
Nama : Amri Yahya
Lahir : Palembang, Sumatera Selatan, 29 September 1939
Agama : Islam
Pendidikan : - SD sampai SMA di Perguruan Taman Siswa Palembang, Sumatera Selatan
- Akademi Seni Rupa Indonesia, Yogyakarta, (Ijazah I, 1961; Ijazah II, 1963)
- Jurusan Seni Rupa, Fakultas Keguruan Sastra dan Seni, IKIP Yogyakarta (S1), 1971
Karir : - Pelukis kaligrafi
- Perupa seni lukis batik kontemporer
- Dosen seni lukis di Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta
- Pemilik Galeri Amri Yahya
Kegiatan Lain : - Anggota kehormatan International Association of Art, Unesco Paris, 1977
- Ketua Himpunan Senirupawan Indonesia Yogyakarta, 1979
- Ketua Badan Koordinasi Kesenian Nasional Indonesia DIY
Karya : Buku :
1. Pengantar Apresiasi Kaligrafi
2. Seni Rupa Islam, Apresiasi, Estetika, dan Spiritualitas
Penghargaan : - Penghargaan Tertinggi Seni Lukis dari Akademi Seni Rupa Indonesia (1961)
- Anugerah Pagelaran Pan-Pacific Art dari Seoul, Korea Selatan (1988)
- Penghargaan Seni Bidang Seni Rupa dari Wali Kota Yogyakarta (1988)
- Penghargaan Seni Bidang Seni Rupa dari Gubernur DIY (1991)
- Tokoh Figur Jawa Tengah dan DIY dari Yayasan Lintas Wisata Indonesia, Semarang (1995)
- Doctor honoris causa di bidang evaluasi pendidikan seni dari Senat Universitas Negeri Yogyakarta (2001)
- Anugerah Sriwijaya dari Yayasan Genta Sriwijaya & Pemprov. Sumatera Selatan (2001)
- Wakil Indonesia untuk Nominator €œUnesco Sharjah Prize for Arab Culture€ dari Komisi Nasional untuk Unesco (2001)
Keluarga : Ayah : Yahya (almarhum, 1951)
Ibu : Zainab (almarhum, 1985)
Istri : Hj. Sud Sri Zuzamti
Anak : 1. Emi Palupi Yogananti
2. Adwi Prasetya Yogananta
3. Yunipan Nur Yogananta
4. Feriqo Asya Yogananta
Alamat Rumah : Jalan Gampingan No. 6, Yogyakarta 55253
Telepon (0274) 564525
Faksimile (0274) 588980
|
|
Amri Yahya
DI masa remajanya, Amri Yahma gemar menonton film. Dan selalu di kelas kambing. Saking getolnya menonton, pantatnya sampai bisulan. Melihat kota-kota besar dunia di film, Amri pun terobsesi keluar dari tempat kelahirannya, Palembang. Di kemudian hari, setelah jadi pelukis, hasrat besarnya itu pun tercapai. €œPertama kali saya ke San Francisco diajak profesor saya. Kemudian, saya keliling ke seluruh dunia untuk pameran,€ tutur pelukis Indonesia pertama yang berpameran keliling di Timur Tengah itu. Memulai pameran, baik pameran bersama maupun tunggal, di luar negeri sejak 1957, ia hingga kini sudah berpameran hampir di semua kota besar di lima benua.
Jadi pelukis adalah satu dari sekian banyak cita-cita masa mudanya. Pernah Amri ingin jadi penyair, tapi urung karena ia melihat sendiri jarang ada penyair yang kaya. Mau jadi tentara, ternyata tak direstui orangtua. Bercita-cita jadi polisi, ibunya melarang. Kata ibunya, polisi itu suka minta uang pada rakyat.
Selain tercapai menjadi pelukis, hanya satu dari sekian cita-citanya terlaksana, sebagai bintang film. Tetapi, katanya, €œTampang saya bengis; tampang pemerkosa, penjahat.€ Hanya sekali ia mendapat peran orang baik-baik; sebagai Sunan Pandanaran dalam film Sunan Kalijaga. €œLalu saya melihat ini bukan bidang saya. Tampaknya yang tepat jadi pelukis. Pekerjaan yang tidak mengganggu orang,€ ujar pendiri Teater Muslim Yogyakarta ini.
Bakat melukis sebenarnya sudah terlihat sejak kecil. Ia suka mencorat-coret tembok dan tiang rumahnya, sampai ayahnya marah-marah. Ketika saudara sepupunya mengatakan bahwa Amri punya bakat, ibunya membenarkan. Menurut sang ibu, di tubuh Amri kecil memang penuh dengan bakat-- yang dalam bahasa Palembang berarti koreng atau puru. Padahal yang dimaksud saudaranya itu adalah kemampuan bawaan menjadi pelukis. €œWaktu SMP, bakat saya berkembang: bisa memotret, melukis, dan membuat majalah dinding,€ kenang doctor honoris causa (bidang evaluasi pendidikan seni) dari Universitas Negeri Yoyakarta (2001) itu.
Karena orangtuanya tak mampu menyediakan biaya, apalagi ayahnya yang bekerja sebagai tukang gula aren sudah meninggal, Amri keluar masuk instansi untuk mencari beasiswa -- tapi tidak berhasil. Nekad juga pergi ke Yogya, ia terpaksa menjual sepeda dan ibunya menjual sapi untuk ongkos kepergiannya. Masuk Akademi Seni Rupa Indonesia di Kota Gudeg, bakatnya pun berkembang. Sketsa-sketsanya menghiasi majalah Mimbar Indonesia, Siasat, Basis, dan Budaya Jaya. Dari honor yang diperolehnya, Amri dapat mengongkosi hidupnya di perantauan.
Kenekatan yang lain dilakukannya dengan memamerkan sketsa-sketsanya di Jakarta, 1958. Berinovasi di bidang seni lukis batik, ia kemudian mendapat julukan salah-satu €œpelopor seni lukis batik kontemporer€. Kaligrafi pun ia tekuni, bahkan dengan belajar kaligrafi langsung ke beberapa kiai. Sebagai perupa, ia berharap: €œSegera terealisasi galeri nasional untuk seni rupa dan gedung kesenian untuk pertunjukan tradisional dan kontemporer di seluruh ibu kota provinsi.€
Lamarannya kepada Sud Sri Zuzamti dua kali ditolak. Sebab, calon mertuanya meminta Amri mendatangkan orangtuanya. Soalnya, ayahnya sudah meninggal. Ibunya? €œIbu saya miskin, walaupun harus menggadaikan tanah tetap tidak cukup untuk biaya,€ kenang ayah empat anak yang semuanya sudah sarjana ini. €œAkhirnya saya membawa orang yang lebih tua. Saya dandani pakai jas, bersarung dan berpeci, dan saya perkenalkan sebagai paman saya,€ katanya. Mereka menikah pada 1961.
|