
Nama : ABDUL RACHMAN RAMLY
Lahir : Langsa, Aceh Timur, 7 April 1927
Agama : Islam
Pendidikan : - Holland Indische School (1943)
- Sekiyuko Jusaisho (kursus dasar tentang minyak) di Pangkalansusu, Sumatera Utara (1943)
- Pusat Pendidikan Infanteri di Bandung
- Pendidikan Militer di Ford Bragg, AS.
Karir : - Boor Meester di Pangkalansusu, Sumatera Utara (1943)
- Polisi Tentara di Langsa (1946-1947)
- Polisi Militer di Bukittinggi (1947-1952)
- Komandan Batalyon dalam Operasi Trikora (1962)
- SUAD II (1963-1964)
- Kopur II
- Atase Militer di Bangkok
- Atase Militer di Hong Kong
- Liaison Officer di KBRI Singapura
- Minister Counsellor KBRI Singapura
- Konsul Jenderal RI di Hong Kong
- Konsul RI di New York
- Deputi V Kabakin
- Dirut PT Timah (1976-1984)
- Dirut PT Pertamina (1984 -- sekarang)
Alamat Rumah : Jalan Sriwijaya Raya 34, Jakarta Selatan
Alamat Kantor : PT Pertamina Jalan Perwira 6, Jakarta Pusat Telp: 353398
347246
303200
|
|
ABDUL RACHMAN RAMLY
Mengawali tugasnya sebagai direktur utama Pertamina, mayor jenderal yang berbadan tinggi tegap ini memberi perintah harian. Sekaligus memanfaatkan waktu untuk berkenalan dengan segenap karyawan. Singkat, tidak lebih dari lima menit, ia antara lain berkata, "Ciptakan manajemen yang mantap, untuk mencapai accountability dan auditibility. Turunkan kebocoran dan penyusutan minyak, dan operasikan kilang-kilang minyak seefektif mungkin. Kemudian, tingkatkan momentum eksplorasi."
Ramly sebelumnya direktur utama PT Tambang Timah, sejak 1976. Ketika ia mulai memegang perusahaan itu, ekspor timah sedang merosot, dihantui ancaman AS yang akan melepas 35 ribu ton cadangan timahnya. Sepanjang 1983, misalnya, nilai ekspor timah cuma US$ 338.542 juta, berada di bawah devisa yang dihasilkan kayu, karet, atau kopi.
Selain itu, PT Tambang Timah didera berbagai kebocoran, mulai manipulasi mata bor sampai pengadaan barang bangunan gedung baru perusahaan itu, di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Langkah pembersihan pertama yang dilakukannya: beberapa pejabat dipecat, dan organisasi perusahaan dibenahi. "Pak Ramly memang tidak segan memecat, sepanjang peraturan membenarkannya," kata Soetopo, bagian humas PT Tambang Timah.
Namun, ternyata, tokoh berkumis tipis ini cukup populer di kalangan bawahan di lingkungannya. Ia beranggapan, "Karyawan merupakan modal utama dalam memajukan perusahaan." Meski selalu tegas, ia selalu pula menjalin hubungan erat dengan pegawainya, seakan dalam suasana keluarga.
Keberhasilan memimpin PT Tambang Timah, mungkin, ditunjang oleh pengalaman bertahun-tahun menjadi diplomat, mulai di Singapura, Hong Kong, dan New York. Ketika harga minyak terus- menerus lesu, rupanya, pilihan jatuh kepadanya, menggantikan Joedo Soembono.Lahir dari keluarga santri, setamat HIS, 1943, ia ikut Sekiyuko Jusaisho, kursus dasar tentang minyak yang dibuka Jepang di Pangkalansusu, kilang minyak di perbatasan Sumatera Utara dengan Aceh. Selesai kursus delapan bulan, ia menjadi mandor pengebor (boormeester) di pertambangan daerah itu.
Satu-satunya anak lelaki dari keluarga opzichter PU di Langsa ini -- tiga saudaranya semua wanita -- kemudian mendaftarkan diri jadi anggota Polisi Tentara di Langsa, 1946. Kariernya berkembang, beroleh pendidikan militer di Pusat Pendidikan Infanteri di Bandung, kemudian di Ford Bragg.
Pada awal 1962, dengan pangkat mayor sebagai komandan batalyon Manokwari, ia terlibat Operasi Trikora menumpas PVK -- pasukan Papua yang memihak Belanda. Semasa Dwikora, ia ikut Operasi Kopur. Sebelum memimpin PT Tambang Timah, Ramly sempat bertugas di Bakin.
Menikah dengan Taty Suryati yang dikenalnya di Bandung, Ramly kini ayah tiga anak. Dinilai berjasa dalam menjalin hubungan dengan Malaysia, Yang Dipertuan Agong negeri itu menganugerahkan gelar "Pahlawan Setia Mahkota" kepadanya, 1983. Dengan gelar itu ia berhak memakai sebutan Tan Sri di depan namanya.
Hampir setahun memimpin Pertamina, ada dua hal yang telah dicapainya. Pertama, untuk Tahun Anggaran 1983/1984, Pertamina mencatat keuntungan Rp 3.269.791 trilyun, sehingga bisa melunasi utang dan bunganya ke Bank Indonesia, sebesar Rp 1.471 trilyun. Kedua, laporan pembukuan dan keuangan dari tahun anggaran yang sama, dianggap "wajar" oleh Badan Pengawas Keuangan Pertamina (BPKP).
Di luar kesibukannya sehari-hari, Ramly menggemari olah raga tenis, pingpong, dan jogging. Tidak suka merokok, makanan kegemarannya "gule" Aceh dan tempe goreng. Di samping itu, "Membaca bagi saya merupakan kewajiban," katanya.
UPDATE:
Setelah tidak menjabat Dirut Pertamina, pada 1988, Ramly diangkat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat. Pensiun sebagai duta besar, pulang dari Amerika, Agustus 1993, AR Ramly ingin istirahat. Hari-harinya ingin dia isi dengan main golf. Tapi, tugas baru menghadang. Ia menjadi Presiden Komisaris PT Astra Internasional. Maka, ia pun harus belajar segala hal yang berkaitan dengan perusahaan itu.
Abdul Rachman Ramly sempat ditunjuk menjadi Koordinator Utama Forum Pertemuan Antar-Asosiasi Perusahaan (FPAP), 1994. Sebuah forum ajang kerja sama untuk menampung, mengusulkan, atau melaksanakan kegiatan-kegiatan yang merupakan kepentingan asosiasi-asosiasi perusahaan terhadap kegiatan-kegiatan yang bersifat lintas sektoral.
Pada Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa, Februari 1997, yang menyusun dewan komisaris baru, AR Ramly menduduki jabatan Wakil Presiden Komisaris.
|