A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | R | S | T | U | V | W | Y | Z

ABDUL KARIM OEY




Nama :
ABDUL KARIM OEY

Lahir :
Padang, Sumatera Barat, 6 Juni 1905

Agama :
Islam

Pendidikan :
- Sekolah rakyat dan kursus-kursus

Karir :
- Konsul PP Muhammadiyah Daerah Bengkulu dan Sumatera Selatan 1937-1952)
- Wakil Ketua Shu Sangi Kai (DPRD) Bengkulu (1945)
- Anggota Komite Nasional Daerah Bengkulu (1945)
- Ketua Umum Partai Masyumi Bengkulu (1946-1960)
- Anggota Majelis Tanwir Muhammadiyah (1952-1973)
- Anggota Dewan Partai Masyumi (1957-1960)
- Anggota DPR-RI (1957-1960)
- Ketua Umum Persatuan Islam Tionghoa/Pembina Iman Tauhid Islam (PITI), 1963-1979
- Anggota Pengurus Majelis Ekonomi Muhammadiyah (1964-1973)
- Anggota Pimpinan Harian Panitia Pembangunan Masjid Istiqlal (1967-1974)
- Anggota PP Parmusi (1967-1970)
- Bendahara pembangunan gedung Muhammadiyah (1970-1979)
- Anggota Dewan Penyantun Bakom PKB Pusat (1977-sekarang)
- Anggota Pengurus MUI (1980-1985). Direktur Bank Muslimin Indonesia, Bengkulu (1946-1948)
- Komisaris Utama PT Bank Central Asia (1955-1973)
- Direktur PT Mega Pusat (1962-sekarang)
- Direktur pabrik kaus Asli (1962-1980)
- Dirut PT Sumber Bengawan Mas (1972-1979)
- Direktur PT Pancuran Mas (1979-1980)


Alamat Rumah :
Jalan Tomang Raya 18, Jakarta Pusat

 

ABDUL KARIM OEY


“Di samping Muslim yang taat, dia pun dipupuk, diasuh, dan menjadi seorang nasionalis Indonesia sejati," tulis Almarhum Hamka mengenai Abdulkarim, dalam risalahnya, Dakwah dan Asimilasi. Bahkan, "Beranilah saya mengatakan bahwa Saudara Haji Abdulkarim Oey adalah seorang pionir dalam kalangan Indonesia keturunan Tionghoa," sambung Buya.
Oey Tjeng Hien, demikian nama asli Karim, piatu sejak usia dua bulan. Dibesarkan kakak iparnya, ia hanya berpendidikan SD zaman Belanda, dan kursus dagang. Biasa dipanggil "Baba Adek", atau "Babadek", Oey pandai bergaul dan suka berorganisasi. Ia terpilih menjadi Ketua Tanah Air Sendiri (TAS), organisasi yang mempunyai klub sandiwara, sepak bola, dan orkes gambus. "Itulah pertama kalinya saya berbaur dengan pemuda-pemudi pribumi," tuturnya.
Meninggalkan kota kelahirannya, Padang, Babadek menuju ke Bintuhan, Bengkulu, 1926. Di sana ia mengembangkan bakat dagangnya, berjualan hasil bumi sampai ke Batavia (Jakarta), dan memberantas rentenir. "Mereka yang memerlukan pinjaman uang sebisanya saya bantu tanpa rente," katanya.
Ia rajin menimba berbagai ilmu dari pelbagai buku. Agaknya ketekunannya membaca mendorong Oey mencari agama yang cocok. Mula-mula ia penganut Budha dan Konghucu, kemudian pindah ke agama Kristen. "Lama-lama, saya tidak puas," ujarnya. Oey akhirnya mengucapkan kalimah syahadat, 1931. Ia kemudian memilih nama Abdulkarim bagi dirinya.Ketika Soekarno dibuang ke Bengkulu, 1938, terjalinlah persahabatan yang akrab antara presiden pertama RI itu dan Karim. Ia tidak kuasa menolak ajakan Soekarno untuk menjadi konsul Muhammadiyah wilayah Bengkulu, menggantikan Haji Yunus Jamaludin yang sakit. Dalam hubungan SoekarnowFatmawati, Karim ikut memegang peranan.
Memenuhi anjuran Soekarno, Karim pindah ke Bengkulu. Ia lantas mendirikan perusahaan bangunan dan mebel. Tanpa dibayar, Soekarno membantunya dalam pengadaan bahan dan keahlian. Setelah kemerdekaan, ia pindah ke Jakarta, bergerak dalam perbankan, asuransi, perdagangan umum, dan industri. Pabrik kau2 "Asli 777", merupakan satu di antara perusahaannya.
Oey pernah menjadi Ketua Umum Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), yang kemudian berubah nama menjadi Pembina Iman Tauhid Islam, dan mewakili partai Islam Masyumi di Parlemen. Ia kemudian menjadi anggota PP Parmusi pada 1968. Setahun sebelumnya, ia diangkat sebagai pimpinan harian Panitia Penyelenggara Pembangunan Masjid Istiqlal.
Karim juga menulis buku autobiografinya, Mengabdi Agama, Nusa dan Bangsa dengan subjudul, Sahabat Karib Bung Karno (PT Gunung Agung, 1982). Buku ini sempat mengundang protes kelompok yang menamakan dirinya "Para Pejuang Bengkulu".
UPDATE:
Abdul Karim Oey meninggal pada 1988.

Copyright PDAT 2004

comments powered by Disqus

 


A. MATTULADA | A. SULASIKIN MURPRATOMO | ABDOEL RAOEF SOEHOED | ABDUL AZIS LAMADJIDO | ABDUL DJALIL PIROUS | ABDUL GAFAR ABDULLAH (EBIET G. ADE) | ABDUL GAFUR TENGKU IDRIS | ABDUL KADIR | ABDUL KARIM OEY | ARBI SANIT | ARDIANSYAH | ANWAR NASUTION | ARIEF BUDIMAN | ARIFIN CHAIRIN NOER | ANTON SOEDJARWO | ARIFIN M. SIREGAR | AMRI YAHYA | ARISTIDES KATOPPO | AMIRMACHMUD | ARSWENDO ATMOWILOTO | AMIR MOERTONO | AWALUDDIN DJAMIN | AZWAR ANAS | ALI SADIKIN | AHMAD SYAFII MAARIF | AHMAD SADALI | ACHDIAT KARTA MIHARDJA | ABDULLAH PUTEH | ABDULGANI | ABDUL RACHMAN RAMLY | ABDUL QADIR DJAELANI | ABDUL LATIEF | A. Deni Daruri | A.T. Mahmud | Abdul Hakim Garuda Nusantara | Abdul Mun'im Idries | Abdullah Gymnastiar | Ade Armando | Ade Rai | Afan Gaffar | Agnes Monica | Agum Gumelar | Ahmad Syafi'i Ma'arif | Alfons Taryadi | Amir Syamsuddin | Amiruddin Zakaria | Amri Yahya | Amrozi | Anand Krishna | Ananda Sukarlan | Anang Supena | Andrianus Meliala | Andy F. Noya | Anton Bachrul Alam | Anton M. Moeliono | Apong Herlina | Arbi Sanit | Aria Kusumadewa | Arifin Panigoro | Aristides Katoppo | Arjatmo Tjokronegoro | Arswendo Atmowiloto | Arwin Rasyid | Asikin Hanafiah | Atmakusumah Astraatmadja | August Parengkuan | Ayu Azhari | Ayu Utami | Azyumardi Azra | Anwar Nasution | Arief Budiman | Abdul Rahman Saleh | Anton Apriyantono | Adyaksa Dault


Arsip Apa dan Siapa Tempo ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq