
Nama : ALI SADIKIN
Lahir : Sumedang, Jawa Barat, 7 Juli 1927
Agama : Islam
Pendidikan : - SD, Sumedang
- SMP, Sumedang
- SMA, Bandung
- Sekolah Pelayaran Tinggi, Semarang (1945)
- Advanced Course for Officers of Marine Corps, AS
- US Marine Corps School, AS
Karir : - Kepala Bagian Organisasi Korps Marinir dan Kepala Bagian Perencanaan Korps Armada IV (1950)
- Komandan Kesatrian KKO Wonokitri, merangkap Kepala Staf KKO (1950-1954)
- Komandan Pusat Pendidikan KKO (1954-1959)
- Perwira Hakim pada Pengadilan Tinggi Militer Surabaya/Malang
- Dosen Akademi Angkatan Laut, Surabaya
- Deputi II Menteri Pangal (1959-1963)
- Deputi Menteri Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan
- Menteri Perhubungan Laut (1963-1966)
- Gubernur DKI Jakarta (1966-1977)
- Direktur Utama PT Arcalina (1978)
- Anggota Yayasan Lembaga Kesadaran Berkonstitusi (1978- sekarang)
- Anggota Kelompok Kerja Petisi 50 (1980-sekarang) Kegiatan lain: Ketua Umum PSSI (1977-1980)
Alamat Rumah : Jalan Borobudur 2, Jakarta Pusat
|
|
ALI SADIKIN
Bahkan Almarhum Bung Karno pernah mengatakan, "Ali Sadikin orang keras". Mungkin ini yang mendorong presiden pertama RI itu mengangkat Ali sebagai Gubernur DKI Jakarta, yang sedang semrawut dan kacau-balau, April 1966. Setelah tidak menjadi gubernur dan pensiun dari dinas militer, sikapnya masih tetap "keras".
Di bawah pimpinannya, terhadap Jakarta segera diterapkan penegakan hukum dan terapi kejut (shock treatment). Pertokoan dan permukiman "ditata kembali", termasuk untuk pelebaran jalan. Daerah bebas becak diberlakukan, dan untuk pedagang kaki lima dibuatkan pasar-pasar Inpres, demi ketertiban lalu lintas.
Berikutnya, bar, panti pijat, dan kasino diarahkan -- dengan pengenaan pajak yang tinggi -- agar dapat mengisi kas pemerintah daerah. Tetapi Bang Ali -- panggilan akrabnya -- juga membangun masjid, gereja, puskesmas, sekolah, di samping gedung tinggi. Untuk budayawan, ia dirikan Taman Ismail Marzuki. Bagi kaum muda, ia bangun gelanggang remaja. Di mana- mana berdiri stasiun dan terminal bis, serta pasar.
"Bukan mau sombong, tapi orang jangan lupa itu," kata Bang Ali tentang suksesnya membangun dan menertibkan Jakarta. Ketika mulai menjadi gubernur, menurut Ali, dana yang tersedia hanya Rp 66 juta. Saat meninggalkannya, ia mewariskan anggaran belanja Rp 16 milyar. Para ahli perkotaan dan lingkungan menilainya berhasil mengakhiri dualisme, memelopori badan perencanaan daerah, dan membagi wewenang kepada bawahan -- sambil menyemprotkan kata "goblok" bagi bawahan yang berbuat salah. Untuk keberhasilannya itu pula ia menerima Hadiah Magsaysay dari Filipina.
Sejak kecil Ali Sadikin bercita-cita menjadi pelaut. Maka, kesempatan masuk Sekolah Tinggi Pelayaran di zaman Jepang ia manfaatkan. Ketika revolusi pecah, anak kelima dari enam bersaudara pendiri sekolah pertanian di Tanjungsari, Jawa Barat, ini masuk BKR-Laut, cikal bakal TNI-AL. Ia lalu dikirim ke Tegal, Jawa Tengah, untuk membentuk pangkalan AL, kesempatan yang juga ia gunakan untuk membentuk Korps Marinir. Di samping berjuang dalam masa Agresi Belanda I & II, bekas pengajar Akademi AL itu turut menumpas Permesta di Sulawesi Utara. Berada di garis depan, menurut cerita, ia maju berlari sambil memberondongkan senapan mesin. Siswa dan teman-teman Ali menamakannya "gaya Hollywood".
Ali Sadikin, yang mengaku tidak mempunyai kegiatan usaha apa- apa, menganggap purnawirawan ABRI boleh menjadi anggota organisasi apa pun. "Anggota ABRI memang tidak boleh masuk parpol, atau Golkar. Tetapi purnawirawan boleh masuk apa saja yang dikehendaki," ujar anggota kelompok Petisi 50 yang menjadi saksi a de charge dalam perkara subversi H.R. Dharsono itu.
Dalam usia 61 tahun (1986), tubuh letjen purnawirawan ini masih kekar. Di Fitness Centre Hotel Mandarin, ia melakukan aerobik, senam, mengayuh sepeda argo, dan angkat besi. Istrinya, Nani Arnasih, ibu empat anak laki-laki, Februari 1986, meninggal setelah dua tahun melawan kanker yang menyerang livernya.
UPDATE:
Walau sudah lama pensiun sebagai Gubernur DKI Jakarta, pada 2002 orang masih mengenang keberhasilannya. Dewan Kesenian Jakarta, pada Agustus 2002, memberikan penghargaan "Anugerah Cipta Utama" kepada Bang Ali. Penghargaan itu diberikan karena keputusan Ali Sadikin ketika menjabat Gubernur DKI Jakarta mendirikan Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (PKJ-TIM) tahun 1968, dinilai oleh DKJ sebagai keputusan yang luar biasa, dan menjadi sebuah monumen besar.
Kini, di usianya yang sudah mencapai 75 tahun, fisiknya mulai lemah. Ia tidak bisa lagi berolahraga angkat besi, kegemarannya. Pendengarannya pun mulai menurun. Bahkan sekarang ia perlu memakai alat bantu dengar di telinga. Namun, satu hal yang tidak berubah: wataknya yang keras dan semangatnya tak pernah surut, termasuk ketika melontarkan kritik. Anggota Kelompok Kerja Petisi 50 ini masih aktif mengadakan diskusi bagi kelompok tersebut. €œMisi kami tetap mengajarkan demokrasi yang sebenarnya, untuk memperbaiki nasib bangsa. Tetapi bukan untuk jadi presiden,€ katanya kepada Tempo.
|