
Nama : Arief Budiman
Lahir : Jakarta, 3 Januari 1941
Pendidikan : - SD, Jakarta, 1955
- SMP Kanisius, Jakarta, 1958
- SMA, Jakarta, 1961
- Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 1968
- Harvard University, Cambridge, Massachusetts, AS, 1980 (Ph.D sosiologi)
Karir : - Staf Association for Cultural Freedom, Paris, Prancis (1972-1973)
- Asisten Peneliti Institute for Advanced Studies, Princeton, New York, AS (1977-1978)
- Pengajar di Universitas California, Santa Cruz, AS (1978-1981)
- Pengajar dan Pembantu Rektor Urusan Pendidikan Penelitian dan Pengembangan Universitas Kristen Satya Wacana (1980 €“ 1996)
- Guru besar kajian Indonesia di Universitas Melbourne, Australia, (1997 €“ sekarang)
Kegiatan Lain : - Wakil Ketua Dewan Kesenian Jakarta (1968-1970)
- Anggota Badan Sensor Film (1968-1971)
- Direktur Yayasan Indonesia (penerbit majalah Horison) (1970)
Karya : 1. Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan. Jakarta: Pustaka Jaya, 1976.
2. Pembagian Kerja Secara Seksual. Sebuah Pembahasan Sosiologis tentang Peran Wanita di Masyarakat. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1981 (cetak ulang pada 1982, 1985).
3. Jalan Demokrasi ke Sosialisme: Pengalaman Chili di bawah Allende. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1987.
4. Sistem Perekonomian Pancasila dan Ideologi Ilmu Sosial di Indonesia. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1989 (cetak ulang 1990).
5. Negara dan Pembangunan: Studi tentang Indonesia dan Korea Selatan. Jakarta: Yayasan Padi dan Kapas, 1991.
6. The State and Political Regime in Indonesia. Yokohama: PRIME, 1991.
7. Teori Pembangunan Dunia Ketiga. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1995 (cetak ulang pada 1996).
8. Teori Negara: Negara, Kekuasaan dan Ideologi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1996.
Keluarga : Ayah: Salam Sutrawan (almarhum)
Ibu : Maria Sugiri (almarhum)
Istri : Sitti Leila Chairani
Anak :
1. Adrian Mitra
2. Susanti Kusumasari
Alamat Rumah : - Kemiri Candi 36 Salatiga 50711, Telepon (0298) 324 050 (Indonesia)
- 3/12 Centennial Avenue, Brunswick Victoria 3055 Australia
Alamat Kantor : Mials University of Melbourne Victoria 3010 Australia, Telepon : +61 3 8344 6650; +61 3 9349 3472
|
|
Arief Budiman
Semula cita-citanya ingin jadi pilot atau pelaut agar bisa pergi ke luar negeri. Ketika usianya menginjak remaja, Arief ingin jadi pengarang dan pelukis terkenal.
Ayahnya, Salam Sutrawan, pengarang novel di kalangan Cina perantauan. Sejak masih kecil, Arief Budiman selalu berada di sampingnya ketika sang ayah sedang mengetik novel. Kecintaan pada sastra pun tumbuh. Arief Budiman€”tadinya bernama Soe Hok Djin€”sering ke Perpustakaan Nasional membaca buku sastra. Cerpennya, €œJoki Anjingku€, dimuat di majalah Mimbar, yang diasuh H.B. Jassin. €œSaya bangga sekali dan ingin jadi pengarang,€ kata Arief. Setelah menjadi mahasiswa Fakultas Psikologi UI, ia menerima hadiah pertama penulisan esei yang diadakan oleh majalah Sastra, 1963.
Tertarik pada gambar-menggambar, ketika sekolah di SMP Kanisius, Arief ikut pelatihan seni lukis di Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional, di bawah bimbingan Zaini, Marhan, Usman Effendi, dan Mardian. €œSejak saat itu saya senang melukis dan mengikuti beberapa pameran,€ kata Arief. Antara lain, Arief pernah pameran sewaktu Indonesia mengadakan ASEAN Games pada tahun 1950-an.
€œKetertarikan saya pada teater tidak disengaja,€ tutur Arief. Kebetulan, markas teater berada di sebelah rumahnya. Liem Tjua Hok atau Teguh Karya adalah temannya sejak kecil. Mereka sering mengobrol sambil berdiri di tembok. Ketika kuliah di Fakultas Psikologi UI, Teguh Karya dan Asrul Sani sering mengajaknya menonton teater. Akhirnya Arief Budiman, selain menulis kritik sastra, juga menulis kritik drama dan teater, antara lain di Budaya Jaya dan Horison.
Arief termasuk konseptor Manifes Kebudayaan yang dilarang Orde Lama. Adik kandung Soe Hok Gie ini juga aktivis demonstran 1966. Karena terampil menulis, setiap demonstrasi, Arief menuliskannya di koran, €œSehingga saya paling dikenal oleh pemerintah walau saya bukan pemimpin gerakan.€ Tahun-tahun berikutnya, Arief aktif demo-demo anti-korupsi. Aksi Gerakan Anti-Taman Mini Indonesia, 1970-an, membawanya ke dalam tahanan Kopkamtib, markas polisi Airud di Tanjungpriok, selama satu bulan. €œSaya diciduk ketika sedang mengikuti seminar tentang komunikasi yang diadakan oleh Fredrich Ebert Stiftung.€
Minat sekolah ke luar negeri menggebu-gebu ketika ia dikeluarkan dari Badan Sensor Film atas perintah Kopkamtib. Sempat menyingkir ke Prancis dan bekerja di Association for Cultural Freedom, Paris, Prancis.
Gagal memperoleh beasiswa Fullbright-Hays Grant karena Universitas Harvard, Berkeley, dan Chicago tidak menerimanya, Arief mendapat sponsor Seymour Martin Lipset sehingga ia bisa masuk ke Harvard University. Maka berangkatlah ia ke Amerika dengan memboyong istri dan kedua anaknya, walaupun beasiswanya hanya untuk dia sendiri. Di sana, istrinya, Sitti Leila Chairani€”teman kuliahnya di Fakultas Psikologi UI€”bekerja sebagai baby sitter, €œDan anak-anak sangat gembira bila ada yang menitipkan bayi di rumah,€ kisah Arief.
Lulus dari Universitas Harvard dengan mengantungi gelar doktor sosiologi, Arief mengajar di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga. Karena ada perbedaan pendapat dengan Yayasan, Arief keluar, lalu mengajar di Universitas Melbourne, Australia.
Arief tak bisa lepas dari kegiatan aktivis. Di tengah cuti panjang akhir 2001 sampai awal 2002, bersama Yayasan Geni, Salatiga, ia membela sapi. Arief menentang tindakan yang tidak €œberperikebinatangan€, yakni sapi-sapi yang hendak dijual diberi minum sebanyak-banyaknya melalui pompa air agar berat daging sapi bertambah. €œBanyak sapi yang mati sebelum disembelih,€ tuturnya.
€œSaya tidak menekan mereka untuk menjadi pintar,€ ujar Arief tentang pendidikan anak-anaknya. €œPrestasi mereka pun biasa-biasa saja.€ Sepakbola olahraganya waktu masih kecil. €œYang menarik dari permainan sepakbola adalah cara menggiring bola, kepandaian memainkan bola dengan kaki, cara berkoordinasi bagaimana cara menjebol gawang lawan dan membutuhkan kerja sama yang baik antarpemainnya,€ ujarnya. Olahraga yang ia geluti di Australia adalah mengejar-ngejar trem. Karena, menurut Arief, hanya trem yang lebih praktis. Tidak pusing-pusing parkir.
|