A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | R | S | T | U | V | W | Y | Z

AZWAR ANAS




Nama :
AZWAR ANAS

Lahir :
Padang, Sumatera Barat, 2 Agustus 1931

Agama :
Islam

Pendidikan :
- SD, Padang (1944)
- SLP, Bukit Tinggi (1948)
- SLA, Padang (1951)
- Jurusan Kimia ITB, Bandung (Insinyur, 1959)
- Management Course Universitas Syracuse, AS (1959)


Karir :
- Pegawai Balai Penyelidikan Kimia, Bogor (1951-1952)
- Asisten Prof. Dr. Dupont pada Fakultas Pertanian Bogor (1954)
- Asisten Dosen Luar Biasa ITB (1958-1959)
- Dosen Luar Biasa ITB (1959-1960)
- Kepala Dinas A Pindad (1960-1961)
- Kepala Pusat Laboratoria Pindad (1962-1964)
- Kepala Pusat Karya Pindad (1965-1968)
- Dirut PT Purna Sadhana Pindad (1968-1970)
- Dirut PT Semen Padang (1970-1977)
- Presdir PT Semen Baturaja (1973-1977)
- Anggota MPR Utusan Daerah (1972-1977)
- Gubernur Sumatera Barat (1977-sekarang)


Kegiatan Lain :
- Ketua Dewan Penyantun IKIP Padang (1975-1977)
- Ketua I Presidium Asosiasi Semen Indonesia (1971-1977)


Alamat Rumah :
Jl. Jend. Sudirman No. 51, Padang, Sumatera Barat Telp: 21232

Alamat Kantor :
Gubernuran Padang, Jalan Jend. Sudirman, Padang Telp: 21222/21145

 

AZWAR ANAS


Sudah dua kali ia memangku jabatan gubernur, 1977-1982 dan 1982-1987. Padahal, Azwar Anas pernah mengatakan, jangankan untuk jadi gubernur, "Lewat di depan gedung ini pun saya takut ketika masih kecil." Gubernuran itu di zaman Belanda dihuni Residen Padang.
Mulai pukul 6.30 pagi hingga sore, setiap hari kerja, ia berada di kantornya. Umumnya Azwar sibuk menerima tamu -- dari berbagai lapisan masyarakat -- yang ingin berdialog langsung. Ia juga menganjurkan penggunaan telepon bagi mereka yang ingin membicarakan suatu masalah. "Dari pada capek-capek datang," katanya.
Anak bekas Kepala Jawatan Kereta Api, Padang, Anas Sutan Masa Bumi, ini paham betul tentang orang Minang, yang masih teguh memegang adat dan agama. Ia dikenal dekat dengan masyarakat. Dalam memberikan motivasi kepada bawahan atau masyarakat, Azwar sering mengutip ayat Quran.
Azwar juga beken di kalangan masyarakat Minangkabau perantauan. Setiap kali ada undangan, ia pasti datang dan jarang mengirim wakil. Tidak heran kalau Gerakan Seribu Minang yang dicanangkannya, sebagai realisasi imbauan Presiden agar para perantau Sumatera Barat berpartisipasi pada pembangunan daerahnya, segera mendapatkan tanggapan yang luas.
Di Stadion Agustus, Padang, setahun setelah Azwar memangku masa jabatan kedua, ia menerima Pataka Parasamya Purnakarya Nugraha, dari Presiden Soeharto. Penghargaan tertinggi itu diberikan bagi provinsi yang dinilai paling berhasil membangun daerahnya selama Pelita III. Ketika ia dimintai komentar, setelah memperoleh penghargaan tertinggi dalam bidang pembangunan itu, ia berkata, "Ini merupakan tanda bahwa kerja masyarakat Sumatera Barat selama ini diridhoi Tuhan Yang Mahakuasa. Ini merupakan keberhasilan rakyat Sumatera Barat seluruhnya, dan bukan keberhasilan gubernurnya."
Mayor Jenderal TNI-AD dan insinyur (lulusan ITB, 1959), yang memperoleh gelar "Datuk Rajo Suleman" dari Lembaga Karapatan Adat Alam Minangkabau ini pada masa mudanya adalah seorang musikus yang terkenal dengan biolanya. "Dengan kesenian, jiwa yang kering akan menjadi segar," ujarnya. Ia menikah dengan Jusmeini, 1957, dan dikaruniai lima anak.
Putri sulungnya tewas akibat kecelakaan pesawat terbang Merpati di pantai Padang, 1971. Tetapi, sebelumnya ia dapat menulis dalam buku catatannya: "Sebaiknya kita menjadi lilin. Biarlah tubuh hancur terbakar, asal orang lain bisa menerima manfaat karena kita terangi." Kata-kata itu, menurut Azwar, sangat berkesan dan senantiasa mendorongnya untuk mengabdi pada masyarakat.
UPDATE:

Azwar Anas dua periode berturut-turut menjabat sebagai Gubernur Sumatra Barat. Prestasinya antara lain mengantar daerahnya meraih Parasamnya Purnakarya Nugraha pada pelita IV tahun 1984. Jabatan kedua berakhir pada 30 Oktober 1987. Selanjutnya, Presiden Soeharto memilih Azwar Anas menjadi Menteri Perhubungan untuk periode 1988-1993. Pada kabinet berikutnya, kembali Azwar Anas masuk kabinet, tetapi menjabat Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, sampai berakhir pada 1998, tatkala Soeharto mundur sebagai presiden.

Copyright PDAT 2004

comments powered by Disqus

 


A. MATTULADA | A. SULASIKIN MURPRATOMO | ABDOEL RAOEF SOEHOED | ABDUL AZIS LAMADJIDO | ABDUL DJALIL PIROUS | ABDUL GAFAR ABDULLAH (EBIET G. ADE) | ABDUL GAFUR TENGKU IDRIS | ABDUL KADIR | ABDUL KARIM OEY | ARBI SANIT | ARDIANSYAH | ANWAR NASUTION | ARIEF BUDIMAN | ARIFIN CHAIRIN NOER | ANTON SOEDJARWO | ARIFIN M. SIREGAR | AMRI YAHYA | ARISTIDES KATOPPO | AMIRMACHMUD | ARSWENDO ATMOWILOTO | AMIR MOERTONO | AWALUDDIN DJAMIN | AZWAR ANAS | ALI SADIKIN | AHMAD SYAFII MAARIF | AHMAD SADALI | ACHDIAT KARTA MIHARDJA | ABDULLAH PUTEH | ABDULGANI | ABDUL RACHMAN RAMLY | ABDUL QADIR DJAELANI | ABDUL LATIEF | A. Deni Daruri | A.T. Mahmud | Abdul Hakim Garuda Nusantara | Abdul Mun'im Idries | Abdullah Gymnastiar | Ade Armando | Ade Rai | Afan Gaffar | Agnes Monica | Agum Gumelar | Ahmad Syafi'i Ma'arif | Alfons Taryadi | Amir Syamsuddin | Amiruddin Zakaria | Amri Yahya | Amrozi | Anand Krishna | Ananda Sukarlan | Anang Supena | Andrianus Meliala | Andy F. Noya | Anton Bachrul Alam | Anton M. Moeliono | Apong Herlina | Arbi Sanit | Aria Kusumadewa | Arifin Panigoro | Aristides Katoppo | Arjatmo Tjokronegoro | Arswendo Atmowiloto | Arwin Rasyid | Asikin Hanafiah | Atmakusumah Astraatmadja | August Parengkuan | Ayu Azhari | Ayu Utami | Azyumardi Azra | Anwar Nasution | Arief Budiman | Abdul Rahman Saleh | Anton Apriyantono | Adyaksa Dault


Arsip Apa dan Siapa Tempo ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq