
Ketika berumur 9 tahun, ia sudah bisa mengagumi sulaman benang emas ibunya, Hamidah. "Sejak itu, saya sering mencoret- coret," tutur Pirous, mengenang. Anak kelima dari enam bersaudara ini mengaku dididik ibunya untuk bekerja keras. Kalau ibunya menyalin cerita rakyat Aceh dalam huruf Arab "gundul", ia pun membantu.
Tamat SD di Meulaboh, Aceh, Pirous memasuki SMP di Medan. Ia sempat ikut Tentara Pelajar (TP) dengan pangkat kopral, tetapi tidak lama. Selesai SMA di Medan, ia kuliah di Jurusan Seni Rupa ITB, dan lulus pada 1964. Lantas ia mengajar di alma maternya itu, sejak 1965.
Empat tahun kemudian, ia memperdalam Graphic Art Design Printmaking pada School of Art and Design, Institut Teknologi Rochester, AS. Pulang ke Indonesia, 1970, dan kembali mengajar di ITB, Pirous membentuk jurusan baru: desain grafis. Sejak November 1984, ia diangkat sebagai Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB.Pirous, yang pernah bergabung dengan But Muchtar dan Srihadi Sudarsono dalam Sekolah Seni Lukis Modern "Sanggar Seniman", termasuk produktif. Ia biasa menyelesaikan 15w20 lukisan sekaligus, berpindah-pindah dari satu kanvas ke kanvas lain. "Tapi, sejak 1972, produktivitas saya menurun," tutur putra Mouna Pirous Noor Mohammad (almarhum) -- pengusaha perkebunan karet -- ini. Sejak 1960, lebih dari 30 kali ia ikut pameran, di dalam dan luar negeri.
Ia pernah dikritik karena lukisan kaligrafinya, do'a iftitah, kurang sebuah tanda baca. "Salah menulis doa, merupakan dosa," katanya menirukan pengkritiknya ketika pameran di Semarang, 1979. Ia biasa berkarya di sanggar Decenta, yang ia dirikan 1972, di Bandung.
Sering menjadi pembicara dalam simposium dan lokakarya, Pirous pernah mengungkapkan bahwa para seniman di negara tetangga kita sudah menjamah kertas sebagai kreasi total, tidak hanya sebagai media. "Ternyata, kita masih ketinggalan jauh," ujarnya.
Pirous sudah menerima berbagai penghargaan, antara lain dari Amerika Serikat (1970) dan Korea (1984). Dari pemerintah RI ia memperoleh Anugerah Seni, 1985. Menikah dengan Erna Daeng Soetigna, juga pelukis, Pirous dikaruniai tiga anak. Di kala senggang, ia suka menonton film, membaca, atau memancing.
UPDATE:
Menjabat Dekan FSRD 1984-1990, dan pada 11 Maret 2003 Pirous memasuki masa pensiun sebagai guru besar seni rupa ITB. Perpisahannya itu ditandai dengan pameran lukisan dan foto-foto serta diskusi yang bertema "Pelepasan Prof AD Pirous", yang coba melihat kembali peran Pirous sebagai pendidik dan budayawan.
|