
Nama : A. Deni Daruri
Lahir : Jakarta, 12 Oktober 1967
Agama : Islam
Pendidikan : - SMA Negeri 16, Palmerah, Jakarta Barat (1985)
- Jurusan Akuntasi, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIEI) Jakarta (S1; 1989)
Karir : - Staf pengajar Laboratorium Akuntansi pada Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIEI) Jakarta (1989-1991
- Bekerja pada Kantor Akuntan KPMG Hanadi Sudjendro dan Rekan, sebagai auditor (1990-1993)
- Finance Analist Group (1993-1997)
- Finance and Management Consultant (1997-sekarang)
- Presiden Direktur Center for Banking Crisis (CBC; 1999-sekarang)
Kegiatan Lain : - Kajian Ekonomi Islam Strategis (1995-sekarang)
- Sekjen Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia (1998-Mei 1999)
Penghargaan : - The American Biographical Institute 2000 commemorative medal €œMan of The Year€ for outstanding community and professional achievement
Keluarga : Ayah : H. Mahdum
Ibu : Hj. Sukmariyah
Istri : Neny Rachmawati
Anak : 1. Achmad Abyan Faqih
2. Raihan Adzkia
3. Fathiya Ulya
Alamat Rumah : Villa Pamulang Mas Blok C 3 No. 7, Pamulang, Tangerang, Jawa Barat
Alamat Kantor : Jalan Rasamala No. 39, Jakarta Selatan
|
|
A. Deni Daruri
DIREKTUR Center of Banking Crisis (CBS) ini mengaku: €œDilindungi banser gaib kiriman K.H. Abdullah Abbas dari Cirebon.€ Ini karena pekerjaannya€”sewaktu menginvestigasi kasus penyelewengan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI), yang kemudian dibukukan€”sangat berisiko. Ia dan keluarganya kerap menerima teror. Kaca mobilnya pernah ditembaki, pernah pula mendapat ancaman bom lewat telepon. Untuk pengamanan, ia tidak melapor ke tentara atau polisi, tapi ke K.H. Abdullah Abbas. €œSejak itu saya tenang,€ aku Deni.
Deni mengawali karirnya sebagai auditor perbankan di Kantor Akuntan KMPG Hadani Sudjendro, Jakarta. Begitu masuk, ia disuruh bosnya mengaudit Bank Internasional Indonesia (BII). €œWah, saya bingung. Saya tidak mengerti. Akhirnya saya bawa pulang, lalu saya pelajari malam-malam cara mengauditnya. Mulailah saya bisa,€ kenang Deni. Selanjutnya, ia dipercaya mengaudit Bangkok Bank, Bank Pelita, Bank Artha Prima, Bank Intan. Juga mengaudit industri, antara lain PT Artek Inti Persada, PT Pradja Pharmatical. Empat tahun di KPMG, ia bosan, lalu Deni pindah ke sebuah perusahaan finansial. Bersama Egi Sudjana, ia sempat jadi pengurus Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia. Akhirnya, Maret 1998, ia mendirikan Center for Banking Crisis dan merekrut karyawan bank yang dilikuidasi. Pada awalnya, CBC mengungkap permasalahan yang ada dalam suatu bank agar masyarakat mengetahui. €œKemudian sejak awal 2001 kita mencoba mengarah kepada solusi, bagaimana bangsa ini recovery,€ kata Deni.
Lahir sebagai anak ketiga dari lima bersaudara, Deni sejak kecil bercita-cita menjadi dokter. Sekolahnya lancar-lancar saja. Bahkan, ungkapnya, €œDi SD saya selalu dapat ranking satu; di SMP Negeri 61 juga masih dapat ranking.€ Apalagi saat SMA ia menyukai kimia dan matematika, sehingga makin mantaplah keinginannya kuliah di fakultas kedokteran. Tapi, karena pertimbangan biaya bahwa kuliah di kedokteran itu mahal, ia pilih jurusan yang biayanya lebih murah.
Deni memang berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya sopir di BNI 46, yang pensiun tahun 1990. Ibunya, Hj. Sukmariyah, ibu rumah tangga yang juga guru mengaji. €œTernyata jurusan ekonomi cukup menarik, karena langsung menyentuh kehidupan orang banyak,€ ujarnya. Sayang, tiga kali gagal tes masuk perguruan tinggi negeri, ia terpaksa berpaling ke swasta. Pada tiga lembar kertas, ia tuliskan tiga nama perguruan tinggi swasta, lalu ia lempari pensil dan jatuh di atas kertas tertulis STIEI Rawamangun. Lalu, Deni pilih kuliah di sana, yang diselesaikan selama tiga tahun enam bulan.
Bukan lantaran kini populer Deni sangat menikmati profesinya. Popularitas justru membuat ia bersikap hati-hati untuk berbicara yang benar, supaya tidak menyesatkan. Tapi ujarnya, €œKarena senang memberikan semacam solusi kreatif tentang perbankan.€
Deni menikah dengan Neny Rachmawati pada 1993, yang memberinya tiga anak. Di antara kesibukannya, ia menyisihkan waktu untuk keluarga: mengantar anak ke sekolah atau jalan-jalan bersama keluarga, atau bermain basket. Untuk anak-anaknya, selain didikan agama, ia memperkenalkan mereka sejak dini dengan bahasa Inggris dan komputer. €œLalu kami juga mengajari mereka untuk peduli kepada orang-orang yang paling susah di bawah kita. Misalnya, biasanya Sabtu-Minggu, kita beli bahan pokok atau beras untuk diberikan pada orang-orang susah,€ tuturnya.
Hobinya main hoki, tapi itu dulu ketika SMA. Bahkan, ia pernah ikut menjuarai turnamen nasional hoki. €œSaya (sebagai kapten) menjuarai kejuaran dua kali,€ aku Deni. Yang biasa ia baca, selain buku ekonomi, juga buku sejarah orang-orang besar, terutama para Sahabat Nabi, para sufi, dan tokoh dunia.
|