A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | R | S | T | U | V | W | Y | Z

August Parengkuan




Nama :
August Parengkuan

Lahir :
Surabaya, Jawa Timur, 1 Agustus 1943

Pendidikan :
- Fakultas Hukum dan Ilmu-Ilmu Sosial Universitas Indonesia (tidak selesai) (1967)
- Jurnalistik, Berlin Barat (1968)
- Diploma Ilmu Politik Australia National University, Canberra, Australia


Karir :
- Reporter Kompas untuk berita-berita pengadilan (1965-1966)
- Reporter Kompas untuk berita-berita kepresidenan (1966-1971)
- Wartawan roving Kompas (1971-1974)
- Redaktur peristiwa daerah Kompas (1974-1978)
- Redaktur Pelaksana Kompas edisi Minggu (1978-1981)
- Redaktur Berita Politik Kompas (1981-1987)
- Wakil Redaktur Berita Kompas (1988-1989)
- Wakil Redaktur Pelaksana Kompas (1989-1990)
- Redaktur Pelaksana Kompas (1990-1992)
- Wakil Pemimpin Redaksi Kompas (1992-1993)
- Redaktur Eksekutif/Wakil Pemred Kompas (1993-2000)
- Redaktur Senior Kompas (2000 €“ sekarang)
- Pemimpin redaksi majalah Bridge Indonesia (1998-sekarang)
- Direktur Komunikasi Kelompok Kompas-Gramedia (2000-sekarang)
- Presiden Direktur Tivi 7 (2001€“sekarang)
- Wakil Presiden Senior Grup Kompas-Gramedia (2002)


Kegiatan Lain :
- Wakil Presiden Perhimpunan Humas Indonesia (1993-1996)
- Direktur Konfederasi Wartawan ASEAN (1994-sekarang)
- Presiden Perhimpunan Humas Indonesia (2000-2002)


Keluarga :
Ayah : Letkol (Purn.) Jacob Parengkuan Ibu : B.P. Parengkuan Istri : Sonya Parengkuan Anak : 1. Charles Ronald 2. Ira Melanie 3. Nadiaputri 4. Atika Gadis

Alamat Kantor :
- Harian Kompas, Jalan Palmerah Selatan 26-28, Jakarta 10270 Telepon (021) 5302200, 5347710/20/30 - Tivi 7, Wisma Dharmala Sakti Kav. 32, Jalan Sudirman, Jakarta Telepon (021) 570-7979, 5709777

 

August Parengkuan
August Parengkuan

SETELAH lebih tiga puluh tahun August Parengkuan bergelut di media cetak, kini ia dipercaya menjadi Presiden Direktur Tivi 7, stasiun televisi swasta baru milik Kelompok Kompas-Gramedia. Baginya, ini adalah tantangan, termasuk tantangan menyesuaikan diri dengan kultur kerja di media televisi yang mengharuskan kerja 24 jam. €œSaya sadar ini harus berhasil. Kalau gagal, saya bisa dimaki,€ kata August.

Jadi wartawan, sebenarnya, bukanlah cita-citanya sejak awal. Ayahnya seorang tentara€”yang sewaktu August kecil sering bertugas memadamkan pemberontakan di Sulawesi dan Maluku. €œSaya dulu ingin jadi tentara,€ tutur pria kelahiran Surabaya yang menghabiskan masa kecil di Sulawesi ini. Cuma, berbeda dengan sang ayah, dalam pandangan August: €œTentara kok bisa jadi bupati, gubernur, duta besar, menteri. Sehingga saya berpikir kalau begitu jadi tentara saja,€ ujarnya lagi. Tapi, ketika ia melamar, ibunya menangis, dan si sulung ini tahu arti air mata ibunya. Sebagai istri tentara, sang ibu sering ditinggal pergi suaminya ke medan tempur; bahkan pernah selama beberapa bulan tidak ada kabar dan tidak menerima gaji. Demi sang ibu, ia batal jadi tentara.

€œKemudian saya ingin jadi diplomat,€ kata August. Untuk itu, pada 1963, ia pergi ke Jakarta, menjumpai pamannya yang bekerja di Departemen Luar Negeri, dan ia ingin masuk Akademi Dinas ke Luar Negeri. Sayang, akademi tersebut ternyata sudah tutup. Ketika harian Kompas hendak diterbitkan pada 1965, ia pun melamar dan diterima. Ia tertarik pada jurnalistik karena waktu SMA di Makassar, ia sudah suka menulis dan pernah menjadi pemasok tulisan satu koran minggu di ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan itu.

Pertama kali ia ditugaskan di desk malam, kemudian sebagai reporter pengadilan, meliput kegiatan militer, dan bidang politik. Karena senang berpetualang, ia sangat menikmati pekerjaannya, apalagi ketika ditugaskan ke luar negeri meliput perang. Antara lain, ia meliput perang di Cekoslovakia ketika pasukan Pakta Warsawa menyerang negara itu, 1968; ke Papua Nugini sebelum merdeka; ke Timor Timur sebelum Indonesia masuk, 1972; dan meliput perang di Afghanistan pada 1979. Juga, €œSaya ke Mesir ketika Anwar Saddat ditembak mati.€

Selain luar negeri, ia kerap mengadakan perjalanan ke daerah-daerah. Pengalaman yang mengesankan adalah sewaktu menyertai Presiden Soeharto ke Manado pada 1969. Ketika itu ayahnya menjadi komandan militer di sana dan menyambut kedatangan rombongan. €œOrang-orang pada melihat saya dan bertanya siapa dia. Saya jawab, 'Itu ayah saya',€ tutur lelaki yang pernah belajar jurnalistik di Berlin Barat itu.

Karir kewartawanannya, sejak bergabung dengan Kompas hingga kini berjalan lancar. Setelah 27 tahun, ia menjabat sebagai wakil pemimpin redaksi. Ketika Kelompok Kompas-Gramedia mendirikan stasiun televisi, ia dipercaya memimpinnya. Kunci suksesnya, selain disiplin€”sebagai hasil gemblengan yang keras dari orangtuanya€”August berprinsip bahwa seorang wartawan harus profesional, melaksanakan penugasan bukan atas dasar suka atau tidak. Ini pula yang ia pesan kepada yunior-yuniornya.

Moto hidupnya: €œKita boleh maju tapi tidak dengan merugikan orang lain.€ Wartawan senior ini mengamati bahwa pemberitaan yang sensasional semakin marak, pemberitaan yang berimbang semakin kurang.

Terbiasa kerja, August tak bisa membayangkan masa pensiun. Ujarnya, €œMembayangkan pensiun saja bisa stres.€ Katanya lagi: €œPokoknya kalau pensiun, kita jangan stuck di rumah, itu bahaya sekali.€ Kalaupun tidak ada pekerjaan, ia ingin kuliah dan belajar bermain piano.

Menikah dengan Sonya, pada 1976, pasangan ini dikaruniai empat anak. August hobi main tenis. Soal selera musik, ia suka jenis musik apa saja, dari klasik sampai keroncong dan dangdut.

Copyright PDAT 2004

comments powered by Disqus

 


A. MATTULADA | A. SULASIKIN MURPRATOMO | ABDOEL RAOEF SOEHOED | ABDUL AZIS LAMADJIDO | ABDUL DJALIL PIROUS | ABDUL GAFAR ABDULLAH (EBIET G. ADE) | ABDUL GAFUR TENGKU IDRIS | ABDUL KADIR | ABDUL KARIM OEY | ARBI SANIT | ARDIANSYAH | ANWAR NASUTION | ARIEF BUDIMAN | ARIFIN CHAIRIN NOER | ANTON SOEDJARWO | ARIFIN M. SIREGAR | AMRI YAHYA | ARISTIDES KATOPPO | AMIRMACHMUD | ARSWENDO ATMOWILOTO | AMIR MOERTONO | AWALUDDIN DJAMIN | AZWAR ANAS | ALI SADIKIN | AHMAD SYAFII MAARIF | AHMAD SADALI | ACHDIAT KARTA MIHARDJA | ABDULLAH PUTEH | ABDULGANI | ABDUL RACHMAN RAMLY | ABDUL QADIR DJAELANI | ABDUL LATIEF | A. Deni Daruri | A.T. Mahmud | Abdul Hakim Garuda Nusantara | Abdul Mun'im Idries | Abdullah Gymnastiar | Ade Armando | Ade Rai | Afan Gaffar | Agnes Monica | Agum Gumelar | Ahmad Syafi'i Ma'arif | Alfons Taryadi | Amir Syamsuddin | Amiruddin Zakaria | Amri Yahya | Amrozi | Anand Krishna | Ananda Sukarlan | Anang Supena | Andrianus Meliala | Andy F. Noya | Anton Bachrul Alam | Anton M. Moeliono | Apong Herlina | Arbi Sanit | Aria Kusumadewa | Arifin Panigoro | Aristides Katoppo | Arjatmo Tjokronegoro | Arswendo Atmowiloto | Arwin Rasyid | Asikin Hanafiah | Atmakusumah Astraatmadja | August Parengkuan | Ayu Azhari | Ayu Utami | Azyumardi Azra | Anwar Nasution | Arief Budiman | Abdul Rahman Saleh | Anton Apriyantono | Adyaksa Dault


Arsip Apa dan Siapa Tempo ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq